Hari itu, rumah terasa cukup riuh karena ulah si kecil Adel. Sejak pagi, ia terus rewel. Tangisnya tak juga berhenti, bahkan setelah Bunda membujuk dengan berbagai cara—dari menawarkan susu hingga mengajaknya keluar rumah. Tapi namanya juga anak kecil, kadang sulit ditebak maunya.
Begitu mereka berada di luar rumah, Bunda pun menitipkan Adel pada Adit. “Main sama Kak Adit dulu ya,” katanya sambil ingin lanjut memasak. Adit pun menerima titipan kecil ini dengan sabar. Ia mencoba berbagai cara agar Adel bisa tertawa: dari permainan ciluk-ba sampai guyonan ringan. Semuanya dilakukan untuk satu hal—membuat sang adik kecil berhenti menangis.
Sayangnya, tangisan Adel belum juga reda. Ia rupanya ingin sesuatu yang lebih: jalan-jalan keliling kampung. Karena Adit juga memiliki tugas sekolah, ia akhirnya meminta bantuan pada Bang Jarwo. Awalnya, Bang Jarwo enggan karena sibuk, tetapi setelah diyakinkan bahwa ini hanya sebentar, ia pun bersedia membantu—dengan syarat, nanti Adit yang menjelaskan ke Bunda.
Bang Jarwo lalu mengajak Adel berkeliling dengan motornya. Lucunya, di tengah perjalanan, warga justru mulai menitipkan belanjaan. Mulai dari terigu lima kilo hingga beras satu karung, semuanya diberikan lengkap dengan uang dan pesan, “Kembaliannya buat Bang Jarwo aja ya.” Sontak Bang Jarwo senang, karena merasa diuntungkan. Tapi ada satu masalah: bensin motornya hampir habis!
Benar saja, di tengah jalan, motor mogok. Bang Sopo mengingatkan, tapi Bang Jarwo justru merasa kesal. “Katanya sabar, Bos,” ejek Bang Sopo. Warga pun mulai resah karena titipan mereka belum juga sampai. Bahkan ada yang menagih langsung saat Adel telah dikembalikan ke Bundanya.
Amanat dari cerita ini jelas: sekecil apapun tugas yang diterima, tetap harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Bang Jarwo awalnya senang karena merasa dapat komisi tambahan. Tapi saat mulai ditagih dan dituntut menyelesaikan janji, barulah ia merasa tertekan. Pak Haji juga menegaskan, “Kalau janji, jangan cuma mikir duitnya. Yang penting tanggung jawabnya.” Ucapan ini menjadi puncak teguran halus untuk Bang Jarwo yang sempat menunda-nunda.
Untungnya, semua selesai juga meskipun dengan beberapa drama kecil. Barang belanjaan berhasil diantar, uang kembali, dan Adel pun akhirnya ceria setelah diajak jalan-jalan. Episode pun ditutup dengan lagu khas serial ini: “Ayo berani jangan berhenti, kita raih mimpi, semua tantangan menjadi ringan karena persahabatan.”

