Home BiruLana Mozaik 14 Arunika

Mozaik 14 Arunika

by Dedi Padiku

Pukul lima pagi.

Biru mengendap-endap. Persis maling. Ketika berpapasan dengan Bi Marni dan Bi Sum, ia berlagak normal. Tersenyum manis pada kedua asisten rumah tangganya hingga dua perempuan itu berpandangan heran.

Oh, baiklah. Senyuman manis di pagi hari itu tidak normal untuk seorang Biru. Pokoknya bukan Biru banget! Tapi di luar itu, semuanya terlihat seperti pagi yang normal. Biru bangun jam lima pagi? Itu normal. Biasanya Riga pun akan bangun di jam yang sama. Lalu keduanya jogging sejenak di sekitar kompleks atau hanya di halaman rumah. Entah berbarengan, entah sendirian. Biasanya sih begitu….

Di kamar barunya, Keilana membuka tirai berwarna putih tulang. Ia tersenyum pada cahaya matahari pagi yang masih menyembul malu-malu. Detik selanjutnya, ia mengalihkan fokus pada bingkai foto keluarga kecilnya di nakas.

“Ayah, ibuk, Keilana janji bakal kuliah yang rajin. Keilana nggak bakal nyia-nyiain kesempatan. Keilana bakal jadi orang sukses. Pokoknya Keilana bakal angkat derajat keluarga,” tekad Keilana mengepalkan tangan kirinya. Sebuah afirmasi yang sangat positif. Masih dengan senyuman, ia menyambar handuk dan bersiap-siap mandi.

Semuanya masih berjalan normal dan tenang di pagi hari yang damai itu. Semua orang bersiap-siap untuk memulai aktivitas. Lalu satu per satu turun, berkumpul di dining room. Sebuah peraturan tidak tertulis di rumah itu adalah harus makan bersama di ruang makan. Untuk alasan itulah, Keilana sudah duduk manis di ruang itu. Tentu saja setelah pintu kamarnya diketok berulang kali oleh Bi Sum.

“Pagi, Kei. Gimana tidurnya? Enak?”

“Pagi, Kak Riga. Enak banget kok. Hari ini Kakak ke kampus nggak?”

Riga menggeleng sambil meraih selembar roti tawar. “Ntar lo ke kampus sama siapa?”

“Berangkat sama Biru aja,” sambar Pak Danu yang baru tiba.

Biru tidak memberikan komentar apapun. Ia duduk tenang sambil mengunyah buah melon. Itu tandanya, dia tidak keberatan. Hmmm… menarik.

“Nggak usah, Om. Jadwal saya jam delapan pagi. Takutnya nggak sama.”

“Biru mau berangkat jam berapa?”

“Kelas pertama jam delapan,” sahut Biru singkat.

“Tuh. Kebetulan, kan? Udah, kalian berangkat sama-sama.”

Keilana menatap Biru. Memastikan kalau tidak ada penolakan dari pemuda aneh itu.

“Gue nggak mau tunggu-tungguan. Jadi pastiin lo udah siap sebelum gue.”

Bibir Keilana membulat. “Serius?”

“Iya.”

“Ya udah.”

“Gitu dong. Akur,” senyum Pak Danu puas sambil menyodorkan roti tawar pada Keilana. Ia menunjuk segelas susu di samping Keilana. “Habisin dulu.”

Buru-buru Keilana menggeleng. “Enggak, Om.”

“Lho, kenapa?”

“Itu… anu, Om… perutnya sakit kalo minum susu sama makan roti pagi-pagi….”

“Kenapa baru bilang, Nak?” tanya Pak Danu menghela napas. Ia memberi isyarat pada Bi Marni. “Bi, tolong buatkan nasi goreng untuk Keilana.”

“Ah, kelamaan!” komentar Biru tiba-tiba.

“Nggak usah, Bi. Aku sarapan di kampus aja,” tolak Keilana cepat.

“Biru, tunggulah sebentar.”

“Pa, dosenku tuh killer.”

“Tumben peduliin dosen killer,” sindir ayahnya pelan. “Lho, Bi Marni kenapa masih berdiri di situ? Ayo cepat bikinkan nasi goreng untuk Keilana.”

