“Kei, mimpi apa lo bisa kuliah di sini?”
Keilana bergumam pada diri sendiri. Takjub pada takdir yang tiba-tiba membawanya ke salah satu kampus keren di Jakarta.
Yup! Akhirnya Keilana menyetujui tawaran kuliah dari Pak Danu. Dan di sinilah ia sore ini: duduk manis dengan para mahasiswa baru lain di dalam kelas. Bukannya mendengarkan sabda kakak tingkat di depan kelas, sorot mata bulatnya malah beredar. Mengamati dan menakar penampilan teman barunya satu per satu. Sialnya, semakin jauh pandangannya, semakin tinggi pula level insecurity-nya.
“KEILANA!”
Gadis yang dipanggil itu gelagapan sambil menutupi name tag di dada.
“Iya?!” balasnya dengan mata semakin bulat karena terkejut.
Kakak tingkat bernama Jeno Vashawn Dimitri itu menyilangkan tangannya di dada. Wajah manisnya terlihat masam. Ia berjalan mendekati gadis itu.
“Coba jelaskan ulang apa yang sudah disampaikan tadi,” perintah Jeno tegas.
Keilana mengerjap. Membisu. Beberapa detik kemudian, cengirannya terbit. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah lugu. Reaksi itu membuat wajah Jeno semakin masam.
“Kamu mahasiswi baru jalur beasiswa kan?” tanya Jeno berusaha sabar.
“Iya,” angguk Keilana polos.
“Harusnya sikap kamu mencerminkan itu. Hargai orang yang sedang bicara di depan. Paham kamu?” cerocos Jeno sangat berwibawa. Belum sempat Kei mengangguk, pemuda itu melanjutkan, “Nama kamu Keilana? Keilana saja?”
“Iya, Kak.”
“Keilana….” Jeno berbalik, berjalan tegap menjauhi gadis itu.
“Iya?”
“Siap mendapatkan hukuman?”
“Hah?! Salah aku apa, Kak Jeno?!”
Pertanyaan Keilana membuat pemuda itu kembali mendekatinya. Wajah itu menjadi lebih masam lagi ketika pertanyaan bodoh itu terlontar.
“Salah kamu? Kamu nggak menghargai kakak tingkat yang sedang bicara. Ini kampus bergengsi. Jaga sikap kamu,” desis Jeno menahan jengkel.
Hening. Tidak ada yang bersuara, termasuk Keilana.
“Tenang aja. Hukumannya nggak berat. Kamu cukup menulis surat permintaan maaf. Ingat, harus ada tandatangan kamu dan tandatangan kedua anak pemilik kampus ini. Ditunggu paling lambat lusa. Paham?”
Keilana menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Anak pemilik kampus ini? Siapa Kak?”
“Itu tugas kamu untuk cari tahu,” jawab Jeno menyeringai. Setelah itu, ia mengedarkan tatapan tajam ke seisi kelas. “Kalau ada yang tau, jangan sebut nama atau kalian juga ikut dihukum. Ngerti kan?!”
Tanpa aba-aba, mereka mengangguk. Semua mata mengarah pada Keilana yang masih kebingungan. Sepanjang Jeno berbicara di depan kelas, ia sama sekali tidak fokus. Kedua matanya memang mengikuti gerak-gerik Jeno, tapi pikirannya sibuk mencari jawaban tentang siapakah anak pemilik kampus ini. Dan ketika Jeno serta kakak tingkat lain meninggalkan kelas, Keilana buru-buru menghampiri Dian—teman baru yang sempat berkenalan dengannya sebelum masuk kelas.
“Di, lo tau nggak siapa anak yang punya kampus?”
Dian (teman baru Keilana) mengangguk sambil membereskan tasnya. “Tapi gue nggak bisa kasih tau lo. Denger sendiri kan tadi Kak Jeno bilang apa?”
“Yah….” Bibir Keilana mengerucut.
“Tapi gue bisa kasih info dikit,” sambung Dian yang membuat mata Keilana berbinar.
“Gimana gimana?”
