Ucup dan Kipli terlihat sangat antusias mengikuti balapan kelomang yang mereka adakan sendiri. Dengan penuh semangat, keduanya yakin bahwa keong peliharaannya akan keluar sebagai pemenang. Teriakan dukungan dari teman-teman membuat suasana semakin ramai, hingga akhirnya Ucup berhasil menang. Namun, kemenangan itu justru membawa dilema.
Adit yang melihat aksi balapan itu memberi pandangan berbeda. Menurutnya, kelomang bukanlah hewan untuk dilombakan, apalagi jika tidak dirawat dengan benar. “Kalau gak bisa merawat, lebih baik dilepas ke habitat aslinya,” ujar Adit, memicu kesadaran baru bagi Ucup.
Setelah tahu kelomang darat biasanya tinggal di area berpasir atau semak, mereka pun sepakat melepaskan keong-keong itu di tempat yang mirip dengan habitatnya. Tapi tidak semudah itu bagi Ucup. Ia bahkan sampai bermimpi buruk—kelomangnya berubah jadi raksasa dan mengejarnya! Mimpi itu menyadarkannya: binatang juga makhluk hidup yang harus dihargai.
Dengan penuh tanggung jawab, akhirnya mereka melepaskan kelomang dengan sukarela. Pak Haji pun mengingatkan bahwa hewan bukan mainan, dan tidak boleh disalahgunakan hanya demi hiburan.
Sebagai penutup, anak-anak mengganti balapan keong dengan olahraga lari. Sebuah pesan positif ditanamkan: lebih baik menjaga kesehatan tubuh sambil menjaga makhluk hidup lain.

