Mozaik 10 Sorai

Gitar tua nan usang itu tergolek di pojokan kamar. Keilana duduk merenung di dekat jendela. Menerawang melewati horizon dengan satu album foto di tangan kirinya. Itu adalah satu-satunya album foto yang ia miliki tentang ayah dan ibu. Itu pun ketika ia masih balita. Sisanya? Boro-boro untuk foto. Untuk makan saja sudah ketar-ketir.

“Ayah, kangen….”

Semburat jingga terpantul di kaca-kaca gedung tinggi. Semakin lama ia memandangi itu, semakin perasaannya larut dalam masa lalu. Tentang ayah, ibu, dan kebersamaan yang membuat hatinya tergigit rindu. Perlahan ia membuka lembaran album dan menatap satu foto di sana.

“Ayah, sebenernya Kei pengen bilang, Kei baik-baik aja. Tapi kalo kenyataannya enggak, gimana?”

Jarinya mengusap potret ayah dan ibu. Ia tersenyum getir. Dulu ia tahu rasanya jadi orang berkecukupan. Dulu, duluuu sekali ketika usianya masih empat tahun. Ia tidak miskin sejak lahir. Roda kehidupan lah yang membuat keluarganya terpuruk ke bawah hingga tidak memiliki apapun. Ayahnya pikir, pindah ke Jakarta akan mengubah nasib mereka.

Benar.

Memang berubah. Tapi lebih buruk.

“Hhhh….”

Keilana mengerjap seraya melempar fokusnya pada gitar tua di pojok kamar. Gitar bersejarah yang menjadi salah satu warisan dari ayahnya yang gemar bermusik. Ada sejarah lain kenapa gitar itu masih bertahan. Setidaknya keberadaan tandatangan Yon Koesmoyo dari band lawas Koes Plus menyelamatkan gitar itu dari pasar loak. Ayahnya adalah penggemar berat Koes Plus. Mana sudi ia melepas gitar yang bertanda tangan itu? Wow, tidak akan.

Deringan ponsel membuat kesenduan itu berakhir. Dengan malas-malasan, Keilana berjalan ke kasurnya dan meraih ponsel. Ada chat dari Dian.

Diandra Neuser

Gue pernah bilang belum?

Keilana

Bilang apaan?

Diandra Neuser

Gue tetanggaan sama Biru.

Keilana

Terus kenapa?

Diandra Neuser

Lo nggak pengen ngomong ama dia?

Samperin gitu ke rumahnya.

Keilana

Mendingan gue ngomong sama orang gila.

Keilana meletakkan ponselnya dengan kening berkerut.

Ngomong sama Biru di rumahnya? Bisa-bisanya Dian memberikan ide seburuk itu! Tidak akan, ya! Melihat nama ‘Biru’ saja membuatnya muak. Mungkin ia akan muntah-muntah jika berhadapan dengan Biru saat ini.

Ponsel itu berdering lagi. Ia menatap layar. Dian menghubunginya.

“Nggak deh,” sambar Keilana cepat.

“Dengerin gue,” pinta Dian.

“Gimana?”

“Lo nggak mau kan terus-terusan dikerjain? Lo harus cari tau penyebabnya. Gue yakin, ini bukan cuma tentang ketumpahan kopi di kelas.”

Kalimat Dian membuat pikiran Keilana terlempar pada momen di mana ia dikerjai di dekat rooftop. Ia masih ingat betul bagaimana kedua cecunguk itu menghina dan mengatainya ‘jual diri’. Terus terang, Keilana mati penasaran tentang apa rumor yang beredar tentangnya. Tapi mendatangi Biru di rumahnya??? Hell, NO!

“Keiiiii!!!”

Keilana tersentak. “Eh, iya. Kenapa?”

“Lo pikirin lagi deh. Gimana?”

Ia menghela napas. “Gue males beneran ketemu Biru….”

“Terus sampe kapan lo mau diginiin terus? Lo harus ngelakuin sesuatu. Inget, masalah perlu diselesaikan, bukan cuma dihadapi tanpa ngelakuin apapun!”

“Gue tau….“

Tokk! Tokkk!

Ketukan pintu mendistraksi obrolan itu. Keilana menoleh dan melangkah ke arah pintu.

“Eh, udah dulu, ya. Ada tamu,” sambungnya sebelum mengakhiri panggilan. Cepat-cepat ia membuka pintu. Seketika air mukanya berubah. “Kak Riga, kenapa di sini?”

“Nggak boleh?” senyum Riga.

“Tumben? Biasanya ngabarin dulu.”

Riga menarik napas panjang.

“Ya udah. Gue balik ya,” ucapnya pura-pura berbalik.

“Hati-hati di jalan,” balas Keilana melambaikan tangan.

Riga batal berbalik. Matanya melebar.

