Film La Tahzan tidak hanya hadir sebagai tayangan di layar lebar, tetapi juga menjelma menjadi gerakan sosial yang nyata, sebagaimana terlihat dari kegiatan “Lari dari Dosa” yang diselenggarakan bersama warga Depok. Dalam unggahan terbaru akun resmi @latahzanmovie, terekam momen penuh semangat dan kebersamaan antara para pemeran film dengan masyarakat, seluruhnya kompak mengenakan kaus resmi film dan memenuhi area CFD Depok dalam satu gelombang semangat yang serentak.
Caption unggahan menggambarkan situasi dengan nada hangat dan penuh semangat:
“DIKEROYOK WARGA DEPOK 🤣👊🏻 #LariDariDosa bareng cast La Tahzan”
Frasa tersebut bukan dalam arti harfiah, melainkan mencerminkan sambutan hangat dan luar biasa dari warga yang hadir dan berinteraksi langsung dengan para pemain film. Dalam foto yang dibagikan, tampak kerumunan besar mengenakan kaus biru bertuliskan La Tahzan, dengan poster bertuliskan “Team Alina” yang mencolok di tengah-tengah barisan. Semangat kolektif ini memperkuat hubungan antara cerita fiksi dalam film dan audiens yang mengikuti perjalanannya sejak awal.
Acara ini menjadi bukti bahwa La Tahzan bukan hanya cerita di layar, tapi juga hadir sebagai gerakan sosial yang menyentuh masyarakat. Di tengah hiruk pikuk kota dan padatnya rutinitas, kegiatan seperti ini memberikan ruang reflektif tentang tema besar yang diangkat dalam film: cinta, dosa, dan luka. Ketiganya bukan hanya narasi sinematik, tapi juga bagian dari keseharian yang dirasakan semua orang.
Keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas dan mitra lokal, memperkaya dimensi acara tersebut. Dalam caption disebutkan pula:
“Shout out to @fortepilates.id @rad.beaute @truetoskinofficial @cave.id”
Ungkapan ini menunjukkan kolaborasi lintas bidang yang mendukung kesuksesan acara, sekaligus memperlihatkan bahwa proyek ini dirancang secara inklusif dan terbuka terhadap partisipasi dari luar sektor perfilman.
Dengan latar semangat yang tinggi dan waktu penayangan yang semakin dekat—film La Tahzan dijadwalkan rilis pada 14 Agustus 2025—acara ini menjadi momentum penting dalam membangun koneksi emosional yang lebih dalam antara cerita dan penontonnya. Karakter-karakter yang biasanya hanya hadir di layar kini menyatu dalam barisan warga, berlari bersama dalam satu niat simbolik: “lari dari dosa”.
Foto tersebut tak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga bentuk narasi visual bahwa film ini tidak bekerja sendirian. Ia didorong oleh energi masyarakat, dan pada gilirannya akan kembali kepada mereka sebagai cerita yang bisa dinikmati, direnungkan, dan mungkin menjadi cermin kehidupan.

