Hari itu terasa cerah dan menyenangkan. Adit, Denis, Devi, dan teman-teman lainnya memulai hari dengan penuh semangat, apalagi saat Bunda datang membawa Kiko Icetick yang segar dan menggoda. Varian rasa seperti stroberi, anggur, nanas, jeruk, dan melon membuat semua anak tak sabar menikmatinya.
Namun setelah menyegarkan diri, permainan dimulai. Bang Sopo yang kebetulan ada di lokasi, dipercaya untuk jadi penjaga saat mereka bermain petak umpet. Satu per satu anak-anak mulai mencari tempat persembunyian. Devi terlihat ragu karena takut bersembunyi sendirian, tapi semua tetap berjalan sesuai rencana. Sopo mulai menghitung, “Satu… dua… tiga…”
Suasana jadi kacau ketika Devi malah bersembunyi di dekat kandang ayam, membuatnya gatal dan jijik. Sementara itu, Adit dan yang lain mulai menyebar, tapi tak lama kemudian, semuanya terlupa oleh urusan masing-masing. Adit kebingungan mencari teman-temannya, dan Devi malah memutuskan pulang karena takut.
Di tengah kekacauan itu, Bunda mendatangi Adit sambil membawa Adel dan memintanya menjaga sang adik sebentar. Adit setuju, tapi konsentrasinya untuk mencari teman-temannya jadi terpecah.
Bang Sopo yang tetap sabar mencari anak-anak akhirnya menyadari bahwa petak umpet ini sudah keterlaluan lamanya. Dan benar saja—anak-anak satu per satu muncul dan minta maaf. Adit, Denis, Devi semua merasa bersalah karena lupa aturan main.
Namun momen mendadak menjadi serius saat mereka menyadari satu hal: Kipli belum juga terlihat.
Suasana langsung berubah tegang. Semua memanggil, “Kipli! Kipli! Kipli!” dengan nada cemas. Tak ada jawaban, dan wajah mereka mulai panik. Petak umpet yang awalnya seru kini justru bikin mumet semua orang.
Kisah ini memberi pelajaran penting bahwa bermain harus tetap dalam aturan dan tanggung jawab. Jika ingin melakukan hal lain, sebaiknya berpamitan terlebih dahulu agar tak membuat cemas teman-teman.

