Ucup datang tergesa-gesa ke rumah Kak Adit. Ia tampak cemas karena kehilangan sesuatu yang penting—pecinya. Kak Adit dengan tenang menenangkan Ucup dan menyarankan agar ia mencoba mengingat kembali di mana terakhir kali peci itu dipakai.
Setelah berpamitan, Ucup pulang dan menceritakan kejadian itu kepada Bapaknya. Sang Bapak mencoba menenangkan dan bahkan menawarkan peci lamanya untuk sementara. Walau sedikit kebesaran, Ucup tetap memakainya dengan bangga.
Hari berganti, Ucup tetap berusaha mencari peci miliknya. Ia sempat menduga pecinya tertinggal di musala, bahkan sempat mengingat ucapan Pak Aji tentang salat yang mengajarkan disiplin.
Tak menyerah, ia lanjut mencari ke warung. Di sana, ia justru disibukkan membantu menangkap jangkrik. Beruntung, Bang Sopo datang dan membantu Ucup naik untuk menangkap jangkrik tersebut. Namun saat itulah Ucup melihat sesuatu…
Pecinya!
Ternyata peci Ucup terbawa di dalam bemonya Bang Jarwo. Ia langsung mengejar dan akhirnya berhasil mendapatkan kembali barang kesayangannya. Raut wajah Ucup berubah gembira.
Di akhir cerita, bukan hanya peci yang ditemukan, Ucup juga mendapat peliharaan baru: seekor jangkrik. Bang Haji bahkan memberinya rumah kecil untuk sang jangkrik. Ucup senang, dan berjanji akan merawatnya dengan baik.

