Mozaik 2 Yang Ditunggu, Hilang

BRUKKK!

Lelaki separuh baya bertubuh kurus itu terjerembab, lunglai dengan leher bergelimang darah. Sorot matanya menyiratkan kesakitan dan ketakutan. Takut jika nyawanya tidak tertolong dan meninggalkan putrinya sendirian di dunia ini.

Ia berharap sebuah keajaiban datang.

Namun hingga hembusan napasnya berada di ujung garis kehidupan, keajaiban itu tak kunjung tiba. Tubuh itu lambat laun dingin. Terbujur kaku di antara pohon-pohon singkong dan temaramnya senja Jakarta.

♪♫♪

Tempe goreng tiga biji itu sudah dingin dan melempem. Sama dinginnya dengan nasi lembek di panci. Keilana melongok isi panci yang hampir kosong itu. Hanya ada beberapa suap nasi beserta keraknya. Ia menarik napas panjang. Dengan gontai, ia memasukkan tempe dingin itu ke dalam panci sebelum duduk di pinggir dipan. Ia terdiam dengan tatapan kosong. Mood-nya tengah menyusut ke titik rendah karena kejadian siang tadi.

Mengenaskan.

Gadis itu mengunyah nasi dan tempe dingin itu dengan hati remuk. Semakin matanya terasa kian panas dan berair, makin pelan kunyahannya. Ketika ia menelan makanan, air mata itu menitik dalam diam.

Keilana jarang menangis. Sangat jarang.

Ia hanya menangis ketika masih balita. Selebihnya, sang ayah mengajarkannya untuk tetap kuat. Airmata Keilana terlalu mahal untuk dikeluarkan. Ia masih ingat, sejauh ini ia hanya menangis tiga kali. Pertama, ketika sang ibu meninggal saat usia Keilana masih sembilan tahun. Kedua, ketika sang ayah divonis kanker sebulan lalu. Dan ketiga… hari ini. 

Semoga tidak akan ada tangisan yang ke empat.

“Hhhh….”

Helaan napas panjang terdengar. Keilana mengusap air mata sebelum menghabiskan nasinya yang tak seberapa. Bergegas ia mencuci panci dan mengambil dua genggam beras untuk ditanak. Biasanya, ia memasukkan air melebihi takarannya agar nasinya jadi banyak. Maka berpuluh menit kemudian, beras itu akan bertransformasi menjadi bubur nanggung. Dibilang nasi, tapi sangat lembek. Dibilang bubur juga bukan. Pokoknya antara nasi dan bubur!

Lauk yang tersisa hanya dua potong tempe goreng dingin. Keilana memindahkan beberapa sendok nasi lembek ke piring berisi tempe goreng itu. Tentu saja ia menyiapkan itu untuk sang ayah. Beliau biasa pulang setelah senja. Meskipun beliau adalah pemulung, tapi ia tidak pulang dengan aroma kurang sedap. Pantang bagi Pak Andi (ayah Keilana) kembali sebelum mandi di mushola—dekat pemukiman mereka. Ah, Keilana sangat suka wangi ayahnya, meskipun itu hanya wangi sabun batang dua ribuan.

“KEIII!!!”

Teriakan Madi mengejutkan gadis itu. Tanpa diminta, Madi menerobos masuk. Napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat.

“Lo kenapa? Dikejar kunti?” heran Keilana.

Gelengan Madi membuat kening Keilana semakin mengernyit. Ia meraih gelas, lalu menghampiri Madi dengan segelas air putih.

“Minum dulu.”

Madi meneguk air putih dengan cepat. Ia masih belum menjawab pertanyaan Keilana karena sibuk mengatur napas. Tidak heran. Pemuda cepak itu berlari kencang beratus-ratus meter hanya demi mengabarkan sesuatu pada Keilana.

“Udah?” tanya Keilana. Madi mengangguk yang membuat gadis itu melanjutkan kalimatnya, “Ya udah. Sekarang jelasin, lo kenapa?”

“Bapak lu meninggal.”

“Hah?”

Keilana melongo. Otaknya masih berusaha mencerna berita barusan.

“Bapak lu meninggal. Ditusuk orang di deket mushola,” ulang Madi pelan.

“HAH?!!!!”

Detik itu juga, Keilana merasakan tubuhnya seakan tak bertulang dan tersedot ke inti bumi. Tungkainya melemah. Pandangannya nanar, menggelap. Hatinya yang sudah remuk, semakin remuk redam. Seolah tidak tersisa sedikit pun dari dunia ini yang mampu membuatnya bahagia.

Selesai.

Hidupnya terasa selesai dengan sia-sia….

Keilana memegang kepalanya. Menarik napas panjang dan berusaha menatap Madi. Berusaha meyakinkan diri bahwa ini semua hanya mimpi. Tapi raut wajah Madi yang tidak bisa berbohong membuat segalanya kian jelas.

Tenggorokan kian Keilana tercekat. Ia berusaha mengumpulkan ketegarannya. Tiba-tiba ia berlari secepat kilat. Melesat keluar rumah, melewati gang-gang, dan mengabaikan teriakan Madi yang terkejut dengan perubahan sikapnya. Ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini adalah ia ingin melihat kondisi sang ayah di tempat kejadian perkara. Tak henti ia berdoa agar orang salah memberinya kabar. Ayahnya masih hidup. Pokoknya harus masih hidup!