“Lo beneran nggak mau gue ke sini?” protesnya tidak percaya.

“Bukan!”

“Gue masuk, ya?” pinta Riga langsung menerobos masuk dan duduk tanpa menunggu persetujuan Keilana. Pelan-pelan, ia meletakkan gitarnya—bersandar di kursi. 

“Mau belajar gitar?” tebak Keilana.

“Iya dong.”

Keilana duduk di hadapan Riga. “Kak, kan Kak Riga bisa belajar dari buku atau internet. Kenapa sih harus minta aku ajarin? Bukannya di internet lebih jelas dan lengkap, ya?”

Pertanyaan tak terduga itu membuat Riga tersenyum tipis. Ia mengeluarkan gitar dari tas dan mulai memetiknya pelan. Dari cara Riga memetik dawai saja, Keilana tahu kalau pemuda itu berbohong. Riga bisa bermain gitar.

“Kakak bohong, ya?”

“Soal apa?” tanya Riga tidak berhenti memetik gitar.

“Sebenernya Kak Riga bisa main gitar, kan?”

“Lumayan.”

“Terus kenapa Kakak bohong?”

Petikan gitar itu terhenti.

“Seru aja. Lo asik sih anaknya,” jawab Riga singkat. “Eh, kapan lo ajak gue ngamen?”

Keilana mengerucutkan bibir. “Jangan becanda deh, Kak. Mana ada anak orang kaya ngamen? Ngeledek, ya?”

“Ada! Nih orangnya!” ucap Riga menunjuk diri sendiri dengan bangga.

“Buat apa sih, Kak?!”

“Pengen aja buat hiburan. Seru kayaknya.”

“Seriusan pengen ngamen?” tanya Keilana memastikan.

“Iya.”

Anggukan Riga membuat Keilana memijat pelipis. Bingung dengan kelakuan orang itu.

“Sumpah, aku nggak ngerti sama Kakak.”

“Don’t study me, you won’t graduate,” senyum Riga, membuat Keilana makin puyeng.

“Bahasa Indonesia aja deh. Aku nggak ngerti enggres-nggresan.”

Riga tertawa renyah hingga matanya mengecil. Wajah tampannya kian menarik saja. Bohong kalau Keilana tidak meleleh melihat wajah yang begitu tampan dan soft itu. Tapi kali ini ia cukup sadar diri untuk tidak kagum hingga jatuh hati. Cukup Biru saja yang mematahkan hati dan angan-angannya.

Cukup. Sudah cukup. Ia ingin fokus kuliah. Daripada terpesona terlalu jauh, Keilana memilih untuk mengalihkan perhatiannya. Ia mengambil segelas jus jeruk dari kulkas dan menyerahkan pada Riga.

“Thank you.”

Keilana kembali duduk manis. “Kak, boleh nanya nggak?”

“Apa dulu nih?”

“Kakak pernah denger kabar gitu nggak soal aku?”

Alis Riga bertaut. “Kabar apaan?”

“Yah, Kak. Kan aku nanya. Masalahnya, aku juga nggak tau.”

“Nggak pernah denger sih gue,” balas Riga menyilangkan tangan di dada. “Btw, lo belom minta maaf sama gue.”

Sekarang giliran Keilana yang menautkan alis. “Minta maaf? Aku salah apa ya, Kak?”

“Hari Jumat kan lo gigit gue. Sabtu masih ngecap loh bekasnya di tangan gue. Untung gue nggak kena rabies,” tutur Riga dengan tampang sok serius.

“Hehehe….”

“Nyengir lagi. Buruan minta maaf.”

“Iya! Iya! Aku minta maap! Lagian kan salah Biru juga kenapa mancing-mancing. Kok bisa sih kalian beda banget? Orang juga nggak bakal percaya kalian kakak adekan,” cerocos Keilana dengan bibir mengerucut sebal.

“Ah, minta maafnya nggak ikhlas.”

“Ya Allah, Kak. Ini udah ikhlasss. Lahir batin. Bener dah!”

“Nyanyi deh kalo emang ikhlas,” ucap Riga bersikeras. Ia menyambar gitar dan menyodorkannya pada Keilana. “Coba pake gitar gue.”

“Hhhh….”

Dengan helaan napas, Keilana menerima gitar. Ia terdiam sebentar. Memikirkan lagu apa yang akan ia senandungkan.

“Lo tau lagu Sunny?” tanya Riga.

“Lagunya BCL?”

“Bisa?”

Keilana mengangguk. Ia terdiam sejenak, berusaha mengingat chord lagu lawas yang manis itu. Setelah mendapatkan memori itu, ia menarik napas dan mulai bernyanyi.

