Mozaik 9 Kala

“Biru sakit.”

Ingin sekali Keilana percaya dengan omongan Dian semalam. Tapi melihat Biru yang berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin dan tajam serta dalam kondisi segar bugar, rasanya mustahil baginya untuk percaya. Pemuda itu sengaja menghalangi jalannya di pukul dua siang ini.

“Lo nggak jalanin hukuman ya kemaren?” tanya Biru dingin.

Lihat? Dari kelakuan dan nada bicaranya saja sudah membuat rasa simpati Keilana terlempar jauh ke Segitiga Bermuda. Percuma ia mendengar info dari Dian tentang Biru.

Albiru Kavi sakit?

Pffttt! Bullshit! Orang itu tidak sakit.

Sakit jiwa? Mungkin.

“Yang kemaren itu orang suruhan elo?” selidik Keilana.

“Jawab pertanyaan gue.” tegas Biru.

“Harus?”

Tatapan Biru menajam. “Sejak kapan lo berani sama gue?”

“Sejak lo keterlaluan jadi manusia.”

“Lo tau kan konsekuensinya? Yang kemaren masih belum cukup?”

Keilana mengangguk-angguk. “Fix. Yang kemaren suruhan elo.”

Biru menyeringai. “Masih kurang? Yakin lo kuat?”

“Lo lupa kalo gue anak jalanan?” tanya Keilana dengan wajah datar. Ia menepuk-nepuk pundak Biru yang membuat pemuda itu berhenti menyeringai. Sekarang, gantian Keilana yang tersenyum. “Gue udah biasa hidup keras. Lo mau jahatin gue lagi? Gue nggak akan kalah. Gue nggak akan pernah pergi dari sini sebelum gue lulus. Ngerti lo?”

“Keras kepala juga lo,” desis Biru menepis tangan itu dari pundaknya. “Lo siap-siap aja.”

“Lo yang siap-siap. Lo ngajak perang gue, sama aja lo perang sama batu. Lo mukul gue? Lo yang kesakitan. Lo yang makin berdarah. Liat aja ntar.”

Biru hanya tersenyum miring sebelum melengos dari hadapan Keilana.

Selepas kepergian Biru, Keilana menarik napas panjang. Hampir seluruh mata tertuju padanya pagi ini. Saat ia memandang balik mereka satu per satu, tatapan itu terlempar ke arah lain. Mereka pura-pura tidak tahu. Klasik.

Dengan langkah gontai, ia berjalan memasuki ruang UKM musik. Hari ini ia sedikit terlambat. Ruangan itu sudah diisi oleh beberapa orang yang berasal dari berbagai fakultas dan jurusan. Beberapa di antaranya tersenyum yang membuat Keilana merasa diterima. Tanpa ragu, ia membalas senyuman itu dan segera mendekati seorang gadis yang memegang biola.

“Hai, gue Keilana.”

Gadis itu tersenyum. “Giselle.”

“Registrasi ulangnya di siapa, ya?”

“Gue,” sahut seseorang yang membuat Keilana menoleh dan mengerjap takjub. Wajah orang itu melunak. “Keilana, lo pegang instrumen apa?”

“Gitar. Kak Jeno pegang apa?”

“Sama,” jawab Jeno singkat. Ia mengambil selembar formulir dan menyodorkannya pada gadis itu. “Isi.”

Keilana mengangguk. Bermenit-menit ia habiskan untuk mengisi formulir pendaftaran. Ketika ia menyerahkan kembali lembaran itu, Jeno mengernyitkan dahi.

“Lo bisa nyanyi?”

“Bisa, Kak.”

Jeno mengangguk-angguk sebelum menunjuk ke stage. “Coba lo nyanyi di stage.”

“Nyanyi apa, Kak?”

“Apa aja.”

“Baik, Kak,” ucap Keilana berjalan ke panggung dengan percaya diri. Namun begitu sadar semua orang memandanginya, rasa percaya diri itu merosot. Terlebih ketika melihat sosok Riga yang tiba-tiba berdiri di pintu. Oh, jadi ini rasanya demam panggung?

“Kok bengong?” heran Jeno.

“Grogi, Kak,” jawab Keilana polos yang membuat semua orang tersenyum. Bahkan Riga terang-terangan menahan tawanya di pintu sana. Wajah Keilana memerah. Padahal cuma di panggung kecil begini, kenapa ia begitu grogi?

Ia berusaha tenang, menarik napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya bersenandung.

