Di dalam sebuah ruang yang tenang, sosok Asih duduk menghadap ke samping. Pandangannya lurus, tidak terganggu, dan penuh konsentrasi. Jilbab berwarna cokelat yang ia kenakan membingkai wajahnya yang tampak menunggu sesuatu—atau seseorang. Tak ada aktivitas lain di sekitarnya. Hanya suasana hening yang bicara.
“POV Mbak Asih lagi nunggu Rere pulang sekolah”
— dari unggahan resmi @latahzanmovie
Dalam dua potret yang ditampilkan, Asih tampak duduk dengan posisi tubuh yang tenang. Tangan diletakkan rapi di atas pangkuan, sorot matanya fokus, namun tidak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sudah terbiasa menanti—bukan karena tidak penting, tapi karena begitu berharga.
Tidak ada informasi tambahan di sekitar gambar yang menunjukkan tempat, waktu, atau siapa saja yang ada di rumah. Hanya Asih, diam, namun terasa hidup. Suasana ini memberikan kesan bahwa film La Tahzan menyisipkan sisi kehidupan yang intim, penuh ruang sunyi, dan menonjolkan hubungan antarmanusia tanpa perlu banyak suara.
Tanggal rilis sudah diumumkan: 14 Agustus 2025. Film ini akan tayang eksklusif di bioskop, dan melalui poster-poster yang dibagikan, La Tahzan menunjukkan bahwa kisah yang ditawarkan bukan sekadar cerita besar, tetapi juga potret momen kecil yang emosional dan jujur.
Satu cuplikan seperti ini cukup memberi kesan: bahwa film ini akan mengajak penonton memahami makna menunggu, makna hadir, dan makna pulang—tanpa harus mengatakannya dengan kata-kata.

