Pagi hari di kampung, Pak Anas dibuat pusing dengan ulah hewan-hewan pengganggu. Setelah kemarin mangganya diserang codot, kini giliran tupai yang beraksi. Tak kehabisan akal, Pak Haji menyarankan solusi alami: memasang sarang semut rangrang di pohon mangga agar tupai dan codot tak berani mendekat.
Bang Jarwo, penuh semangat, langsung menyanggupi mencari sarang semut. Bukannya ke pameran pertanian seperti rencana awal, dia memilih jalan pintas: mencari di hutan kota bersama anak-anak. Petualangan pun dimulai!
Adit dan teman-temannya belajar bahwa sarang semut rangrang adalah tumpukan daun yang saling terikat—tempat koloni semut tinggal. Saat mereka berhasil menemukan sarang yang tepat, Bang Jarwo nekat memanjat pohon tanpa persiapan memadai, hanya bermodalkan kantong plastik.
Akhirnya, usaha buru-buru itu berujung petaka. Bang Jarwo panik digigit semut, terpaksa turun dalam keadaan merah-merah. Untung saja Pak Haji datang membawa perlengkapan lengkap: sarung tangan, gunting, dan wadah khusus. Dengan tenang, beliau mengambil sarang semut yang dibutuhkan.
Lewat episode ini, penonton anak-anak diajak memahami pentingnya persiapan sebelum bertindak, serta bagaimana menggunakan solusi alami untuk menjaga tanaman. Selain menyenangkan, cerita ini juga sarat edukasi tentang lingkungan dan kerja sama.
Dan tentu saja, gaya Bang Jarwo yang selalu ingin serba cepat tanpa pikir panjang kembali jadi sumber tawa—sekaligus pelajaran yang tak terlupakan!