“Clue pertama, dua anaknya satu fakultas sama kita. Ganteng semuanya, tapi nggak pentinglah itu ganteng atau enggak,” ucap Dian santai. Ia melanjutkan, “Clue kedua, anak pertamanya baik banget, tapi anak kedua… duh, kelakuannya kayak setan. Jadi lo harus hati-hati.”
“Kayak setan? Jahat banget dong. Kok gue jadi takut yak?”
“Asal lo nggak cari gara-gara aja sih. Kalo lo bikin salah sama dia, beuh… siap-siap merana lo di kampus,” tutur Dian sambil memainkan ponsel.
“Segitu banget?”
“Oh ya! Anak kedua ini udah kayak bos geng. Paling femes udah. Ya, doi ganteng banget sih emang. Tapi… gitu deh pokoknya. Arogan.”
“Lo jangan nakutin gue dong. Gue baru aja ngerasain kuliah nih,” ucap Keilana cemas.
“Gue nggak maksud nakutin. Cuma biar lo aware aja sih. Mereka tuh kakak adek but they’re totally different. Yang pertama, he looks like an angel, super handsome and gorgeous human being gitu deh. Nah adeknya ini just like an evil that escaped from the hell. Lo kebayang nggak sih ada kakak adek yang kelakuannya kontras banget? Bingung gue.”
“Gue lebih bingung lagi sama omongan lu. Bisa nggak pake bahasa Indonesia aja?”
Gadis bernama lengkap Diandra Asha Damayanti Neuser itu menatap Keilana dengan datar. “Lo udah masuk ke kampus ini, it means lo harus belajar bahasa Inggris. Oke? Lagian lo kan anak beasiswa. Bisa dong belajar cepet?”
“Iyaaaa, gue belajaaarrr. Tapi kan nggak sehari langsung bisa! Emangnya gue Einstein?”
Dian menghela napas lalu bengkit.
“Ya terserah. Yang penting lo sadar aja lagi kuliah di kampus keren,” ucapnya santai.
“Lo mau ke mana?” selidik Keilana.
“Pulang lah. Ya kali gue mau nginep di kampus.”
♪♫♪
“Gini ya rasanya kuliah….”
Bibir Keilana mengerucut. Ia tidak tahu kalau kuliah bisa semenyebalkan itu. Masa iya dihukum gara-gara lirik sana lirik sini? Ih…. Repot ya jadi mahasiswa.
Ia mengunyah siomay pedas dengan mata yang siap scan sana sini seperti tadi pagi. Rasanya tidak bosan ia memandangi kampus ini. Tidak hanya arsitektur dan desain kampus yang membuatnya kagum. Para mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang pun membuatnya takjub. Di matanya, semua anak muda di sana terlihat begitu berkelas, menawan dan pintar. Satu lagi! Bersih dan wangi!
Perlahan, ia menatap dirinya sendiri. Sepatu dan pakaian baru tidak cukup membuat dirinya terlihat semenarik para gadis itu. Tapi ia hanya tersenyum tipis seraya menatap sepasang sepatu putih pemberian Pak Danu itu. Ia percaya, kelak sepatu itu akan membawanya ke perjalanan luar biasa di masa depan.
Senyumannya terdistraksi oleh suara kursi yang tertarik.
Keilana mendongak. Seorang pemuda berkulit bersih dan berkaos hitam polos telah duduk di hadapannya dengan sekaleng cola di meja. Ia membawa hamburger di tangan kanannya dan tersenyum. Ehem! Tampan.
Mata Keilana mengerjap.
“Kursi lain penuh. Keberatan?” tanyanya.
“Enggak.” Keilana menggeleng cepat. “Duduk aja.”
“Lo anak baru, ya?”
Keilana mengangguk. Ia berlagak fokus pada jus alpukat, padahal matanya mencuri pandang. Demi biji alpukat, rasanya ia gregetan lahir batin melihat ketampanan para spesies jantan di kampus ini. Jika tadi pagi ia kagum setengah mati pada Jeno, maka detik ini kekaguman itu terarah pada….
“Gue Riga. Nama lo siapa?”