“Sunny…. Su—“

“Ettt! Stop! Stop!” tahan Riga meletakkan telapak tangannya di senar gitar. “Sunny-nya lo ganti pakek RIGA. Kayak gini nih. Rigaaaa, Rigaaaa…. Jantungku berdetak tiap ku ingat padamu. Oke???”

“Dih! Nggak mau!”

“Nggak gue maafin nih!”

Bibir Keilana mencebik. “Ih! Ya udah! Tapi langsung reff aja, ya!”

Wajah manis itu sedikit masam dan… memerah. Jari mungilnya kembali memetik gitar sambil bersenandung. Tentu saja dengan sedikit revisi lirik dari Kanjeng Mas Auriga Kaivan.

Tiap kali aku berlutut, aku berdoa

Suatu saat kau bisa cinta padaku

Tiap kali aku memanggil di dalam hati

Mana Riga? Mana Riga-ku?

Mana Riga-ku?

“Gue berasa nggak jomlo lagi nih,” oceh Riga yang membuat nyanyian itu terhenti.

“Kok berhenti?” heran Riga.

Keilana memandang Riga sambil tersenyum aneh. “Aku pikir dulu Kak Zara pacar Kak Riga. Abis lengket banget.”

“Gue, Biru, sama Zara itu udah deket sejak SMP. Gue udah nganggep dia kayak adek,” senyum Riga mengambil alih gitar. Ia melanjutkan, “Ending-nya, dia jadian sama Biru.”

“Kakak pernah cinta sama Kak Zara nggak?” selidik Keilana mulai lancang.

Cepat-cepat Riga menggeleng. “Bukan tipe gue.

“Bisa gitu? Dia kan cantik banget.”

“Iya. Cantik banget.” Riga mengangguk-angguk sambil memainkan senar gitar dengan acak. “Tapi gue udah lama kenal dia. Gue udah lumayan tau gimana karakter dia dan kayaknya gue nggak cocok sama dia. Seenggaknya menurut pengamatan gue. Jadi ngapain gue ngabisin waktu sama orang yang jelas-jelas nggak cocok sama gue dan standar gue?”

“Hoooo….” Bibir Keilana membulat. “Tapi aku ngeliatnya cocok-cocok aja.”

“Lo berhak beropini.”

“Tapi Kak Riga lebih tau tentang kehidupan kakak sendiri.”

“Exactly.”

Vibrasi ponsel sedikit mengejutkan Riga. Diletakkannya gitar sebelum merogoh ponsel dari saku. Ia memberi isyarat agar Keilana diam dan menunggu. Sejurus kemudian, ia menjawab panggilan senyap itu.

“Lo ke Summer’s party nggak ntar malem?”

“Iya, Aldrich.”

“Bawa kado apa lo? Gue bingung mau kasih apaan. Masih liat-liat nih di store Dior.”

“Gue juga belum beli,” jawab Riga terkekeh.

“Lo ada saran nggak gue kudu beli apa di sini? Lo kan aesthetic boy.”

“Dior and Shawn Sweater,” sahut Riga agak ragu sambil memandangi Keilana yang hanya bisa bengong mendengar obrolan kelas atas itu. Sebelum Aldrich berbicara lagi, Riga kembali buka suara. “Eh, gue mau siap-siap. Bye!

Begitu panggilan itu berakhir, Riga memandang Keilana dengan sorot mata berbinar.

“Kei, ikut gue ya?”

“Ke mana?”

Birthday party temen gue. Mulainya jam 9 malem. Tenang aja. Gue anterin pulang ntar.”

Keilana menggaruk kepalanya.

“Denger, Kei. Mungkin lo ngerasa ini cuma party. Tapi ini kesempatan lo memperluas relasi dan networking. Itu penting banget buat lo di masa depan. Lo harus belajar bergaul lebih banyak. Jadi, lo harus ikut. Oke?”

♪♫♪

Dari luar, bangunan itu terlihat sangat tak tersentuh oleh kaum marginal seperti Keilana. Rapat. Berbatas kuat oleh para security yang berpakaian rapi dan gagah. Ia diperiksa sana sini seolah pesakitan yang akan mengebom tempat itu. Hampir saja ia tidak diizinkan masuk karena dianggap berpakaian kurang rapi. Kalau bukan karena Riga yang menunjukkan kuasanya (dan itu jarang terjadi), niscaya Keilana akan terdepak pulang sebelum berhasil mencapai pintu masuk ruangan utama.

Ia mengekor Riga sembari sesekali melirik penampilannya sendiri melalui kaca yang menjadi aksesoris dinding. Saat ini, ia mengenakan celana jeans gelap, kemeja putih polos, cardigan panjang, dan sneakers. Setidaknya itu sudah RAPI menurut versinya. Perkara pakaian pesta saja sudah membuat kepalanya cekit-cekit. Memang bagaimana sih penampilan orang kaya? Serius, Keilana sama sekali tidak punya bayangan.

