Home Habibie Ainun 3 Mengenal Rubyanto sebagai tangan kanan Habibie dan Ainun
Mengenal Rubyanto sebagai tangan kanan Habibie dan Ainun

Mengenal Rubyanto sebagai tangan kanan Habibie dan Ainun

by Admin

Habibie & Ainun 3 – Sosok Ainun di Mata Pak Ruby

Nama saya Rubyanto sebagai sekretaris pribadi Pak Habibie, Saya mulai bekerja mengikuti beliau sejak 1 Januari 1982.

Bekerja sejak mulai dari kediaman, sebelum berangkat kerja sampai dengan ke kantor, sampai dengan selesai kantor sekembali ke kediaman.

Jadi pagi jam 7 saya selalu ada disini, pulang rata-rata jam 11 malam, sampai hari ini.

Selang beberapa waktu kurun waktu sekian, saya ibarat kerja 2 komandan, dimana disitu ada bapak ada ibu.

Apapun perintah beliau ya tetap saya harus laksanakan, saat terkadang cukup keteteran juga.

Saya kadang minta petunjuk bapak, bapak mohon petunjuk Ibu minta Saya mengerjakan ini, bapak memberikan ini mana yang harus didahulukan.

Tapi Pak Habibie sangat bijak sehingga bapak mengatakan, kamu selesaiin dulu tugas ibu, semacam ada bahasa Ladies first, ya kan.

jadi saya dahulukan pekerjaan Ibu setelah pekerjaan ibu selesai baru saya kerjakan tugas dari Pak Habibie.

Jadi saya tetap minta petunjuk pak Habibi mana saya harus didahulukan.

7 tahun kemudian karena saya keteteran, mulai perlahan saya libatkan istri saya,Iya pertama tidak sebagai apa tapi membantu aktivitas saya di sini.

Sampai dengan istri saya diperhatikan sama ibu Ainun, bisa melayani tugas-tugas ibu, dengan demikian Ibu Ainun matur ke bapak.

Kira-kira begitu bahasanya begini “Pak bilang ke Ruby Mommy, boleh nggak jadi sekretaris saya”kira-kira demikian kata-kata Ibu Ainun waktu itu.

Pada akhirnya Pak Habibie menyampaikan ke saya, Ruby kelihatannya, Mommy cocok dengan ibu Ainun boleh nggak Momy bantu ibu?

Saya dengan senang hati ya Pak Jika bapak memang sebenarnya, Ibu kelihatannya cocok, ya kita punya kebanggaan juga kan, karena diketahui Ibu pernah, dilayani oleh 5-10 sekretaris, Tidak ada yang cocok.

Sehingga mommy, ketika itu tahun 87 langsung diminta menjadi sekretaris nya Ibu Ainun, jadi Saya dan istri suami istri di sini.

Saya melayani Pak Habibie dan istri saya melayani ibu Ainun, itu sampai dengan 2001, dari sejak menteri sampai bapak selesai menjadi presiden.

Di lain pihak kesan-kesan bersama ibu Ainun, kalau saya tulis mungkin beberapa jilid banyak.

Dulu ketika Pak Habibie menteri riset dan teknologi, dulu jabatannya banyak sekali baik jabatan yang resmi dan tidak resmi, ada 22 jabatan.

Khususnya yang langsung dibawa beliau itu adalah kementerian, kementerian ristek, sebagai menristek, direktur utama dari beberapa perusahaan.

Itu betapa padatnya acara ini, nah saya dapat tugas dari bapak, Ruby, pokoknya saya minta kamu nggak harus lapor ke saya, setiap ibu ada gerakan mau ke Bandung, mau ke mana, kamu tanpa harus ada perintah lagi kawal ibu Ainun.

Jadi saya ke Bandung Surabaya Batam, itu saya selalu mau marah mau tidak, pokoknya melekat ke ibu.

Dan pada akhirnya Ibu bisa memahami dan mengerti, dan memang karena Ibu harus ada yang mengawal gitu.

Kemudian yang menarik Kalau saya malam pulang di sini jam 11, ibu itu sebenarnya ingin kegiatan bapak, Sudah jam 11.

Karena sudah malam Ibu mengingat memperhatikan dari segi kesehatan bapak Habibie.

Ibu seringkali ngomelin bapak,apa tidak ada hari esok kan bisa diselesaikan esok hari, bapak harus istirahat.

Orang kan ada batas titip lelahnya kan ya, Jadi bapak harus istirahat, tetap Habibie bandel, sehingga saya senang kalau Ibu udah keluar kamar pakai kolom, kolom itu sendal dari kayu.

Bunyinya Kan kontang kontang kontang, wah Ibu ini udah keluar nih pasti saya disuruh pulang, saya kalau Ibu udah keluar pakai kolomnya, saya udah wah ada ibu nih enak nih pasti saya disuruh pulang.

Tapi saya disuruh pulang bukan kecewa atau sakit hati, saya senang, karena udah malam dan kan Ibu ngomong begini, Ruby ini jam berapa ini, kamu pulang, kamu kan punya istri punya anak.

Jadi setiap malam kalau Ibu udah keluar dari kamar, pakai kolom pontang pontang pontang wah itu, Saya senang nih.

Termasuk wah kejadian itu sudah sering sekali itu, bukan saja saya tapi Pak Habibie juga sering diomelin sama ibu Ainun.

Karena boleh dibilang Pak Habibie itu mania kerja, sampai jam satu jam dua jam tiga, pernah sampai pagi kerja terus.

Beliau Ibu Ainun itu adalah guru saya, adalah ibu saya, karena beliau yang banyak membina saya, mengajar saya dan layaknya udah seperti ibu sendiri.

Jadi beliau Ibu Ainun adalah guru saya dan ibu saya.

Related

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: