Kisah kali ini menampilkan sisi lain dari Bang Jarwo yang biasanya dikenal keras kepala, namun pada akhirnya ikut serta dalam sesuatu yang mulia. Cerita dimulai dengan pembicaraan ringan setelah salat dhuha. Saat itu, warga menyadari bahwa musala kampung sudah waktunya diperbaiki—atap mulai bocor dan plafon terlihat keropos.
Bang Jarwo awalnya mencoba mencari jalan pintas dengan menyuruh Sopo menggalang sumbangan dengan cara kurang tepat. Ia meminta Sopo berdiri di jalan sambil menodong orang untuk infak. Tentu saja, cara ini menimbulkan pertanyaan. Adit yang melihat kejadian itu segera meminta pendapat Pak Haji. Begitu mendengar penjelasan, Pak Haji merasa kecewa karena penggalangan dana tidak dilakukan sesuai aturan.
Bang Jarwo pun akhirnya dipanggil untuk bertemu. Awalnya ia mencoba berkelit, namun setelah dinasihati, ia sadar bahwa memperbaiki rumah ibadah tidak boleh dilakukan dengan cara tergesa-gesa apalagi dengan sikap yang bisa menyinggung warga. Bersama-sama mereka lalu menyusun rencana: menghitung kebutuhan, membagi tugas, dan memutuskan untuk memulai perbaikan secara bertahap.
Warga ikut ambil bagian dengan semangat gotong royong. Ada yang menyiapkan bahan bangunan, ada yang rela naik ke atap memperbaiki genteng, bahkan anak-anak seperti Adit ikut membantu pekerjaan kecil. Para ibu pun memasak untuk memberi tenaga kepada semua yang bekerja. Semua berlangsung dengan suasana penuh keikhlasan.
Dari sini penonton bisa menangkap pesan yang kuat. Segala pekerjaan besar akan terasa ringan jika dilakukan dengan kebersamaan dan kejujuran. Tidak perlu mencari cara instan yang menyalahi aturan, karena gotong royong dan niat baik pasti membuka jalan.
Cerita “Benerin Masjid Bang Jarwo Tidak Berkelit” bukan hanya menampilkan sisi komedi khas Bang Jarwo yang sempat salah langkah, tetapi juga menyelipkan nilai religius dan sosial yang penting. Ia menegaskan bahwa memperbaiki rumah ibadah adalah tanggung jawab bersama, dan sikap tulus tanpa berkelit akan selalu membawa keberkahan.

