Film Tenung Soroti Trauma Anak, Relevan dan Menyentuh

Film Tenung Soroti Trauma Anak, Relevan dan Menyentuh

Dikutip dari unggahan akun resmi Tenungfilm, film ini tak hanya menyuguhkan kisah horor, tapi juga menggugah kesadaran tentang trauma pada anak. Dalam rangkaian fotonya, terlihat seorang anak perempuan dalam ekspresi diam penuh tanya—dan justru dari diam itulah cerita mencekam bermula.

Wajah sendu yang termenung di atas kasur menjadi pembuka—judul visualnya jelas: “Trauma Anak: Ini Tanda-Tanda Kalau Anak Punya Trauma.” Bukan tanpa alasan, karena gambar berikutnya memperlihatkan sang anak berbaring di kolong dengan mata kosong dan tubuh menyusut. Di sanalah tertulis satu kata besar: Sulit Fokus, diiringi penjelasan bahwa anak yang trauma kerap mengalami kesulitan berkonsentrasi saat menjalani aktivitas sehari-hari.

Lalu dalam frame lain, ekspresi wajahnya mulai berubah. Perubahan Emosi dan Perilaku menjadi sorotan. Ia digambarkan mudah menangis, tampak murung, atau sesekali menunjukkan ketakutan yang tidak biasa. Ini adalah bentuk trauma yang kerap tidak terlihat kasat mata—tapi jelas tertanam di batin.

Visual terakhir menunjukkan ekspresi anak yang tampak waspada dan penuh kecurigaan. Judul yang menyertainya: Agresif, menandakan trauma juga bisa menjelma dalam sikap menyerang, membalas dendam, atau mengganggu orang lain. Dalam konteks film Tenung, semua ekspresi itu menjadi bagian dari cerita besar yang membalut horor dengan empati.

Melalui pendekatan visual yang kuat dan narasi yang menyentuh, Tenung tak hanya menegangkan—tapi juga menohok kesadaran bahwa anak-anak pun bisa menyimpan luka yang tak kasat mata. Mereka tidak selalu butuh kata-kata—cukup dilihat, dirasa, dan dipahami.

Tinggalkan BalasanCancel reply