Mata Keilana membulat ketika security membuka pintu akses masuk sebuah ruangan. Sekarang ia paham kenapa begitu dicurigai oleh para security. Lihat saja para gadis itu….

Lihat!!!

Mereka terlihat begitu menawan dengan style yang keren.

Dan… Keilana yakin, harga pakaian mereka melebihi biaya hidupnya sebulan. Rasanya Keilana ingin memaki selera berpakaiannya yang payah itu. Ia jadi sedikit menyesal menolak tawaran Riga yang ingin membelikannya pakaian baru untuk acara ini. Itu terjadi sebelum ia tahu kalau Riga mengeluarkan uang puluhan juta untuk sebuah kado.

“Dateng juga lo,” sapa seorang pemuda tampan berbahu lebar. Ia langsung menghampiri Riga dengan segelas minuman yang hampir habis di tangan kanannya.

“Tambah tua juga lo,” tawa Riga menyodorkan paper bag Gucci.

Mata Keilana tidak lepas dari paper bag itu. Ia menahan napas. Masalahnya, ia tahu betul berapa harga kado itu saat menemani Riga membelinya. Dua puluh jutaan! Padahal warnanya seperti warna jaket abang ojek yang sering mangkal di dekat terminal.

“Happy birthday, Summer. Tadi nggak sempet gue bungkus. Buru-buru.”

“It doesn’t matter. Thanks.”

Riga menyentuh lengan Keilana yang membuat gadis itu sedikit tersentak.

“Ini Keilana,” senyum Riga menoleh padanya dan memberi isyarat. “Kei?”

“Keilana, anak baru di kampus.”

Summer mengangguk.

“Gue Summer.”

Summer? Nama yang unik dan mengusik keingintahuan Keilana. Ia berkata dengan hati-hati, “Summer itu musim panas, kan? Kok namanya bisa Summer?’

“Soalnya gue hot kayak musim panas,” jawab Summer terkekeh. Ia menunjuk Keilana. “Eh, lo yang berantem sama Biru, ya?”

Mata Keilana membesar. Ia menatap Riga dengan bingung. Riga hanya mengangkat bahunya sambil terkekeh. “Udah, nggak usah dipikirin.”

“Nice…,” komentar Summer melirik penuh arti pada Riga. “Berantem sama adeknya, tapi deket sama kakaknya. Keren juga.”

“Lo kayak nggak tau Biru aja,” gumam Riga.

Summer tertawa. “Enjoy the party, ya. Gue keliling ke yang lain dulu.”

Riga dan Keilana mengangguk. Tapi sejurus kemudian, Keilana tersadar jika ia belum menyerahkan kado untuk Summer. Meskipun baru kenal, ia merasa tidak enak hadir tanpa bingkisan. Ia pun berlari menyusul Summer dan meninggalkan Riga sendirian.

Pemuda itu mengedarkan pandangannya di ruangan itu. Ia terlihat mencari sesuatu tapi belum ketemu. Akhirnya ia mengangkat bahu. Berjalan menuju meja dengan kepalanya mengangguk-angguk menikmati musik. Ia meraih segelas minuman di meja.

“Nggak nyangka lo bawa Kei ke sini,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul sambil mengambil minuman. Ia menatap Riga. “Kenapa nggak ngabarin gue? Biar gue makeover dia.”

Riga menarik napas panjang. “Nggak keburu tadi. Lo dateng sama siapa?”

“Tuh,” jawab Dian singkat sambil mengarahkan dagu pada Zara dan Biru yang cukup berjarak darinya. Ia kembali memandang Riga. “Kalo lo nggak bawa Kei keluar dari sini, gue yang bakal bawa.”

“Maksud lo?”

Dian meneguk minumannya dengan sorot mata lurus ke depan.

“Nggak harus dijelasin. Lo udah tau,” ucapnya menggoyangkan gelas.

“Ada gue yang lindungin dia. Lo tenang aja.”

Pembelaan Riga membuat Dian tertawa pelan. Ia kembali meneguk minumannya sambil memandang Riga dengan sorot mata sangsi.

“Lo mau lindungin Keilana, tapi lo nggak bisa tegas sama adek lo.”

“Bukannya gue nggak tegas. Nge-treat Biru nggak semudah itu.”

“You’ve told me. So, what’s your plan?”

Slurp….

Riga menyesap minuman sebelum berkata, “Nothing. But I’ll protect her.”

“Kenapa sih lo baik banget sama Keilana?”

“Dia nggak punya siapa-siapa lagi. Anggep aja sebagai kompensasi atas keisengan Biru,” tutur Riga meletakkan gelasnya yang kosong. Ia tersenyum. “Anyway, lo cantik banget malam ini.”

