Adit, Ucup, dan Denis belajar memainkan egrang batok, permainan tradisional yang dibuat dari batok kelapa dan tali. Ucup yang sudah lebih dulu bisa berjalan di atas egrang mengajarkan Denis cara menjaga keseimbangan, sementara Adit terus memberi semangat agar Denis tidak menyerah meski beberapa kali hampir terjatuh.
Keseruan semakin bertambah ketika Pak Haji dan Babacang ikut mencoba bermain egrang. Keduanya saling adu kecepatan dan keseimbangan layaknya pertarungan seru yang menghibur anak-anak. Namun, Pak Sanip mengingatkan agar mereka tidak terlalu asyik bermain hingga anak-anak kehilangan waktu untuk menikmati permainan sebelum waktu Magrib tiba. Amanat: Permainan tradisional bukan hanya menghibur, tetapi juga melatih keseimbangan, keberanian, sportivitas, serta mengajarkan pentingnya berbagi kesempatan dan menggunakan waktu dengan bijak.

