Hari itu kampung mendadak panik ketika Pak Sanip terpeleset di atas genteng saat membantu Bu Salamah memperbaiki atap bocor. Ia berusaha menyeimbangkan diri, namun tubuhnya gemetar karena takut ketinggian. Di bawah, Ucup dan teman-temannya hanya bisa menatap cemas sambil memanggil-manggil ayahnya.
“Ya Allah, selamatkan Bapak Ucup,” doa Adit dan Denis sambil menengadah ke langit. Tak lama, Bang Jarwo dan Sopo datang berlari. Dengan sigap, mereka berusaha menolong. Sopo memegang tangga sementara Jarwo naik ke atas, menenangkan Pak Sanip agar tidak panik dan bergerak perlahan.
Suasana semakin menegangkan saat genteng mulai bergeser, tapi dengan keberanian dan doa semua warga, Pak Sanip akhirnya berhasil turun dengan selamat. Semua bersyukur, dan suasana tegang berubah jadi haru.
Meskipun genteng rusak, hati semua orang terasa lega. Ucup memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca, bersyukur karena keselamatan jauh lebih berharga dari apa pun. Dari kejadian itu, mereka belajar bahwa setiap musibah bisa dilalui dengan doa, gotong royong, dan kasih sayang antarwarga.

