Pagi itu, warga Kampung Berkah berburu tahu Sumedang yang sedang langka. Bang Jarwo termasuk yang beruntung karena berhasil mendapatkan cukup banyak tahu dari Kang Ujang. Alasannya tak lain karena ada pesanan dari berbagai warga, salah satunya dari Pak Dasuki yang dititipi Bude untuk membeli tahu dengan rasa khas.
Namun, ada yang janggal. Warung tahu justru tutup, dan Bang Jarwo malah menawarkan tahu di lapangan. Ia menyebut harga tahu Sumedangnya “hanya” Rp30.000 untuk tiga potong. Pak Dasuki yang tadinya berminat langsung mundur pelan. “Mohon maaf deh, Bang Jarwo. Kayaknya saya enggak jadi ambil tahu-nya dulu,” ucapnya dengan kecewa.
Sementara itu, Adit bersama Pak Haji juga mencari tahu Sumedang ke kampung sebelah. Mereka bertemu dengan warga lain yang ikut berburu tahu, tapi stoknya memang sudah habis. Ketika akhirnya melihat Bang Jarwo berdagang di pinggir jalan, Adit langsung menyambut dengan semangat. Tapi semangat itu langsung berubah menjadi kaget saat mendengar harga: “Rp30.000 Bang? Untuk satu bungkus?”
Kekecewaan mulai muncul dari berbagai warga. Bu Salamah, Pak Dasuki, hingga Pak Haji sendiri ikut menegur. Bang Jarwo mencoba membela diri dengan alasan bisnis. “Namanya juga usaha, Bang. Ya harus cari untung, toh!” Tapi Pak Haji mengingatkan bahwa dalam berdagang, untung itu penting, tapi etika dan tanggung jawab sosial lebih utama.
Sadar telah salah langkah, Bang Jarwo akhirnya menyerahkan semua tahu miliknya kepada Adit. Ia diminta untuk membagikan secara merata kepada warga yang sempat ditolak atau kecewa karena harga terlalu tinggi. Adit pun membagi tahu itu kepada Bu Salamah, Pak Dasuki, dan beberapa orang lain yang membutuhkan.
Amanat dari episode ini sangat kuat: mencari untung sah-sah saja, tapi jangan sampai melupakan keadilan dan kepantasan.
Bang Jarwo, yang awalnya ngotot mempertahankan harga tinggi demi keuntungan pribadi, akhirnya mengakui kesalahannya. Ia bahkan sempat berjalan menjauh sambil merenung, diam, dan kemudian meminta maaf. Aksi itu menunjukkan bahwa siapa pun bisa khilaf, namun yang terpenting adalah keberanian untuk mengakui kesalahan.
Cerita ditutup dengan lagu semangat khas Adit & Sopo Jarwo: “Ayo berani jangan berhenti, kita raih mimpi, semua tantangan menjadi ringan karena persahabatan.” Lagu tersebut kembali memperkuat nilai solidaritas dan berbagi, yang menjadi benang merah dalam episode ini.