Bukannya balas tersenyum, Dian malah melengos pergi menghampiri Keilana yang baru kembali. Wajah Keilana terlihat semringah. Ia melonjak-lonjak girang. Namun dalam sekejap, ekspresi itu berubah drastis melihat Biru yang berjalan di belakang Dian. Ia berhenti melangkah yang membuat kening Dian mengernyit.

“Muka lo kenapa asem gitu ngeliat gue?” heran Dian.

Keilana menggeleng. Semakin Biru mendekat, ia bisa melihat tatapan itu menajam sekaligus sinis. Tapi kali ini, ia berusaha menahan diri. Ia tidak mau mengacaukan acara ini. Sekuat tenaga, diabaikannya tatapan mengintimidasi itu. Sialnya, makin terpangkas jaraknya, makin meroket pula tekanan darahnya.

“Kenapa lo nggak bilang sih bakal ikutan?”

“Ini juga dadakan. Diajakin Kak Riga. Emang Summer tuh siapa sih?” bingung Keilana.

“Kakak tingkat kita juga. Temen deketnya Kak Riga,” ucap Dian menoleh pada Biru yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Zara tak terlihat di sampingnya. Ia menyipitkan mata. “Jangan ribut di sini, ya.”

Biru tersenyum miring. Ia menatap Keilana sambil kembali meneguk minumannya hingga tandas. Keilana yang tadinya berdiri tegang, menghela napas lega. Setidaknya kali ini ia aman dari adegan basah kuyup lagi.

“Summer ngundang lo ke sini?” tanya Biru.

Keilana menggeleng.

Perlahan tapi pasti, Biru melangkah mendekati Keilana. Membuat gadis itu sedikit mundur dari tempatnya sambil menahan napas. Wajah tampan itu kembali dingin. Menatap Keilana  tanpa ekspresi. Ia menarik telapak tangan gadis itu, kemudian meletakkan gelas kosongnya di sana. 

Biru mencondongkan kepalanya. Mendekati wajah Keilana sambil berbisik, “Cewek kayak lo lebih cocok jadi pelayan di sini.”

Rahang Keilana mengeras. Darahnya mendidih. Ia sangat ingin marah dan melampiaskan segalanya. Tapi sekali lagi, ini hari istimewa Summer. Tidak ada dalam kamusnya untuk mengacaukan hari istimewa orang lain. Karena itu, ia hanya bergeming dengan gelas kosong di tangan kirinya. Tatapan kesalnya jelas terlihat sehingga membuat Biru tersenyum jahat.

“Uhm, permisi,” ucap Dian berusaha mengurai ketegangan. Cepat-cepat ia menarik Keilana dari hadapan Biru. “Kei, temenin gue makan kue.”

Tanpa bantahan, Keilana mengikuti ke mana pun Dian pergi.

“Lain kali lo kabarin gue kalo mau ke acara ginian,” ucap Dian mendekati meja yang penuh dengan makanan. Ia mengambil satu cheesecake sebelum memandang Keilana yang berdiri diam. “Bukannya gue mau rendahin. Tapi pakaian lo emang… uhm…. Next time, gue bakal makeover lo biar nggak malu-maluin dibawa ke party.”

Keilana tersenyum kecut. Sungguh ucapan yang terlalu jujur.

“Udahlah. Enjoy aja. Tuh makan kue,” sambung Dian.

Anggukan kecil Keilana menyahut. Ia melihat-lihat sebentar, kemudian mengambil satu slice rainbow cake dengan wajah semringah. Baru saja akan menggigit kue, Dian buru-buru memegang tangannya.

“Aduuuhhh, nggak gitu caranya. Lo jangan ngambil langsung pake tangan gitu. Ga sopan,” tahan Dian dengan gemas. Ia menyambar piring kecil dan garpu. “Nih, lo harus pake ini.”

Bibir Keilana mengerucut. “Kenapa?”

“Itu namanya manner. Lo harus belajar soal manner, apalagi kalo dateng ke party kayak gini atau nginep di hotel,” jelas Dian memberi isyarat agar Keilana meletakkan kuenya di piring.

“Mau makan aja repot amat sih.”

“Lo harus adaptasi.”

“Money can’t buy class,” sambar Biru tiba-tiba sambil mengambil kue. Ia menoleh pada Keilana. “Tempat lo bukan di sini.”

Keilana menatap Biru dengan benci. “Lo nggak bosen ngikutin gue?”

“Ngikutin lo? Terus mau lo, gue makan makan di warteg? Lo nggak inget? Gue tamu undangan. Terus lo??? Lo tuh nggak diundang. Harusnya lo malu nanya itu ke gue.”

“Kakak lo yang ngajak gue ke sini. Jadi gue juga boleh ikut.”

“Emang kakak gue yang punya acara?”