Duh, jantung Keilana hampir copot rasanya. Seumur-umur, baru kali ini ada cowok ganteng berbeda kasta mau menyapanya duluan. Sumpah ya, Keilana betulan tidak bermaksud genit. Ia hanya kaget. Shock. Terkejut bisa bertemu dengan manusia-manusia rupawan di kampus ini. Sepertinya, ia masih dalam masa penyesuaian setelah terlalu lama tinggal di slum area.
“Keilana. Aku anak manajemen,” jawab Keilana. Ada sensasi aneh di dadanya saat menyebutkan ‘aku anak manajemen’. Semacam rasa bangga dan terharu mengumpul karena akhirnya dia bisa kuliah.
Riga mengangguk-angguk sambil menggigit kentang gorengnya.
“Kamu kakak kelas ya berarti?’
“Yes. Gue lagi bikin tesis.”
Mata Keilana membulat. “Tesis? Apaan tuh? Minuman dari teh?”
Kentang dalam mulut Riga nyaris menyembur. Kunyahan itu terhenti. Ia hampir saja tertawa. Tapi wajah polos-polos bodoh Keilana membuatnya tawanya tertelan. Perlahan ia menelan makanannya.
“Tesis itu semacem tugas akhir buat syarat kelulusan S2. Jadi bentar lagi gue lulus,” jelas Riga sesederhana mungkin.
“Oh….” Bibir Keilana membulat. “Maaf ya, aku nggak tau. Maklum, anak kampung.”
“Nggak apa-apa. Ntar juga lo ngerti.”
Tiba-tiba Keilana merangsek, mencondongkan tubuhnya pada Riga hingga pemuda itu batal memasukan potongan kentang ke bibir tipisnya.
“Kak Riga, bisa bantuin aku nggak?” tanya Keilana pelan.
Riga menatapnya bingung—masih dengan kentang yang menggantung di tangannya.
“Apa?”
Sebelum menjawab, mata Keilana bergerak ke kanan dan kiri. Seolah memastikan jika tidak akan ada orang yang menguping pembicaraan rahasia itu. Kening Riga semakin berkerut-kerut melihat tingkah si adik tingkat.
“Anak yang punya kampus ini siapa sih? Tau nggak?” tanya Keilana polos.
“Tau.”
“Serius, Kak?!” ucap Keilana nyaris melonjak kegirangan.
Riga mengangguk. “Disuruh apa lo sama senior?”
Mendadak bibir Keilana mengerucut lagi mengingat kejadian tadi. Ia memainkan sedotannya dengan wajah tertekuk. Sementara itu, Riga kembali memasukkan kentang goreng ke mulut sambil menunggu cerita dari gadis itu.
“Aku dihukum gara-gara nggak dengerin Kak Jeno ngomong. Terus aku disuruh bikin surat permintaan maaf yang ada tandatangan anak yang punya kampus.”
Kepala Riga mengangguk-angguk.
“Jeno mau tandatangan dari anak yang mana?”
“Dua-duanya, Kak! Mana kan tadi temen aku bilang, anak pertamanya itu baik banget. Tapi yang anak kedua, kelakuannya kayak setan—“
“Uhuk! Uhuk!!!” Riga tersedak mendengar ucapan Keilana.
“Ya ampun, Kak! Pelan-pelan makannya!” panik Keilana menyodorkan cola di meja.
Secepat kilat, Riga menyambar cola. Untung saja potongan kentang itu gagal tersesat ke dalam saluran pernapasannya. Sembari mengarahkan kentang goreng ke jalan yang benar dan diridhoi oleh sistem pencernaannya, ia menatap Keilana dengan takjub. Baru kali ini ada yang berani bilang terang-terangan kalau kelakuan adiknya seperti setan.
“Udahan kan keseleknya?”
Riga mengangguk. Ia merapikan rambut hitamnya. Berusaha menata kembali harga dirinya yang sempat tumbang akibat tragedi keselek barusan. Tapi… serius… ia jadi penasaran dengan sosok gadis manis di hadapannya itu. Ia yakin, Keilana bukan datang dari kalangan berduit seperti dirinya. Terlalu jelas malah jika ia menilai dari outfit dan penampilan keseluruhan gadis itu.