“Nggak usah, Bi!” tahan Keilana cepat. “Nasi sama mentega aja.”

Bi Marni mengangguk. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sepiring nasi hangat dengan lelehan margarin gurih di atasnya. Keilana tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Biru masih duduk tenang dengan segelas susu di tangan kanannya. Memandangi Keilana yang tengah khidmat bersama nasi margarin.

“Mama mana?” tanya Riga.

“Belum bangun. Kecapekan,” sahut Pak Danu meletakkan gelasnya. Ia menatap kedua putranya bergantian.  “Papa mau keluar kota hari ini. Kemungkinan dua sampai tiga hari. Kalian baik-baik ya di rumah. Jagain mama sama Keilana.”

“Siap, Pa.”

Biru mengetuk-ngetuk meja. “Udah belom?”

“Bentar,” jawab Keilana menyambar segelas air putih.

“Langsung ke mobil,” ucap Biru.

Ia bangkit dan berjalan keluar. Meninggalkan Keilana yang langsung meningkatkan kecepatan minumnya. Ketika suara pintu mobil dibuka terdengar, ia pontang-panting menuju rak sepatu. Namun dalam sekejap, air  mukanya berubah.

“Sepatu gue mana?” keluhnya sambil menyusuri setiap lapis rak.

“Udah belom?!” teriak Biru dari luar.

“Bentar! Sepatu gue ilang!”

“Yaelah!”

“Tunggu!” panik Keilana kebingungan. Ia mencari sepatunya ke segala penjuru ruangan. “Aduh… perasaan gue taroh sini deh.”

“Lo pake ojek ajalah! Gue keburu telat nih!”

“Bentaran na—“

Suara mobil yang menderu membuat teriakan Keilana tertelan. Shit!

“Neng,” panggil Bi Marni pelan sambil melambaikan tangan.

Keilana mengacak rambutnya dengan kesal. “Kenapa, Bi?”

“Sini deh. Ikut Bibi,” jawab Bi Marni masih pelan.

Tingkah laku Bi Marni yang aneh membuat Keilana penasaran. Ia mengikuti langkah asisten rumah tangga itu hingga keluar rumah. Sampai pada satu titik, perempuan itu menunjuk pohon magnolia dengan wajah takut-takut.

Seketika mata Keilana melotot.

“BIRUUUUU!!!!!”

Sepatu-sepatunya bertengger manis. Terikat syahdu di dahan pohon itu.

Baru kali ini Bi Marni melihat ada pohon magnolia berbuah sepatu….

♪♫♪

“Materi hari ini selesai. Ada yang belum jelas?”

Layaknya anak-anak kampus lain, semua kompak diam. Ambigu antara mengerti atau tidak. Yang sudah mengerti, biasanya malas menjawab. Yang belum paham sudah terlanjur terjebak antara gengsi atau insecure. Padahal jika ditanya satu per satu, niscaya akan ketahuan kalau hanya 30% yang paham apa yang dijelaskan oleh Pak Edgard.

“Baik. Sepertinya semua sudah paham, ya. Kelasnya sampai di sini. Selamat siang.”

“Siang, Pak.”

Hampir seisi kelas menjawab, kecuali Biru yang sibuk memuji diri sendiri (dalam hati) tentang ide briliannya yang menyembunyikan sepatu-sepatu Keilana di pagi buta. Sesekali ia menengok ponselnya. Ia akan lebih puas jika Keilana menghubunginya lalu marah-marah. Sayangnya, yang ia tunggu sama sekali tidak terjadi. Justru nama Zara yang muncul di layar ponsel.

Biru tidak peduli. Toh mereka ada di kelas yang sama.

Lo butuh? Lo samperin gue. Itulah prinsip yang dipegang Biru.

“Biru, gue mau ngomong,” pinta Zara yang akhirnya muncul di hadapannya.

“Apa?’”

“To the point,” ucap Biru sibuk memasukan buku ke dalam tas.

“Lo marah sama gue?”

“Menurut lo?”

