Mozaik 15 Senandika

Lifebuoy dan Dettol merangkak pelan. Berusaha mendekati potongan wortel yang Keilana letakkan di sudut kandang. Sementara itu, sang majikan hanya menatap kedua kura-kura Brazil itu sambil bertopang dagu. Pikirannya masih terlempar pada kejadian di mobil sore tadi.

Sumpah! Sumpah!

Ia tidak menyangka Biru sedermawan itu. Maksud Keilana… ayolaaahhh! Tahu sendiri kan bagaimana sadisnya Biru selama ini? Tahu sendiri kan bagaimana sombongnya Biru yang terus-terusan menghina seorang Keilana? Lalu yang tadi itu apa? Pencitraan? Tapi Biru kan bukan politikus yang suka pencitraan sana sini demi popularitas!

“Dia ngasih sumbangan, tapi mukanya jutek banget. Nggak senyum sama sekali,” gumam Keilana masih berpikir keras. “Jadi dia itu gimana sih?”

“Kei,” panggil Riga mengetuk pintu.

“Iya, Kak,” sahut Keilana segera bangkit dan mengakhiri lamunannya tentang Biru. “Kenapa, Kak?”

“Lagi ngerjain tugas?”

“Enggak, Kak. Udah selesai barusan.”

“Pas banget!” ucap Riga menjentikkan jari. “Gitaran, yuk.”

“Boleh! Boleh!” angguk Keilana berbinar. Cepat-cepat ia menyambar gitar tuanya di sudut kamar dan kembali menemui Riga dengan riang. “Ayo!”

Keduanya pun duduk manis di kursi dekat kolam renang. Belum sempat memetik gitar, Nana (kucing lucu milik Biru) menggesekkan bulu lembutnya pada kaki Keilana dan mengeong manja.

“Lucu banget…,” puji Keilana gemas.

“Namanya Nana. Kucing kesayangannya Biru,” jelas Riga sambil menggendong si mahluk berbulu itu. Ia mengelus-ngelus perut Nana sebelum membiarkan mahluk lucu itu berlari ke dalam rumah. “Tau nggak? Yang punya piaraan di rumah ini cuma Biru sama elo.”

“Kakak nggak pengin miara?”

Riga menggeleng. Diambilnya gitar yang sempat tergeletak di lantai. Dengan santai, ia memetik senar hingga menghasilkan melodi yang indah.

“Seni. Itu yang jadi hiburan dan hobi gue.”

“Kok nggak kuliah di seni aja?”

Riga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan mulai memainkan sebuah lagu. Saudade milik Kunto Aji.

Dikatakan oleh angin yang menghasilkan gelombang
Jadilah besar bestari dan manfaat ‘tuk sekitar
Dikatakan awan hitam sebelum datangnya hujan
Biarlah aku dikutuk dan engkau yang dirayakan

Perjalanan takdir dan kenangan
Berselimut doa, hangatnya akan terjaga

Selalu ada menemanimu
Sampai kita dihapus waktu
Jadi jadi besar dan bestari
Serap serap yang baik untukmu

Keilana terpikat. Terpaku sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan bertepuk tangan kecil untuk Riga. Ia sudah mengira, Riga pasti bersuara merdu. Bicara setiap hari saja suaranya sudah indah, apalagi bernyanyi. 

“Kenapa nggak jadi artis aja, Kak?”

“Ntar gue jawab. Tapi ada syaratnya,” ucap Riga melirik gitar tua Keilana.

“Apa tuh?’

“Ajak gue ngamen.”

“Hah?!” Keilana menganga. “Jangan becanda deh, Kak!”

“Gue serius. Gue pengen ngerasain nyanyi di pinggir jalan. Seru kayaknya.”

“Panas, Kak. Emang Kakak mau panas-panasan?”

“Gak masalah. Pengalaman itu lebih berharga daripada takut panas-panasan. Kulit masih bisa dipulihin. Santai aja.”

