Suatu pagi yang sibuk, Bang Jarwo ditugaskan membantu persiapan acara warga. Dengan semangat berlebihan, ia memaksa Kang Ujang menyiapkan bakso lebih cepat agar semuanya segera selesai. Namun, karena terburu-buru dan kurang hati-hati, api dari kompor yang digunakan tiba-tiba membesar dan menyulut kebakaran pada gerobak bakso. Warga pun panik dan berlarian mencari bantuan.
Adit dan teman-temannya segera memanggil orang dewasa, sementara Pak Haji datang untuk membantu memadamkan api. Beruntung, api cepat dipadamkan sebelum menjalar lebih luas, tapi gerobak Kang Ujang sudah hangus terbakar. Rasa bersalah membuat Bang Jarwo terdiam. Ia menyadari bahwa kecerobohannya telah merugikan orang lain.
Warga sempat marah, tapi suasana mencair ketika Kang Ujang dengan sabar memaafkan. Dari kejadian itu, semua belajar bahwa setiap tindakan harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa, karena niat baik tanpa kehati-hatian bisa membawa bencana. Bang Jarwo pun berjanji untuk tidak lagi bertindak ceroboh dan akan mengganti kerugian Kang Ujang sebagai bentuk tanggung jawab dan penyesalan tulusnya.