“Kak Riga bisa bantu aku nggak?” pinta Keilana dengan wajah memelas.
“Temen lo tau kan siapa anaknya. Kenapa nggak nanya temen lo?”
“Nah itu dia, Kak! Kak Jeno nggak ngebolehin siapapun ngasih tau namanya. Siapapun yang ngasih tahu bakal dihukum.”
“Terus kenapa lo tanya gue? Nggak takut kalo gue dihukum?”
Keilana terkekeh-kekeh yang membuat alis Riga nyaris bertaut.
“Enggak dong, Kak. Kan kamu udah mau lulus. Itu berarti, Kak Jeno kan adik kelasnya Kak Riga. Masa iya Kak Jeno berani hukum Kak Riga. Enggak mungkin, kan?”
Riga tertawa mendengarnya. “Pinter juga lo.”
“Jadi Kak Riga mau bantuin aku?” Keilana bertanya untuk ketiga kalinya.
“Bisa. Mana suratnya?” senyum pemuda itu manis.
“Yah, aku belom bikin. Baru juga tadi. Aku juga bingung mau nulis apa,” keluhnya.
“Emmm, susah juga nih…. Belum tentu besok kita ketemu lagi.”
“Kalo gitu, aku minta nomer henpon Kakak!”
“Buat apa?”
“Biar bisa janjian hehehe,” sahut Keilana terkekeh dengan wajah tanpa dosa.
“Kenapa nggak janjian sekarang aja? Besok ketemuan di sini lagi jam tiga sore. Gimana?”
Keilana menggeleng.
“Ntar kalo Kak Riga nggak dateng gimana? Kalo Kak Riga lupa, aku nggak bisa hubungin dong. Aku nggak mau dihukum lagi. Jadi tolong dong Kak… aku minta nomor henponnya. Boleh, ya?” pinta Keilana dengan wajah lebih memelas daripada yang tadi.
Beberapa pasang mata terlihat menyoroti tingkah Keilana di kantin. Dengan suara Keilana yang cukup keras, mustahil mereka tidak mendengar. Tentu saja isi kepala mereka nyaris sama: berani-beraninya Keilana meminta nomor telepon seorang Auriga Kaivan, anak pertama pemilik kampus ini.
“Oke.”
“Aaak, makasih!”
Fiuh! Beruntung, Riga adalah tipe orang yang pandai membaca situasi. Ia menyodorkan ponsel mewahnya ke hadapan Keilana. Mata gadis itu langsung berbinar ria.
“Tulis nomer lo.”
Keilana mengangguk kuat-kuat dan menyambar ponsel itu.
“Ini,” ucapnya menyodorkan kembali ponsel itu.
Riga tersenyum menerima ponselnya. Beberapa detik kemudian, ia mengetik sesuatu dan mengirimkannya ke nomor Keilana. Senyum di wajah gadis itu merekah.
“Save nomor gue, ya.”
“Siap. Makasih, Kak.” girang Keilana memberikan gerakan hormat.
“Sama-sama.”
Gadis itu membereskan bekas makanannya di meja. Ia melirik jam dinding di kantin kampus, lalu menatap Riga. “Aku pulang dulu ya, Kak. Udah jam segini soalnya. Sekali lagi, makasih banyak udah mau bantu aku. Besok suratnya aku bawa. Kita ketemu lagi di sini, ya.”
“Oke,” angguk Riga setuju.
Keilana tersenyum lebar hingga giginya terlihat.
“Ya udah. Cabut dulu ya, Kak. Dadaahhh!”
“Tunggu!” tahan Riga.
Langkah Keilana tertahan, tapi senyumnya masih lebar saja. Terlihat cukup aneh sehingga Riga (lagi-lagi) menahan senyum. Tapi ada hal lain juga yang membuat bibirnya gatal sejak tadi. Telunjuknya mengarah pada Keilana.
“Iya, Kak?” heran gadis itu.
“Itu… ada cabe nyelip di gigi lo.”

Pingback: Manoj Punjabi - BiruLana