Kesibukan warung mendadak terganggu ketika Bang Jarwo menerima sebuah surat dari seorang perempuan yang membuatnya salah paham. Dari cara pemberian yang diam-diam dan senyum misterius, Jarwo yakin itu surat cinta. Ia pun meninggalkan warung sejenak untuk mencari “ketenangan” sambil membayangkan kisah romantisnya, bahkan larut dalam angan-angan penuh perasaan. Sopo yang ditinggal menjaga warung hanya bisa kebingungan melihat bosnya terbawa suasana.
Namun kenyataannya jauh dari dugaan. Surat tersebut ternyata pemberitahuan fogging demam berdarah, bukan surat cinta. Saat asap mulai memenuhi lingkungan dan barang-barang belum diamankan, keadaan jadi kacau. Adit dan yang lain segera membantu, sementara Jarwo tersadar atas kelalaiannya meninggalkan tanggung jawab demi prasangka. Ia pun harus menggantikan tugas penyemprotan sebagai bentuk tanggung jawab. Jangan mudah berasumsi sebelum memahami isi sebenarnya, karena tanggung jawab tetap harus diutamakan di atas perasaan.

