Sopo akhirnya memutuskan mengambil cuti untuk pulang kampung. Rindu pada Si Mbok yang telah lama tak ditemuinya tak lagi bisa ditahan. Ia mengemasi tabungan yang dikumpulkan perlahan, dan dengan hati-hati menyusun langkah menuju terminal. Meski sederhana, rencananya disambut tulus oleh Adit dan Pak Dasuki yang langsung ikut membantu.
Bang Jarwo, seperti biasa, sempat mengeluh. Di tengah rutinitas yang melelahkan dan merasa tidak dihargai, ia merasa iri—mengapa Sopo bisa cuti dan ia tidak. Tapi semua itu berubah ketika melihat betapa besar niat dan pengorbanan Sopo, bahkan ia harus menyerahkan uang ongkosnya untuk kebutuhan mendesak orang lain. Sikap tulus itu justru membuktikan bahwa kebaikan akan selalu kembali dengan cara yang tak terduga.
Ketika akhirnya Sopo tiba, ia malah disambut kejutan: Si Mbok justru lebih dulu datang menemuinya. Pelukan haru pun pecah, menggambarkan betapa besar rindu yang terpendam. Tangis dan tawa berbaur menjadi satu dalam momen hangat yang tak terlupakan.
Pertemuan ini menjadi pengingat, bahwa kasih sayang keluarga tak pernah mengenal jarak. Dan bahwa keikhlasan, meski tanpa pamrih, tak akan pernah sia-sia.
Episode ini menyentuh hati, menghadirkan kehangatan keluarga dalam bentuk yang paling murni—kerinduan yang akhirnya menemukan jalannya untuk pulang.