“Lo marah sama gue,” jawab Zara cepat. “Kenapa? Soal Keilana?”

“Soal kelicikan elo,” ralat Biru tiba-tiba menatap Zara intens. “Lo manfaatin Keilana buat milikin gue. Lo udah karang cerita yang sama sekali nggak lucu. Lo paksa gue tunduk untuk ego dan kepuasan lo. Gue nggak suka.”

“Untuk ego gue? Untuk perasaan gue ke elo, Biru. Gue sayang sama lo.”

“Jangan kasih rasa sayang lo buat gue. Gue nggak bisa kasih apa-apa.”

“Nggak perlu kasih apa-apa. Lo ada buat gue aja udah cukup.”

“Cukup buat lo? Iya, lo mungkin bahagia,” sahut Biru makin memandang Zara dalam. “Tapi gue enggak. Gue nggak pernah ada perasaan sayang buat lo. Percuma lo pertahanin gue. Gue nggak bisa sama orang kayak lo.”

Zara membeku. 

Matanya memanas. Hatinya retak. Sialnya, ia seolah bisa mendengar suara patahnya yang membuat perasaannya tertusuk. Sakit. Sakit banget.

“Udah cukup ngobrolnya,” kata Biru beranjak, berlalu dari hadapan Zara.

Gadis itu masih mematung dengan wajah menahan tangis di tempatnya berdiri. Tiba-tiba langkah Biru terhenti. Ia itu berbalik yang membuat Zara kembali menumbuhkan harapan. 

“Satu lagi. Jangan anggep gue mantan lo. Hubungan kita kemarin cuma karena ancaman. Kita nggak pernah bener-bener pacaran,” sambung Biru dengan wajah tanpa dosa.

Hancur. Seketika hati Zara hancur.

♪♫♪

“Gue bete banget!!!”

“Pantesan dia santai aja pas bokapnya nyuruh bareng gue! Gue pikir dia udah tobat!!!”

Keilana menyeruput air dari tumblr.

“Eh, taunya dia udah sembunyiin semua sepatu gue! Kan rese!”

Kicauan Keilana mengisi sore di rooftop. Mata Dian hanya mengikuti sosoknya yang mondar-mandir sejak tadi. Tentu saja dengan mulut yang pantang menganggur—mengunyah keripik kentang sedari tadi.

“Untung lo tetanggaan sama gue!” lanjut Keilana. Tiba-tiba ia menunjuk Dian hingga gadis itu berhenti makan. Matanya membesar. “Coba lo bayangin jadi gue! Tinggal serumah sama si setan yang tiap hari ngerjain lo!”

“Ya udah… keluar aja. Balik ke apartemen.”

“Nggak bisa! Om Danu tuh maksa gue buat tinggal di sana….”

“Ya udah….”

Keilana menghela napas dengan wajah merajuk dan bibir mengerucut.

“Lo jangan minta nginep di rumah gue, ya.”

Mata Keilana menyipit. “Emang kenapa?” 

“Nyokap sama Zara nggak akan bikin lo betah di rumah. Ntar, tunggu gue pindah ke kost atau apartemen aja.”

“Lo pake apartemen gue aja. Sayang, udah dibayar setahun sama Om Danu.”

“Nggak ah. Nggak enak gue. Lagian bokap gue mampu kok beliin apartemen baru.”

“Terus kenapa nggak minta?”

“Belum waktunya. Gue harus stay di rumah nyokap sampe akhir tahun, baru bokap bakal kasih apartemen buat gue. Doi pengen gue deket sama nyokap dulu.”

Bibir Keilana membulat.

Bermenit-menit mereka menghabiskan waktu di sana. Rooftop seolah menjadi tempat pribadi mereka. Entah kenapa mahasiswa lain jarang ke sana. Mungkin mereka terlalu malas mengeksplor kampus. Atau memang merasa rooftop itu bukan tempat nongkrong yang asyik. Mungkin beda cerita jika ada kantin atau kafe di sana.

Getaran ponsel menyela obrolan Keilana dan Dian. Satu nama muncul di sana; Setan Biru.