“Riga,” panggil Bu Tika tiba-tiba menghampirinya sambil membawa satu kotak kue yang terbungkus cantik dalam paper bag.

Sontak Riga menoleh. “Iya, Ma?”

“Anterin ini ke rumahnya Tante Fira,” pinta Bu Tika yang langsung diiyakan oleh putra sulungnya itu. Sepeninggal Riga, wanita berparas ayu itu duduk dan menatap Keilana dengan serius. “Betah di sini?”

Keilana mengangguk seraya tersenyum. “Betah, Tante.”

“Betah karena Riga, Biru, atau karena hidup enaknya?”

“Emmm… semuanya bikin betah,” jawab Keilana polos. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa pelan, “Soalnya biasa hidup susah, Tante.”

Bu Tika melipat tangannya. Wajahnya jadi lebih serius dari yang tadi.

“Kalau masih mau hidup enak, jangan berani genit ke Riga atau Biru. Tolong tahu diri.”

Seketika air muka Keilana berubah.

“Tapi Tante, saya nggak pernah genit ke Kak Riga sama Biru. Kan Tante denger sendiri, saya sama Biru berantem mulu. Hehehehe,” jelas Keilana terkekeh, berusaha membela diri.

“Alasan,” komentar Bu Tika sinis.

“Kenyataannya gitu, Tante. Jujur, saya juga capek berantem terus sama Biru. Tapi Biru tuh suka banget jahatin saya.”

“Jadi sekarang kamu bilang kalau Biru itu jahat? Anak tante bukan orang jahat.”

“Bukan, Tante. Maksudnya, suka isengin saya,” ralat Keilana cepat.

“Sudah. Diam.”

Keilana benar-benar diam.

“Jaga sikap kamu selama tinggal di rumah ini. Jangan karena suami saya itu sahabat orangtua kamu, kamu jadi bertindak seenaknya.”

Jempol Keilana teracung. “Oke, Tante!”

“Jaga jarak kamu dari anak-anak saya. Saya tidak mau kamu bawa pengaruh buruk buat mereka. Paham?”

♪♫♪

Orang kelaparan tengah malam?

Keilana sering melihatnya. Bahkan ia pun kerap begitu saking melaratnya. Ketika hidupnya sudah mulai enak pun, tetap saja ada momen ia kelaparan tengah malam. Contohnya sekarang. Itulah alasan kenapa ia berjingkat-jingkat ke dapur. Masalahnya, belum sampai di dapur, ia mendengar suara kecipak air dari kolam renang.

Siapa orang gila yang berenang tengah malam?

Hmmmm….

Keilana menikung dari dapur. Ia mengendap-endap ke arah kolam renang. Khawatir kalau sampai ada maling masuk dan bermain di sana. Namun ekspektasinya runtuh melihat sosok yang ia kenal.

Biru.

Satu pertanyaan besar dalam batok kepalanya, kesambet apa Biru hari ini?

Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di kepalanya. Ia berjalan pelan, hati-hati dan sembunyi-sembunyi mendekati tumpukan baju Biru dan handuk di dekat kolam renang. Tenang saja, Biru terlalu asyik berenang. Mana sempat Biru tidak menyadari kehadiran Keilana? Maka ide nakal gadis itu pun berjalan mulus, semulus kulit Lisa Blackpink. Ia membawa kabur benda itu ke kamarnya sambil tersenyum puas.

“Duh, kan gue mau ambil makanan…,” rutuk Keilana kembali membuka kamar dan berjalan mengendap-endap ke dapur. Ia membuka kulkas dengan hati-hati. Bibirnya membulat. “Hooo, kue pelangi….”

Tak kurang dari lima menit, Keilana berbalik dengan satu slice kue dan sebotol air dingin.

“Aahh!” pekik Keilana tertahan.

