Pagi hari berubah panik saat bemo Bang Jarwo tiba-tiba mundur sendiri karena lupa narik rem tangan. Untungnya, tidak ada yang tertabrak, tapi Bang Jarwo dibuat pusing tujuh keliling.
Di sisi lain, Adit dan Denis sarapan Energen sebelum berangkat ke lapangan. Ucup yang sudah menunggu cukup lama tetap sabar, walau sedikit kesal karena Adit telat datang. Tapi Adit punya alasan—dia baru selesai bantu dorong bemo mogok.
Daripada kesal, mereka akhirnya main pesawat kertas bersama Eyang. Serunya, Eyang mengajarkan bahwa bemo dan pesawat punya kesamaan: butuh daya dorong dan keseimbangan. Sementara itu, warga yang menunggu pesanan Energen mulai gelisah karena belum juga datang.
Meski penuh kekacauan, semuanya diakhiri dengan kerja sama dan tawa. Persahabatan jadi kunci, karena di kampung ini, suka duka selalu dihadapi bareng-bareng.