Dian memutar bola matanya dengan malas. Padahal ia sudah membawa Keilana jauh dari Biru, tapi si pemuda sialan itu masih saja mendekat dan mencari gara-gara. Dengan jengkel, ia meletakkan kembali kue yang belum habis itu. Sambil memandang Biru, ia membuka suara.

“Kak Biru, masalah lo sama Keilana apa sih? Gue nanya serius nih.”

Sorot mata Biru mendadak lebih tajam dari yang tadi. Ia menunjuk hidung Keilana.

“Tanya aja sama temen lo,” desis Biru yang membuat Keilana bergidik.

“Masalahnya, Keilana juga nggak—“

Belum sempat Dian melanjutkan kalimatnya, Biru beranjak pergi dengan wajah memerah. Bukan karena malu, tapi menahan amarah yang menumpuk. Keilana berdiri mematung dengan perasaan yang bercampur aduk antara bingung, kesal, dan… kagum.

Ih! Biru kenapa ganteng banget sih malem ini?!

Fokus pandangan Keilana tidak lepas dari Biru yang menjauh. Ternyata perbuatan tidak manusiawi Biru padanya tak membuat perasaan suka itu luntur begitu saja. Silakan katakan bodoh. Tapi nyatanya, rasa kagum dan suka itu masih tersisa. Dan sekarang, melihat Zara yang memegang tangan Biru dengan manis, membuat hatinya sedikit tercubit. Hehehe….

Tiba-tiba Dian menyentuh tangannya yang membuat Keilana sedikit tersentak.

“Duduk di sana, yuk,” ajak Dian menunjuk meja dan kursi di pojok. Hanya ada Riga yang sibuk dengan minumannya di sana. Pemuda itu melambaikan tangan, mengajak kedua gadis itu duduk bersama.

Semakin larut, lagu party semakin menggila. Pesta itu tidak terlalu ramai, tapi riuh oleh sorai mereka yang bersenda gurau hingga tertawa lepas. Terlihat akrab satu sama lain. Orang yang hadir di pesta ini memang hanya segelintir orang pilihan—minus Keilana. Tidak heran jika Keilana hanya melongo. Kalau bukan Riga dan Dian yang sesekali mengajaknya bicara, mungkin Keilana lebih memilih pulang dan tidur cantik.

Keilana memandangi jam yang melingkar di pergelangan Riga. Nyaris pukul sebelas malam. Matanya berkedip-kedip menahan kantuk.

“Good evening, everyone!”

Tiba-tiba suara Jeno mendistraksi keriuhan. Sontak ia menjadi pusat segala atensi.

“Nggak lengkap party tanpa game,” ucap Jeno tersenyum dan berjalan ke tengah ruangan. Ucapannya disambut riuh oleh yang lain. Pemuda itu meletakkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt! Gue tau lo pada penasaran, kan? Gue jelasin rules-nya.”

Dua orang pelayan membawakan dua bowl kaca berisi gulungan kertas dan butiran bola-bola styrofoam kecil. Pada masing-masing bowl, tertulis “Romeo” dan “Juliet”. Membuat mulut para tamu kembali meributkan perihal game yang akan dimainkan. 

“Guys, you can see here I have two bowls. I’ll take one paper on each bowl. One from Romeo bowl and one from Juliet bowl—”

“And they have to dance together?” sela Dian.

“Yeaaaps!.”

Dian mengangguk-angguk. “I knew that.”

“Can we start?” tanya Jeno yang dijawab riuh oleh yang lain.

Sementara Jeno mengaduk-aduk isi bowl, Zara melirik Biru dengan sorot mata penuh keyakinan. Yakin kalau namanya akan berjodoh dengan nama Biru di mangkok kaca. Yakin jika Dewi Fortuna akan mempertemukannya dalam game yang mendebarkan ini. Di sudut lain, Keilana (yang gagal paham) hanya diam sambil mengunyah croissant dengan tatapan menerawang. Ia tengah memikirkan Lifebuoy dan Dettol—kura-kura mungilnya di apartemen. Ia baru ingat, ia lupa memberi makan mereka hari ini. 

“Di, kalo nama lo yang keluar gimana?” tanya Riga aneh.

Dian mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Maju aja.”

“Lo ngarep sama siapa?”

“Nggak ngarep. Nggak minat sama cowok di sini,” sahut Dian datar.

“Awas, ntar kemakan omongan sendiri,” senyum Riga mengalihkan pandangannya pada Keilana. “Lo gimana?”

“Eh??? Uhmmm, aku—“

“KEILANA!” teriak Jeno yang membuat Keilana melongo.

“Hah?”

“Lo jadi Juliet. Siap-siap, ya?!” seru Jeno tertawa antusias dan puas melihat Keilana yang kehabisan kata. Suasana makin panas, riuh rendah oleh segala macam tebakan.

