Suasana Minggu pagi di Kampung Karet Berkah terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena udara yang cerah, tapi juga karena acara “Ngopi Sore” yang sudah dinanti warga. Bang Jarwo dan Sopo sibuk menyiapkan barang-barang pesanan, sementara Pak Haji dan warga lainnya bersiap menikmati momen istimewa.
Yang menarik, sore itu bukan sembarang kopi yang disuguhkan. Ada kopi Sidikalang dari tanah Batak, kopi Jawa dari pegunungan Ijen, dan bahkan kopi Papua dari Pak Surya. Setiap jenis kopi punya karakter unik, mulai dari yang halus, rendah asam, sampai aromanya yang khas.
Namun suasana jadi heboh saat ternyata salah satu kopi belum sempat diseduh. Adit bergegas mengantar kopi untuk ayahnya, tapi Bang Jarwo malah mengambil alih demi efisiensi—tentu saja dengan gayanya yang khas.
Tidak berhenti sampai di situ, Sopo juga ikut tampil dengan “teh spesial” buatannya. Tapi begitu dicicip, reaksi warga justru bikin gelak tawa: pahitnya luar biasa! Sopo berusaha membela diri, katanya teh pahit bisa bikin hidup manis.
Momen ini menunjukkan betapa sederhana namun hangatnya kebersamaan di kampung. Mulai dari candaan ringan sampai kebiasaan minum kopi bareng, semuanya menjadi cara tersendiri untuk mempererat persahabatan. Minggu pagi pun terasa lebih nikmat, apalagi kalau dibikinin kopi oleh orang terdekat.

