Adit dengan semangat berangkat ke hutan kota untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Ia ingin mengumpulkan berbagai jenis daun sebagai bahan laporan. Tapi sebelum pergi, Bang Jarwo sempat menceritakan pengalamannya yang penuh ketegangan saat dulu tersesat di hutan kota. Cerita itu menimbulkan rasa khawatir, tapi Adit tetap melanjutkan niatnya.
Waktu terus berjalan, namun Adit tak kunjung kembali. Kekhawatiran mulai muncul di wajah Bunda hingga akhirnya ia menanyakan Adit kepada Bang Jarwo. Seketika, Bang Jarwo tersadar bahwa ceritanya mungkin telah menakut-nakuti Adit terlalu dalam, hingga membuatnya bingung atau bahkan tersesat.
Tanpa membuang waktu, Bang Jarwo dan Sopo segera menuju hutan kota untuk mencari Adit. Mereka menyusuri semak dan danau, sambil memanggil-manggil namanya. Ketika akhirnya Adit ditemukan dalam keadaan ketakutan, Bang Jarwo langsung memeluknya dan meminta maaf.
Pesan yang ingin disampaikan oleh cerita ini adalah:
kadang cerita yang terlihat sepele bisa berdampak besar pada orang lain, terutama anak-anak. Menjaga ucapan dan memberikan ketenangan jauh lebih baik daripada menanamkan rasa takut.
Bang Jarwo menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan lagi menyebarkan cerita tanpa kepastian yang hanya membuat resah. Ia mengakui niatnya sebenarnya hanya ingin membuat suasana seru, tetapi kini ia belajar bahwa tanggung jawab terhadap cerita juga penting.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa meskipun persahabatan penuh dengan canda dan cerita, empati dan kehati-hatian tetap harus dijaga agar tidak menimbulkan luka pada hati yang lain. Cerita sederhana ini menyentuh dengan caranya sendiri—tentang penyesalan, kejujuran, dan niat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

