Cerita kali ini dimulai ketika Ucup panik karena kehilangan peci kesayangannya. Ia berusaha mengingat kembali di mana terakhir kali mengenakan peci tersebut. Sambil terus mencari, Ucup mencoba menenangkan diri, meski dalam hatinya cemas kalau-kalau peci itu benar-benar hilang. Sang bapak mencoba menenangkan dengan janji akan membelikan yang baru jika peci lama tak juga ketemu. Namun Ucup tetap gigih untuk mencari sendiri.
Pencarian membawanya ke beberapa tempat—mulai dari rumah Adit, musala, hingga warung Babacang. Saat berada di warung, muncullah kejadian yang membuat suasana jadi kocak sekaligus menegangkan. Tiba-tiba ada jangkrik yang melompat-lompat dan membuat Bang Jarwo menjerit ketakutan. Ucup yang tadinya serius mencari peci, justru harus berhadapan dengan jangkrik yang sulit ditangkap. Dengan bantuan Sopo, Ucup akhirnya berhasil menangkap jangkrik itu dan menaruhnya di wadah kecil.
Ketika situasi kembali tenang, barulah terungkap bahwa peci Ucup ternyata ada di dalam bemo milik Bang Jarwo. Betapa gembiranya Ucup saat peci itu kembali ke tangannya. Tidak hanya peci yang ditemukan, ia juga mendapat pelajaran baru tentang merawat makhluk kecil seperti jangkrik. Bang Haji bahkan menasihati bahwa jangkrik bisa dijaga sebentar, diberi makan, lalu dilepaskan kembali agar bisa hidup bebas di alam.
Akhir cerita ditutup dengan wajah gembira Ucup yang kini tidak hanya bahagia karena pecinya kembali, tetapi juga karena punya teman kecil baru untuk diajak bermain. Pesan moralnya: jangan mudah putus asa saat kehilangan sesuatu, dan selalu pelihara rasa sayang terhadap makhluk hidup di sekitar kita, sekecil apa pun itu.