“APA LO?!” semprot Keilana jengkel.

“Lo nggak punya sopan santun?”

“Ngapain gue sopan sama lo?!”

“Lo di mana?”

Alis Keilana bertaut galak. “Ngapain nanya gue di mana?!”

“Kita pulang bareng. Gue nggak mau kartu gue diblokir bokap gara-gara lo.”

“Itu masalah lo! Siapa suruh ngerjain gue pagi-pagi!”

“Nggak usah teriak-teriak. Gue nggak budeg. Lo di mana?”

“Di atap!” jawab Keilana langsung mematikan panggilan.

Bibirnya langsung menggerutu tidak karuan. Merutuki betapa sialnya hidup jika ia bertemu Biru setiap hari. Kalau bukan demi masa depan, demi lapisan mesosfer, ia tidak sudi tinggal serumah dengan Biru. Tidak akan sudi meskipun Israel dan Palestina berdamai! Tidak akan sudi hingga tujuh turunan, tujuh tikungan, dan tujuh tanjakan. Hell, NEVER!

“Pasti Biru sama Zara putus sekarang,” gumam Dian sambil merebahkan badannya.

Daun telinga Keilana tegak mendengarnya.

“Gue nggak sengaja denger obrolan Kak Riga sama Zara. Gue nggak terlalu tau detailnya, tapi garis besarnya gue cukup paham,” sambung Dian tertawa pelan. Ia menghela napas. “She deserves it.”

“Maksudnya?” tanya Keilana bingung.

“KEI!!!”

Teriakan keras Biru dari arah pintu membuat jantung Keilana nyaris meloncat. Sontak ia berbalik. Keningnya berkerut melihat Biru yang datang dengan napas terengah-engah.

“Jangan bunuh diri lo ya!” maki Biru mendekati Keilana.

“Hah?” Keilana menganga.

“Lo lemah banget! Baru dikerjain pagi-pagi udah mau bunuh diri!”

Alis Keilana beradu. “Lo ngomong apa sih?”

“Hahahahaha!” tawa Dian pecah. Ia bangkit perlahan sambil memegangi perutnya yang kaku karena terlalu kencang tertawa. Masih dengan tawa yang mengudara, ia menunjuk-nunjuk Biru. “Lo kira Keilana mau bunuh diri?! Nggak lah! Kita emang biasa nongkrong di sini!”

Ops! Wajah Biru memerah bak tomat matang. Salah paham ternyata.

“Awas aja kalo lo berani bunuh diri,” ucap Biru mengalihkan malu.

Keilana berkacak pinggang. “Emang kenapa kalo gue bunuh diri? Takut gue gentayangin?”

“Yang ada, arwah lo yang gue kerjain! Gue jadiin konten TikTok sama Snack Video biar arwah lo nggak punya harga diri lagi!”

“IH!” kesal Keilana melengos.

“Jam berapa kelar kuliah?” tanya Biru ketus.

“Masih ada satu matkul lagi!”

“Kabarin gue kalo udah kelar. Gue tunggu di ruang biasanya,” ucap Biru.

Usai melunasi kalimatnya, ia berbalik. Pergi meninggalkan Keilana yang berwajah masam. Persetan dengan wajah masam itu, Biru tidak menerima penolakan. Apa yang ia mau harus ia dapatkan. Termasuk pulang bersama Keilana sore ini.

Biru memasuki ruangan dengan wajah berpeluh yang membuat Jeno mengangkat alis.

“Darimana lo sampe keringetan gitu?”

“Olahraga,” jawab Biru singkat. Ia menghempaskan pantatnya di kursi empuk. “Kita harus ngadain malam pengakraban buat UKM musik.”

“Pasti. Itu agenda wajib tiap tahun,” angguk Jessica yang diamini Jeno. Gadis berambut hitam panjang itu melanjutkan, “Lo udah ada rencana buat detail acara?”

Staycation di resort keluarga gue.”

“Bandung?” tanya Jeno.

“Jakarta.”

Jessica mengangguk. “Oke. Kapan?”

“Dua minggu lagi.”

