Pagi yang cerah di Kampung Karet Berkah dipenuhi tawa Adel dan teman-temannya. Mereka sedang asik bermain gelembung sabun di halaman rumah. Gelembung-gelembung warna-warni melayang di udara, berkilau terkena sinar matahari. “Kak Adit, aku mau gelembung yang besar lagi!” seru Adel riang. Namun, sabunnya habis. Ucup yang selalu penuh akal pun berkata, “Tenang aja, Kak! Bapak pernah ngajarin, sabun cuci piring juga bisa buat bikin gelembung!”
Dengan penuh semangat, mereka mencampur air dan sabun, lalu membuat alat sederhana dari kawat dan bambu. Tak lama, gelembung besar pun berhasil mereka buat — melayang lembut ke langit biru. Semua tertawa kagum, terutama Adel yang berlari ke sana kemari mencoba menangkap gelembung-gelembung itu. Keceriaan sederhana itu menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal kecil, asal dilakukan bersama dengan hati.
Namun, keseruan mereka sempat membuat halaman jadi licin. Bang Jarwo yang lewat hampir terpeleset. Setelah menegur, ia justru ikut tertawa melihat wajah polos anak-anak itu. “Ya sudah, tapi hati-hati, ya! Jangan sampai jatuh lagi,” katanya sambil ikut meniup gelembung sabun.
Hari itu pun berubah menjadi momen hangat penuh tawa dan warna — sebuah pengingat bahwa masa kecil adalah waktu yang paling indah untuk belajar, berbagi, dan menikmati kebersamaan.

