Hari itu, panas terik menyelimuti jalanan kampung ketika Bang Sopo dan Bang Jarwo kembali bekerja dengan bemo tuanya yang mulai sering mogok. Bang Jarwo mulai kesal karena perjalanan mereka terhambat, sementara Bang Sopo hanya bisa pasrah sambil terus berusaha sabar. Namun, di tengah perdebatan kecil itu, tiba-tiba Bang Sopo jatuh pingsan. Bang Jarwo panik dan langsung berteriak minta tolong.
Tak lama, warga berdatangan. Adit, Denis, dan Lime ikut membantu membawa Bang Sopo ke rumah. Pak Haji datang menenangkan semua orang, dan mereka sepakat menunggu sampai Bang Sopo sadar. Di tengah keheningan, Bang Jarwo terlihat gelisah. Ia menyesal karena sempat membentak temannya sendiri. Dengan suara lirih ia berkata, “Ya Allah, aku marah tanpa pikir panjang. Padahal dia cuma capek.”
Ketika Bang Sopo akhirnya siuman, suasana menjadi haru. Adit datang membawa obat yang dibeli Lime, dan semua tersenyum lega. Bang Jarwo sadar bahwa setulus apa pun niat bekerja, kesehatan dan persahabatan jauh lebih berharga daripada ambisi pribadi.
Menjelang malam, listrik sempat padam, membuat suasana hening dan canggung berubah jadi hangat. Tawa kecil terdengar, menandakan semuanya kembali seperti semula—penuh keakraban dan rasa syukur atas kesempatan kedua yang diberikan hari itu.

