Geng Jumbo, film animasi karya anak bangsa, sukses besar di layar lebar. Dengan capaian spektakuler lebih dari 10.162.551 penonton, film ini resmi menempati posisi teratas box office Indonesia. Tak hanya sekadar pencapaian angka, kesuksesan ini menjadi penanda bahwa genre animasi di Tanah Air mulai memasuki era baru—era di mana kartun lokal bisa bersaing dengan drama, horor, hingga komedi sekalipun.
Melalui unggahan Instagram-nya, produser Manoj Punjabi membagikan rasa bangganya:
“Ini adalah kebanggaan untuk film Indonesia, sebuah prestasi baru bukan hanya drama, komedi dan horor. Animasi telah memberikan gebrakan untuk box office Indonesia.”
Pernyataan itu tak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya tim kreatif, tapi juga menjadi sinyal positif bagi ekosistem perfilman nasional. Selama ini, film animasi sering dianggap sebagai genre pelengkap. Namun Geng Jumbo membuktikan sebaliknya—ia menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi nomor satu.
Dari sisi visual, Geng Jumbo menampilkan karakter-karakter dengan gaya animasi khas yang mengingatkan publik pada Adit & Sopo Jarwo, namun dengan cerita dan universe baru yang lebih luas. Ada banyak elemen edukatif, petualangan, serta nilai-nilai keluarga dan kebersamaan yang membuat film ini cocok dinikmati oleh semua umur.
Tak heran jika banyak penonton menilai Geng Jumbo sebagai film yang “lucu, hangat, dan penuh makna.” Bahkan komentar publik pun bermunculan di media sosial, salah satunya menyebut: “Pak Manoj style animasinya kayak Adit Sopo Jarwo”, merujuk pada visual yang sudah dekat di hati penonton.
Kesuksesan ini tidak hanya soal hiburan, tapi juga tentang identitas. Ketika film lokal bisa merebut hati lebih dari 10 juta orang, itu berarti kita tengah menyaksikan lahirnya era baru dalam perfilman Indonesia—di mana animasi tak lagi berada di pinggir panggung, melainkan berdiri gagah di tengah sorotan utama.