Obrolan semi rapat itu terhenti karena suara ketukan pintu. Tiba-tiba wajah Keilana menyembul dari pintu yang sedikit terbuka. Ia menyengir.

“Ada apa, Kei?” heran Jeno melihat tingkah aneh Keilana.

“Itu… emm… nggak jadi kelas. Dosennya izin mendadak.”

“Ya… terus?” tanya Jeno makin bingung.

“Gue pulang duluan,” sambar Biru sebelum percakapan panjang yang tidak ia inginkan muncul. Buru-buru ia mendorong wajah Keilana yang menyembul. “Keluar.”

“Ih, kasar!” rutuk Keilana menepis tangan Biru.

“Jalan 30 meter di belakang gue,” perintah Biru dengan wajah menyebalkan.

“Gue nggak punya meteran!”

“Buat apa?”

“Ngukur jarak di antara kita.”

“Lo kira-kira aja, Jubaedah!”

Andai saja Pak Danu ada di antara mereka saat ini, pasti kepalanya hampir meledak karena mendengar perdebatan tidak berfaedah antara Keilana dan Biru. Keduanya sama-sama keras kepala. Sama-sama punya kata untuk saling membalas. Maka perdebatan sengit itu selalu berakhir pada kemungkinan 50:50. Antara Biru yang kicep, atau Keilana yang kehabisan kata tangkisan.

Keilana menatap mobil Biru dengan kagum. Mewah.

“Mobil lo ganti lagi?” 

“Perhatian banget lo sama mobil gue,” sahut Biru membuka pintu mobil yang otomatis. “Masuk. Jangan sampe gue tinggal lagi.”

Keilana memutar bola matanya dengan malas sebelum menduduki jok mobil mewah itu.

“Baju gue masih sama lo?” 

“Nggak. Udah gue buang.”

Biru melotot. “Kenapa dibuang?!”

“Kan lo yang minta!”

“Lo bilang mau disimpen!”

“Kemaren-kemaren lo nyuruh gue buang. Lo sampe ngerjain gue, ngatain gue. Sekarang lo marah-marah setelah gue buang! Mau lo apa?!”

Biru mendengus jengkel. “Lo buang di mana?”

“Auk dah. Udah dipakek kali sama pemulung,” jawab Keilana acuh tak acuh.

“Lo buang di mana?!”

“Gue buang di kali. Lo mau cari sampe kiamat juga nggak bakal ketemu.”

Biru masih ingin meluapkan kekesalannya. Tapi percuma juga jika dipikir-pikir. Baju yang sudah dilarung di sungai itu tidak akan kembali. Ia pun memilih diam. Fokus menyetir dan membelah kemacetan di Jakarta. Sesekali ia menurunkan kaca jendela mobil. Menjulurkan tangan untuk tangan-tangan mungil dan lusuh di lampu merah.

“Kak, nggak ada kembaliannya,” keluh anak laki-laki itu.

“Nggak usah.”

Mata anak kecil itu berbinar-binar. “Makasih, Kak.”

Pemuda itu tidak menjawab. Ia menaikkan kaca jendela sambil memberikan koran yang baru ia beli pada Keilana. Gadis itu terdiam. Bingung. Barusan Biru memberikan uang seratus ribu dan tidak meminta kembalian. Wow… orang kaya kadang memang gila.

Di lampu merah berikutnya, Biru kembali menurunkan kaca jendela mobil.

“Pak!”

Seorang lelaki tua penjual minuman tergopoh-gopoh menghampiri Biru. Wajah legam dan keriputnya terlihat berbinar, bahagia karena akhirnya mendapatkan calon pembeli.

“Mau yang mana, Mas?” 

“Enggak, Pak. Saya bukan mau beli,” jawab Biru yang membuat raut wajah bapak tua itu mendadak mendung. Biru mengambil amplop-amplop dari tasnya. Tanpa senyuman, ia menyodorkan segepok amplop pada bapak itu sambil berkata, “Satu amplopnya lima ratus ribu. Dibagi sama yang lain.”

Seketika Keilana melongo.

Hari ini semesta menunjukkan sisi lain seorang Biru padanya.

Related

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: