Sebuah lagu tak selalu dimulai dari melodi. Kadang justru lahir dari perasaan yang belum punya nada. Itulah yang diungkapkan oleh Andi Rianto dalam wawancara terbarunya. Ia membagikan proses kreatif di balik terciptanya Segalanya, lagu yang kini menjadi original soundtrack dari film La Tahzan.
“Dari proses kreatif hingga rasa yang ingin disampaikan lewat setiap nadanya, semuanya dimulai dari satu hal.. perasaan.”
(mdmusic_id, Instagram – 8 Juli 2025)
Penjelasan ini menyentuh titik paling esensial dari penciptaan musik. Bukan rumus, bukan teknis, bukan sekadar aransemen, tapi emosi yang dibiarkan tumbuh secara utuh dan jujur. Andi Rianto tidak merancang lagu ini untuk mengesankan. Ia membiarkannya tumbuh seperti rasa yang belum sempat terucap.
Setiap nada dalam Segalanya mengandung arah dan makna yang tidak dibentuk oleh konsep, melainkan oleh pengalaman perasaan yang ingin diterjemahkan. Ketika seorang komposer memilih menjadikan rasa sebagai fondasi, maka lagu yang dihasilkan bukan hanya terdengar, tapi juga terasa.
OST Segalanya bukan sekadar pengiring narasi. Ia hadir sebagai bagian dari perjalanan batin para tokohnya. Ketika emosi dalam cerita sudah tak cukup dilafalkan lewat dialog, maka nada-lah yang mengambil alih.
Itulah mengapa lagu ini tidak hanya mengisi ruang, tetapi mengisi diam. Karena tidak semua luka bisa dibicarakan, dan tidak semua cinta bisa dijelaskan. Namun semuanya bisa disampaikan melalui nada—yang lahir dari kejujuran rasa.
Proses ini menggambarkan bahwa lagu hebat tidak selalu rumit. Ia hanya butuh satu hal untuk benar-benar mengena: perasaan yang dibiarkan bicara lebih dulu dari pikiran. Dan di sanalah Segalanya mendapat bentuknya.

