Dedi Padiku

Mengejar Mimpi

Mozaik 16 Nonversation

“Kenapa sih lo ngajak gue? Bukannya lo benci sama gue?” Benci? Iya. Kemarin-kemarin ia sangat membenci gadis itu. Biru mengakuinya. Tapi sejujurnya, ia juga tidak punya alasan kenapa menyeret Keilana tengah malam. Biru tidak tahu jawabannya. Karena itu, ia membisu. Membiarkan pertanyaan gadis itu mengambang tanpa jawaban. “Lo laper nggak?” tanya Keilana menyodorkan rainbow cake …

Mozaik 16 Nonversation Read More »

Mozaik 15 Senandika

Lifebuoy dan Dettol merangkak pelan. Berusaha mendekati potongan wortel yang Keilana letakkan di sudut kandang. Sementara itu, sang majikan hanya menatap kedua kura-kura Brazil itu sambil bertopang dagu. Pikirannya masih terlempar pada kejadian di mobil sore tadi. Sumpah! Sumpah! Ia tidak menyangka Biru sedermawan itu. Maksud Keilana… ayolaaahhh! Tahu sendiri kan bagaimana sadisnya Biru selama …

Mozaik 15 Senandika Read More »

Mozaik 14 Arunika

Pukul lima pagi. Biru mengendap-endap. Persis maling. Ketika berpapasan dengan Bi Marni dan Bi Sum, ia berlagak normal. Tersenyum manis pada kedua asisten rumah tangganya hingga dua perempuan itu berpandangan heran. Oh, baiklah. Senyuman manis di pagi hari itu tidak normal untuk seorang Biru. Pokoknya bukan Biru banget! Tapi di luar itu, semuanya terlihat seperti …

Mozaik 14 Arunika Read More »

Mozaik 13 Satu Atap

Keramaian acara pindah-pindah Keilana membuat Riga berubah pikiran. Itulah alasan utama kenapa akhirnya malam itu ia duduk di rumah Zara. Bertatap muka sembari menyesap jus apel yang tidak terlalu manis. Sialnya, Zara masih belum sampai di rumah. Sudah berulang kali Riga menghubunginya tapi nihil. Jadilah saat ini ia hanya bisa memandangi Dian yang tengah khusyuk …

Mozaik 13 Satu Atap Read More »

Mozaik 12 Eunoia

Hal yang selalu terjadi hampir setiap hari adalah Keilana makan malam sendirian di balkon apartemen. Tidak benar-benar sendirian jika Lifebuoy dan Dettol ia boyong ke sana. Kemudian memberikan sepotong buah untuk mereka makan berdua. Romantis. Kura-kuranya yang romantis, bukan Keilana. “Jakarta indah kalau malam.” Dulu ia tidak percaya itu. Tinggal di permukiman kumuh tidak pernah …

Mozaik 12 Eunoia Read More »

Mozaik 11 Kulminasi

Keilana berhasil meloloskan diri dari perang di Sabtu malam. Namun bukan Biru namanya jika menyerah tanpa pembalasan apapun. Semesta pun memutuskan untuk mempertemukan Biru dan Keilana kembali dalam sebuah drama siang hari ini. Tepatnya di kantin kampus yang cukup ramai itu. Gadis manis itu tengah menunduk, khidmat menikmati sepiring nasi goreng seafood yang masih setengah …

Mozaik 11 Kulminasi Read More »

Mozaik 10 Sorai

Gitar tua nan usang itu tergolek di pojokan kamar. Keilana duduk merenung di dekat jendela. Menerawang melewati horizon dengan satu album foto di tangan kirinya. Itu adalah satu-satunya album foto yang ia miliki tentang ayah dan ibu. Itu pun ketika ia masih balita. Sisanya? Boro-boro untuk foto. Untuk makan saja sudah ketar-ketir. “Ayah, kangen….” Semburat …

Mozaik 10 Sorai Read More »

Mozaik 9 Kala

“Biru sakit.” Ingin sekali Keilana percaya dengan omongan Dian semalam. Tapi melihat Biru yang berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin dan tajam serta dalam kondisi segar bugar, rasanya mustahil baginya untuk percaya. Pemuda itu sengaja menghalangi jalannya di pukul dua siang ini. “Lo nggak jalanin hukuman ya kemaren?” tanya Biru dingin. Lihat? Dari kelakuan dan …

Mozaik 9 Kala Read More »

Mozaik 8 Petrikor

Sesekali suara dentingan sendok dan piring terdengar di dining room keluarga Danuwijaya Hadiyanto. Pria separuh baya itu melahap healthy oatmeal with fruit and nuts. Riga (si sulung) tengah menggiling soto daging sapi di dalam mulutnya. Sementara itu, Biru sibuk mengaduk-aduk susu cokelat yang hangat. Wajahnya terlihat masam. Sesekali ia melirik ke arah ayahnya, membuat rasa …

Mozaik 8 Petrikor Read More »

Mozaik 7 Blasteran Surga Berhati Neraka

“Kei, gue nginep di tempat lo dong ntar malem.” Kunyahan Keilana terhenti. Ia menatap Dian untuk meminta penjelasan. “Gue lagi kesel sama kakak gue. Males ngeliat mukanya.” Kunyahan di waktu senja itu berlanjut. Keilana mengangguk sambil menyandarkan punggung di bangku taman kampus yang sepi. Meskipun mulutnya aktif menggiling makanan, tapi matanya bergerilya di segenap penjuru. …

Mozaik 7 Blasteran Surga Berhati Neraka Read More »