Rizal Mantovani, sosok sutradara kawakan di dunia perfilman Tanah Air, tampil penuh percaya diri di hadapan awak media dan para undangan dalam momen pemutaran film Tenung di bioskop. Dalam sebuah unggahan Instagram dari akun @tenungfilm, Rizal menyampaikan bahwa ini adalah kali pertama dalam hidupnya menonton langsung hasil karyanya bersama penonton umum di layar bioskop. Sebuah pernyataan yang mengejutkan, mengingat panjangnya daftar film-film populer yang sudah pernah ia sutradarai.
“Saya baru pertama kali nonton bareng film saya di bioskop seperti ini,” ungkap Rizal di tengah red carpet gala. Ucapannya disambut tepuk tangan meriah dan penuh antusias dari pengunjung. Wajahnya terlihat santai namun jelas memancarkan rasa bangga atas film terbarunya.
Dalam video yang menyertai unggahan tersebut, Rizal tampak berdiri gagah mengenakan jas hitam dan topi hitam bertuliskan “Tenung”, selaras dengan latar belakang poster film. Sosoknya ditampilkan dalam format yang mengesankan—dengan caption besar bertuliskan “Wajah Baru Film Horor Indonesia”. Meski Rizal Mantovani bukanlah nama baru di genre horor, cara promosi ini menunjukkan bahwa film Tenung memang hadir dengan positioning yang berbeda dan segar. Ia seolah dihadirkan kembali ke dunia horor dengan pendekatan yang lebih intens dan sinematik.
Penampilan Rizal dalam acara ini tidak hanya menjadi simbol kehadiran sang sutradara, tetapi juga menjadi penguat atmosfer misterius dan dramatis yang ingin disampaikan oleh film Tenung itu sendiri. Ia bukan hanya hadir sebagai pembuat film, melainkan juga sebagai penonton dan saksi langsung bagaimana reaksi audiens terhadap karya horor terbarunya.
Sebagai informasi, Tenung saat ini sedang tayang di bioskop dan telah mencuri perhatian banyak penggemar film horor lokal. Digarap bersama Risa Saraswati sebagai penulis cerita, dan diproduksi oleh MD Pictures, film ini mengusung kisah keluarga, trauma, dan energi spiritual yang gelap dalam kemasan sinematik yang memikat.
Rizal Mantovani, lewat pengalamannya malam itu, memberikan makna baru bagi peran seorang sutradara. Ia hadir bukan hanya di balik layar, tapi juga menjadi bagian dari atmosfer yang dibangun di dalam bioskop. Sebuah pertemuan yang jarang terjadi, namun sangat menyentuh.

