Hari itu Bunda mengundang Kang Ujang ke rumah untuk belajar membuat varian baru bakso. Adit, Ucup, Bang Sopo, dan si kecil Adel pun ikut membantu. Suasana dapur jadi ramai dan penuh tawa. Semua bersemangat mencoba resep baru — mulai dari bakso telur, bakso urat, sampai bakso polos.
Namun, tingkah lucu Adel membuat proses memasak jadi lebih seru. Ia sempat menumpahkan tepung dan memainkan adonan bakso, tapi malah menciptakan bentuk unik yang pipih seperti kue. Adit dan Ucup membantu menyiapkan bahan, sementara Kang Ujang dengan sabar mengajari cara mencampur bumbu dan menggulung adonan hingga bulat.
Ketika semua bakso matang, aroma gurihnya menyebar ke seluruh rumah. Mereka mencicipi satu per satu, dan ternyata semua suka — terutama Adel yang bangga karena bakso buatannya justru paling enak walau bentuknya gepeng. Bunda pun memberi ide agar bakso pipih itu dijadikan menu baru dengan nama “Bakso Gepeng”.
Hari itu, mereka belajar bahwa kreativitas bisa muncul dari kesalahan kecil, asalkan dilakukan dengan semangat dan kebersamaan.