Zara terlihat gelisah. Takut kalau nama Biru yang dipilih oleh Jeno sebagai Romeo. Padahal bukan hanya Zara yang panik. Dian lebih panik lagi. Segala doa ia rapalkan dalam hati agar Keilana terbebas dari jeratan Biru yang terkutuk.

“Oke…. Gue udah dapet nama Romeo-nya….”

Jeno terkekeh-kekeh sembari menatap tamu satu per satu. Pandangannya terhenti pada Biru. Sontak yang lain ikut menatap Biru. Gerak-gerik Jeno membuat kegelisahan Zara dan Dian kian parah. Jeno tersenyum.

“Biru!”

Zara melotot. “Ta—“

“Bukan lo, Biru. Tenang,” sela Jeno tertawa terbahak-bahak, membuat tangan Zara gatal ingin melemparkan high heels-nya ke wajah tampan itu. Puas sekali Jeno menertawai keterkejutan mereka sambil kembali mengedarkan tatapannya.

“Cepetan woy!” teriak Summer tidak sabaran.

Welcome our Romeo… our handsome and aesthetic man, Auriga Kaivan.”

“Wooooowwwww!!!” heboh yang lain. Dian yang teriak paling kencang dan lega. Tentu saja tangannya tidak diam. Buru-buru ia menarik Keilana ke tengah ruangan.

“Nggak! Gue nggak bisa joget!” tolak Keilana panik.

“Santai aja! Hayok!” semangat Dian tetap keras kepala menarik Keilana.

“Enggaak. Gue nggak bisa, beneran. Nggak mauuu. Gue mau pulang…,” rengek Keilana.

Riga tertawa. Ia berdiri dan menepis tangan Dian dari pergelangan Keilana. Ia berkedip, memberikan kode pada Dian agar menyerahkan segalanya pada seorang Riga. Dian mengangguk dan menyingkir.

“Kei?” ucap Riga lembut sambil menjulurkan telapak tangannya yang terbuka.

“Kak, aku nggak bisa….”

“Ikutin gue.”

“Tapi—“

Riga berlutut dan menatap Keilana lekat. “Lo percaya kan sama gue?”

Tatapan lekat, dalam, dan terlihat tulus itu membuat hati Keilana goyah. Perlahan, ia mengangguk dan menyambut tangan Riga, kemudian berdiri bersamaan. Keduanya melangkah ke depan sambil bergandengan tangan hingga membuat yang lain semakin heboh. 

“Romeo dan Juliet, siap berdansa dengan musik random dari Summer?” ucap Jeno.

“Enggak!”

“Siap dong!”

Bisa ditebak siapa yang menjawab ‘enggak’. Tapi setidaknya Keilana sudah punya nyali untuk berdiri di sana dan siap malu. Ia tahu pasti. Ia pasti akan mengalami hal yang malu-maluin malam ini. Ia merutuk dalam hati. God! Harusnya ia tetap berada di apartemen saja bersama Lifebuoy dan Dettol!

“Eh, yang lain berdiri juga dong! Kita goyang rame-rame!” pinta Summer memberikan aba-aba. “Ayo sini! Bikin setengah lingkaran! Kasih ruang buat Romeo dan Juliet kita! Oke? Ready? Music. On!

“Tarik, Sis!” Suara dari speaker itu menyita perhatian semuanya (kecuali Biru yang hanya berdiri diam menatap Keilana dengan dingin). Tawa mereka pecah lalu menjawab serentak, “Semongko!”

Musik dangdut koplo itu melelehkan ketegangan Keilana. Di luar dugaannya! Spontan, ia tertawa lepas sambil bergoyang dangdut dengan Riga. Demi langit dan bumi, party anak orang kaya yang bermusik dangdut sama sekali tidak pernah ada dalam imajinasi seorang Keilana. Apalagi melihat seorang Riga bergoyang koplo. Sumpah! Sumpah!

“Ini party, Kei. Bukan lomba. Santai aja,” ucap Riga sambil menggoyangkan jempolnya.

“Musik kedua. Siap?” teriak Summer yang disambut teriakan antusias tamunya. “Five, four, three, two, one. Enjoyyyy!”

Dalam sekejap, musik dangdut koplo itu bertransformasi menjadi musik waltz yang begitu lembut dan romantis. Tanpa permisi, Riga melingkarkan tangannya di punggung Keilana dan menarik gadis itu merapat di tubuhnya.

“Kak?!” Keilana tersentak.

Riga berbisik, “Ini musik waltz. Lo ikutin aja gue.”

Tangan keduanya bertautan di udara. Lembut. Keilana sudah tidak sanggup menjawab. Ia tersedot ke dalam senyuman lembut itu. Wangi parfum Riga yang maskulin tapi lembut menyapa indera penciumannya. Menghangatkan hati sekaligus membuat dadanya berdebar. Saat kedua bola mata Riga yang jernih menatapnya, rasanya Keilana mau pingsan saja.

