Adit & Sopo Jarwo | EE190 Jago Congklak Jangan Congkak

Hari itu suasana rumah Adit dipenuhi keceriaan. Bunda baru saja membawa Yoho Ice dengan berbagai rasa buah yang segar—melon, jeruk, hingga anggur. Adit, Ucup, dan teman-temannya pun langsung bersemangat menikmatinya. Setelah itu, perhatian mereka beralih pada sebuah permainan tradisional yang sudah lama tidak dimainkan, yaitu congklak.

Adit mengajak Ucup untuk ikut bermain, sementara Bang Sopo yang awalnya ragu akhirnya juga bergabung. “Sekalian belajar berhitung ya, Bang Sopo,” ucap Adit, mengingat pesan Pak Haji bahwa berhitung adalah bekal penting dalam hidup. Sambil bermain congklak, mereka tidak hanya melatih kecerdasan, tetapi juga belajar tentang berbagi dan kesabaran.

Ucup yang masih belajar berhitung tampak serius, dan Adit dengan sabar membimbingnya. Bang Sopo pun ikut menghitung biji congklak satu per satu, hingga akhirnya ia bisa menjawab soal hitungan sederhana dengan lebih percaya diri. Bahkan, permainan congklak ini membuat suasana semakin akrab karena semua saling mendukung.

Di tengah permainan, Adit sempat pamit untuk membantu Bunda membeli gula dan terigu. Bang Sopo yang sedang asik berhitung tetap mendampingi Ucup, memastikan bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara menyenangkan. Sementara itu, Bang Jarwo tiba-tiba muncul dan merasa curiga karena beberapa barang belanjaan berkurang jumlahnya. Awalnya ia mengira ada yang salah hitung, namun setelah dijelaskan ternyata memang sudah diambil Adit sesuai kebutuhan.

Bang Jarwo yang biasanya mudah marah akhirnya ikut penasaran dengan permainan congklak. Ia meminta untuk diajari, dan dengan cepat bisa memahami cara bermain. Dari sini terlihat bahwa siapa saja bisa belajar, asalkan mau membuka diri. Bahkan Bang Jarwo yang terkenal keras kepala bisa menikmati permainan sambil memahami makna berbagi.

Hidup memang sering kali mengajarkan kita lewat hal-hal kecil. Dari congklak, anak-anak belajar berhitung, melatih kecerdasan, serta menumbuhkan kebiasaan berbagi. Dari candaan kecil, mereka juga belajar untuk tidak mudah congkak ketika sudah bisa. Sebab kemampuan seharusnya membuat seseorang rendah hati, bukan justru meninggikan diri.

Pada akhirnya, permainan congklak yang sederhana berubah menjadi pelajaran hidup yang penuh arti. Semua gembira, tidak ada yang merasa kalah, karena inti dari permainan ini adalah kebersamaan dan kebahagiaan. Pesan moral yang bisa diambil adalah: kepandaian bukanlah alasan untuk bersikap congkak, melainkan untuk semakin rendah hati dan bermanfaat bagi orang lain.

Tinggalkan BalasanCancel reply