Dikutip dari unggahan akun resmi latahzanmovie, sutradara Hanung Bramantyo berbicara tentang tantangan emosional yang dihadapinya ketika menerima proyek film La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka…. Hanung menyebut film ini memiliki formula baru yang belum pernah ia garap sebelumnya, baik secara struktur cerita maupun pendekatan emosional terhadap karakter.
“Pada saat saya pertama kali ditawarin ini, saya sempat berpikir dua kali. Karena bukan hanya temanya, tapi cara penyampaiannya benar-benar berbeda,” ungkap Hanung dalam video yang turut diunggah.
Film ini menjanjikan cerita dengan pendekatan berbeda—bukan hanya dari sisi teknis, namun juga dalam membentuk empati mendalam terhadap para tokohnya. Alina, karakter sentral, menjadi simbol dari pergulatan batin yang jujur, mewakili banyak suara perempuan yang tak terdengar di balik kata “bahagia”.
Bersama MD Pictures dan produser Manoj Punjabi, Hanung menghadirkan karya yang ingin menantang selera narasi pasar, menyodorkan cerita yang menyentuh, reflektif, dan tak sekadar sensasional. Ini adalah bentuk keberanian sinema untuk keluar dari pola.
Film La Tahzan akan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025, dan digadang menjadi salah satu film paling relevan tahun ini.