Sumpah demi apapun! Jantung Keilana nyaris merosot ke lutut saking kagetnya!

Bagaimana tidak?! Biru tiba-tiba berdiri di sana. Topless! Hanya mengenakan celana pendek untuk berenang. Tangannya terlipat di dada. Memberikan kesan mengintimidasi sekaligus… uhuk! Seksi….

“Pakaian gue mana?”

“Mana gue tau,” jawab Keilana dengan suara pelan.

“Nggak usah boong. Cuma lo sama security yang masih bangun.”

“Disembunyiin jin kali,” sahut Keilana berusaha menutup matanya.

Biru melangkah mendekat dengan badan yang masih basah dan tubuh yang… gagah. Tidak peduli dengan Keilana yang setengah mati berusaha melindungi matanya dari godaan aurat Biru. Semakin Biru mendekat, Keilana kian terpojok. Melangkah mundur mata tertutup dan dada yang berdebar.

Blukkk!

Punggung ramping itu menabrak kulkas. Tidak ada ruang lagi untuk mundur.

Mati gue…. mati! Keilana menjerit dalam hati.

“Gue tanya sekali lagi. Baju gue mana?”

“Nggak tau.”

“Hhhh….” Biru menghela napas. Tiba-tiba ia menarik tangan Keilana. Memaksa gadis itu mengikuti langkahnya. “Lo bikin gue kesel, ya.”

“Mau ke mana?”

“Kamar lo. Ambil baju gue.”

Wajah Keilana memucat. “Nggak! Nggak! Stop!”

Permohonan itu terabaikan. Biru tidak peduli dan tetap menyeret Keilana ke kamar. Setiba di kamar, Biru menemukan pakaiannya teronggok di ranjang. Ia mengalihkan pandangannya pada Keilana. Tajam dan menyelidik hingga membuat Keilana menggigit bibir. Oppsss….

“Itu apa?” tanya Biru menunjuk pakaiannya.

Keilana membuang muka dan menjawab ketus, “Baju.”

Kelakuan gadis itu membuat Biru mendengus kesal.

“Lo tuh udah salah, nyolot lagi,” gerutu Biru menyambar pakaiannya dan memasuki bathroom dalam kamar itu. Keilana ingin menahan, tapi terlambat. Beberapa detik selanjutnya, pemuda itu berkata cukup keras, “Ukuran lo 34/75? Renda hitam? Selera lo boleh juga.”

Wajah Keilana merah.

Biru bangsat!!!

“Mesum banget sih lo! Keluar! Buruan!” maki Keilana jengkel.

“Lo mau liat gue telanjang?”

“NGGAK!” balas Keilana melotot.

“Ya udah, diem! Gue pake baju dulu!”

Mau tidak mau, Keilana menahan diri. Gawat juga kalau suara mereka terdengar anggota keluarga yang lain. Bisa jadi fitnah nanti. Bisa-bisa ia terdepak dari rumah itu. Jangan deh! Jangan sampai.

“Celana gue di situ dulu. Biar diberesin Bi Marni,” kata Biru sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Diam-diam ia mengambil ponsel gadis itu yang tergeletak di nakas. Ia melirik Keilana yang masih berdiri canggung, enggan menatapnya. 

“Keilana.”

“Apa?”

Tapp!

“Ikut gue.”

Lagi-lagi Biru menarik tangan Keilana. Hobi sekali ia menyeret-nyeret gadis itu. Sepertinya ia sangat tidak suka menerima penolakan, sama seperti ayahnya. Tapi… ayolah! Keilana masih punya dua kaki normal. Keilana masih bisa berjalan sendiri!

“Mau ke mana lagi sih?”

“Keluar. Jalan-jalan,” sahut Biru singkat.

“Lo gila?! Ini udah tengah malem!”

1 thought on “Mozaik 15 Senandika”

  1. Pingback: Manoj Punjabi - BiruLana

Tinggalkan Balasan Cancel reply