Ibuuukkkk, Kei dipeluk cowok ganteng…. Lutut Kei lemes….

Sweet amat sih kaliaaannnn!” goda Summer yang membuat pipi Keilana memerah.

Riga menahan tawa di depan Keilana. “Pipi lo merah tuh. Gue ganteng, ya?”

Lo ganteng? Lo pikir lo ganteng?! Enggak Kak! LO GANTENG BANGET! 

Keilana hanya membisu dengan wajah kian memerah bak udang rebus. Rasanya ia tidak sanggup berpelukan dan berdansa dengan Riga terlalu lama. Detak jantungnya kian cepat dan ia merasa terlalu gugup. Ia menelan ludah.

“Next music!” teriak Summer tertawa-tawa puas.

“STOPPP!!!” pekik Keilana mendadak. Musik urung diganti. Kini ia menjadi pusat perhatian. Ia cengengesan sambil melepas tautan tangan Riga. “Aku kebelet. Udah nggak tahan.”

“Yaelah, nggak seru!” gerutu Summer memberi isyarat pada Jeno. “Pilih pasangan baru.”

“Oke, Bos!”

Tanpa bicara lagi, Keilana meluncur membelah kerumunan. Percaya diri sekali ia melangkah, seolah tahu di mana letak toilet. Ia hanya bisa berjalan bolak-balik tanpa arah sebelum akhirnya melihat seorang pelayan lewat.

“Mbak, toilet di mana ya?”

“Lurus, belok kanan.”

“Makasih, ya,” ucap Keilana langsung melesat pergi.

Ia harus melewati lorong yang sepi sebelum mencapai toilet. Langkahnya terayun cepat meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar kebelet pipis. Ia hanya butuh tempat untuk menenangkan diri. 

Tappp!

Brukkk!!!

“Awww!” pekik Keilana tertahan.

“Mau lo apa sih?” desis Biru, pelaku yang menarik Keilana dan mendorongnya ke tembok. 

“Sakit…. Bisa lepas nggak?” pinta Keilana meringis kesakitan.

Biru melonggarkan tekanannya pada bahu gadis itu. Hanya pada bahu. Wajahnya sih tetap saja dingin, tajam, penuh kemarahan. Ia kembali membuka suara, “Mau lo apa?”

“Lo lepasin gue. Biarin gue hidup tenang.”

“Lepasin lo?” ulang Biru. Kali ini wajahnya lebih serius daripada yang tadi. Tekanannya di bahu Keilana mengeras hingga membuat gadis itu kembali meringis.

“Jelasin, salah gue apa?”

“Lo udah bikin bokap gue berkhianat. Terus sekarang lo genit ke kakak gue? Lo masih bisa nanya salah lo apa? Pinter banget lo.”

Kening Keilana berkerut. Bingung.

“Lo ngomong apa sih?! Bokap lo? Kenal aja enggak! Lo salah orang kali!”

“Masih mau cari alibi?”

“Seriusan, gue nggak tau.”

“Kalo penjahat ngaku, penjara penuh.” Tiba-tiba Biru mendengus sebelum menyeringai. Ia mengelus pipi Keilana. Lembut tapi terlihat kejam. “Lo nggak pengen sekalian godain gue? Biar lengkap. Lagian denger-denger, lo suka sama gue.”

“Gila lo!” umpat Keilana kesal. Ia menepis tangan Biru dari pipinya. “Biar miskin gini, gue masih punya harga diri!”

“Harga diri? Jangan bikin gue ketawa.”

“Ya udah sih, ketawa aja. Gue jelasin sampe kiamat pun percuma kalo lo udah segitu bencinya sama gue. Apapun yang gue lakuin bakal tetep salah di mata lo.”

“Bagus kalo lo paham,” angguk Biru tersenyum miring. “Semoga lo juga segera paham kalo lo harus berhenti genitin keluarga gue. Kakak gue pantes dapetin yang lebih. Bukan cewek nggak tau diri kayak lo.”

Ucapan tanpa perasaan itu membuat Keilana muntab sejadi-jadinya. Kalau tidak ingat sedang ada di acara pesta, ia bersumpah ingin menguliti mulut Biru yang kejam itu! Tanpa pikir panjang, ia menginjak kaki Biru hingga pemuda itu melolong. Cengkeramannya di bahu Keilana terlepas hingga gadis itu berhasil meloloskan diri.

“Muka lo ganteng, tapi mulut lo busuk. Persis sampah yang nggak diangkut setaun!”

Keilana mengacungkan jari tengahnya. Kemurkaan Biru pun melejit menjadi 200%.

BiruLana

1 thought on “Mozaik 10 Sorai”

  1. Pingback: Manoj Punjabi - BiruLana

Tinggalkan Balasan Cancel reply