Pertunjukan wayang kertas yang dimainkan Adit, Denis, dan Ucup berubah makin seru ketika mereka membawakan dongeng Si Kancil. Ucup yang benar-benar menghayati perannya sampai membuat suasana terasa tegang, apalagi saat tokoh-tokoh hewan meminta daging yang dijanjikan Kancil. Begitu adegan kejar-kejaran dimulai, teman-teman langsung tertawa karena Ucup memainkannya dengan penuh ekspresi.
Setelah selesai, Ucup masih terbawa suasana dan bilang ingin main wayang lagi besok. Adit mengangguk, tapi mengingatkan mereka untuk membuat wayang kertas baru terlebih dahulu. Bang Sopo yang mendengar antusias mereka kemudian bercerita tentang wayang kulit, pertunjukan asli yang sering digelar di kampung. Anak-anak langsung penasaran dan ingin belajar memainkan wayang sungguhan.
Pak Haji lalu memberikan wayang kulit yang ia punya, dan Bang Jarwo setuju membuat pertunjukan kecil untuk seluruh warga. Anak-anak berlatih sebagai dalang, memainkan cerita tentang para pangeran yang berebut takhta namun akhirnya belajar arti persatuan. Penonton pun terhibur melihat kreativitas mereka.
Amanat: Melestarikan budaya sendiri adalah bentuk cinta pada jati diri, dan berbagi ilmu membuat kebersamaan semakin berarti.