Keilana menyibak kerumunan dengan kasar. Tidak ada yang protes. Yang ada, kerumunan orang itu justru menatap Keilana dengan sorot mata iba dan mulut yang tidak berhenti menerka-nerka soal cerita penusukan itu.

“AYAAAHHH!!!”

Tangisan gadis itu pecah. Meraung-raung sehingga membuat sekitarnya terdiam, hanyut dalam tangis Keilana yang pilu. Berkali-kali ia mengguncangkan tubuh dan menepuk pipi sang ayah, berharap beliau akan membuka matanya.

Sia-sia.

Percuma. Sang ayah tidak akan kembali.

Raungan Keilana perlahan melemah. Ia mulai lelah. Semesta telah membuatnya menumpahkan tangisan keempat, pada hari itu juga. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika ada sepasang mata pria separuh baya yang memperhatikannya sejak tadi. 

♪♫♪

Jumat di minggu keempat bulan Agustus, Keilana kehilangan dua hal yang membuatnya menangis semalaman. Esoknya, mata itu bengkak dengan sangat menyedihkan.

Sabtu siang ini, ia masih menangis tergugu di depan makam ayahnya yang masih baru. Satu per satu, tetangganya pulang. Meninggalkan Keilana (hampir) sendirian di pemakaman. Hampir? Ya. Ada tiga orang yang masih berdiri di sana. Dua di antaranya adalah Madi dan Ustadz Farhan—yang biasa mengurusi mushola. Sementara itu, satu orang lainnya adalah seorang pria separuh baya gagah, berpakaian hitam rapi, dan berkacamata hitam.

Tidak jelas siapa dia dan apa kepentingannya.

Yang Keilana tahu, pria itulah yang menemukan ayahnya di dekat mushola. Pria itu pula yang menelpon polisi, ambulans, dan mengurusi segalanya dari rumah sakit hingga pemakaman. Apakah ia malaikat? Entahlah. Keilana terlanjur larut dalam kesedihannya. Mana sempat ia mengurusi identitas pria itu?

“Bapak kamu pasti orang baik,” ucap pria itu tiba-tiba.

Keilana tidak menjawab. Ia hanya menyeka air matanya yang sudah hampir kering. Sebelum bangkit, ia a menaburkan bunga terakhir di atas makam ayahnya. Madi menepuk-nepuk pundaknya. Sebisa mungkin menghibur gadis itu meskipun sia-sia.

“Maaf, setelah ini kita bisa ngobrol di rumah Kei?” tanya Ustadz Farhan.

Gadis itu menggeleng. “Di sini aja, Ustadz.  Biar ayah ikut liat.”

Mengenaskan.

Jawaban Keilana membuat ketiga lelaki itu berpandangan dengan hati tercubit. Pria gagah berkacamata itu hanya mengangguk tipis pada Ustadz Farhan. Akhirnya, ustadz itu melanjutkan kalimatnya.

“Jadi begini. Beliau ini Pak Danu. Kalau Keilana belum tahu, Pak Danu ini yang jadi donatur utama pembangunan mushola kita. Beliau memang suka berdonasi. Kebetulan sekali, kemarin beliau mampir di mushola,” jelas Ustadz Farhan.

Keilana tidak bereaksi apapun. Pikirannya sudah terlalu kusut untuk mencerna kalimat sepanjang itu. Lagipula tidak terlalu penting baginya siapa Pak Danu—selain untuk urusan berterimakasih. Mengucapkan terima kasih tidak perlu memandang status sosial, bukan? Jadi untuk apa dijelaskan panjang lebar soal jati diri Pak Danu?

Sebelum ustadz itu melunasi kalimatnya, Pak Danu keburu angkat bicara.

“Langsung ke intinya saja. Bapak denger, kamu sangat ingin kuliah. Jadi Bapak ada rencana untuk bantu kuliah kamu sampai selesai. Ini bukan tawaran, tapi keharusan. Bapak nggak mau denger penolakan.”

Mata Keilana mengerjap. Bingung.

“Kamu tenang aja. Bapak ikhlas bantu kamu. Kamu nggak perlu mikirin biaya apapun. Semuanya akan ditanggung,” sambung Pak Danu berusaha meyakinkan Keilana.

“Ini beneran?” tanya Keilana pelan.

Anggukan dan senyuman Pak Danu menerbitkan senyuman tipis di wajah sembab Keilana. Namun senyum itu mendadak lenyap dalam hitungan detik. Ada setitik keraguan tentang niat mulia pria gagah di hadapannya itu.

“Tapi kenapa Pak Danu baik banget? Saya kan bukan siapa-siapa….”

“Apa kita hanya bisa menolong orang yang kita kenal? Apa Bapak harus punya alasan untuk menolong orang lain? Selama Bapak mampu dan orang lain butuh pertolongan, kenapa harus mempertanyakan alasannya?” ujar Pak Danu masih tersenyum.

Telak. Keilana tidak punya argumen apapun untuk menentangnya.

“Udah Kei. Lu ambil aja. Kan lu pengen banget kuliah,” kata Madi memanas-manasi.

Bibir gadis itu terkunci. Hening. Mencoba mengajak otaknya yang letih untuk mempertimbangkan kesempatan luar biasa itu. Ia berusaha menemukan kemungkinan buruk. Namun semakin ia berpikir, semakin ia mengkhawatirkan masa depannya.

BiruLana

1 thought on “Mozaik 2 Yang Ditunggu, Hilang”

  1. Pingback: Manoj Punjabi - BiruLana

Tinggalkan Balasan Cancel reply