Kesibukan di warung membuat Bang Jarwo dan Bang Sopo kembali berselisih. Bang Jarwo diminta mengantar pesanan ke pasar, sementara Bang Sopo mengingatkan bahwa kondisi warung sedang menurun sehingga harus lebih teliti dan hemat. Namun, cara penyampaian yang berbeda membuat keduanya saling tersinggung. Bang Jarwo meminjam sepeda Adit demi berhemat, tetapi keterlambatannya membuat pelanggan semakin menunggu.
Situasi makin panas ketika Bu Salamah dan warga mendatangi warung karena pesanan tak kunjung sampai. Bang Sopo menilai Jarwo kurang teliti, sementara Jarwo merasa sudah bekerja keras. Untungnya, suasana akhirnya mereda setelah keduanya sadar bahwa mereka hanya lelah.
Cerita ini menegaskan bahwa perbedaan pendapat tidak harus berujung konflik—komunikasi tenang akan selalu menjadi jalan tengah.