Katanya mimpiku ‘kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata maaf, sayang aku harus pergi

Semua orang mendadak bisu. Tersedot dalam alunan suara merdu Keilana yang tak diduga-duga. Suara itu, nada itu, penjiwaan gadis itu… menusuk hati. Seolah mereka tersedot masuk ke dalam lirik lagu Rumpang.


Sudah ku ucap semua pinta
Sebelum ku memejamkan mata
Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi

Banyak yang tak ku ahli, begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli, begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli, begitu pula menyambutmu tak kembali

Suara itu membuat Riga melangkah mendekat. Hatinya tersentuh. Mungkin suara Keilana belum seindah Nadin Amizah, tapi penjiwaan gadis itu membuat semuanya terdengar syahdu. 

Katanya, mimpiku, akan terwujud
Mereka, berbohong, mimpiku tetap semu

Senandung itu terhenti. Semua orang masih terdiam yang membuat Keilana kikuk sendiri.

“Emmm…. Udah, Kak,” ucap Keilana pelan.

“Oh!” Jeno menarik napas panjang. Ia mengangguk dan tersenyum. “Oke. Bagus.”

Tatapan kekaguman mengikuti Keilana turun dari panggung—tidak terkecuali Riga. Keilana hanya tersenyum kikuk saat melewati pemuda itu. Ia masih terbayang kejadian semalam. Sumpah, ia sangat malu bertemu Riga dalam keadaan super kacau, berantakan. Dan sekarang ia bingung, sedang apa Riga di sini?

Ah, sudahlah. Siapa peduli?

Ini kampus milik ayah Riga. Terserah Kak Riga juga kan mau muncul di mana pun? Keilana bermonolog dalam ruang imajinasinya.

“Suara lo bagus juga. Yang jam terbangnya udah tinggi emang beda, ya.”

Pujian Riga menghentikan langkahnya. Ia tersenyum. Berbalik dan menatap Riga.

“Jam terbang apaan sih, Kak. Biasa aja. Cuma ngamen kok.”

“Emang ngamen itu ngapain? Ngepel aspal?”

“Ya… nyanyi sih,” jawab Keilana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasa kikuk tadi sirna seketika. Riga memang pandai menguasai suasana dan obrolan.

“Kok bisa sih suara ngomong sama nyanyi lo beda banget?”

“Beda gimana?”

“Pas ngomong gini, suara lo cempreng kayak tikus kejepit. Pas nyanyi kok enak, ya? Sopaaaan banget masuk telinga.”

Bibir Keilana langsung mengerucut. Baru saja akan menyahut, tiba-tiba ia melihat Biru memasuki ruangan dengan satu cup kopi di tangan kanannya. Pandangan keduanya beradu, tapi tidak membuat Biru membatalkan niatnya untuk memasuki ruangan. Ia mendekati Jeno sambil menyesap kopi.

“Udah sembuh lo?” sapa Jeno.

Oh, Biru sakit beneran? Keilana membatin sambil melirik ke arah Biru.

“Persiapan buat event musik kita udah berapa persen?” tanya Biru.

Kuping Keilana mendadak tegak mendengarnya. Matanya membesar. Persiapan buat event musik kita? Maksudnya, Biru juga ikut UKM musik???

“Properti udah siap. Tinggal ngedekor gedung pertunjukan kita aja,” jelas Jeno kemudian mengarahkan dagunya ke spot lain. “Tuh sebagian propertinya.”

Biru mengangguk paham. Mata tajamnya terarah properti yang teronggok di pojok ruangan. Mendadak matanya menyipit untuk memastikan sesuatu. Tanpa pikir panjang, ia mendekati properti itu dan mengeceknya satu per satu.

“Spanduknya mana?” tanya Biru sambil mencari di tumpukan.

“Ada di situ harusnya.”

Biru berbalik dan menggeleng. “Nggak ada.”

“Serius?” tanya Jeno akhirnya ikut mencari.

Mendengar itu, spontan Riga menatap Keilana. Tentu saja ia masih ingat bagaimana gadis itu membawa spanduk hingga ke mall dan duduk mendeprok di lantai. Persis orang tidak waras. 

“Spanduk yang lo bawa itu bukan?” tanya Riga yang membuat bibir Keilana membulat.

“Jadi lo yang ngambil spanduknya?” sela Biru sebelum gadis itu membuka suara.

“Iya, eh enggak! Kan waktu itu lo—“

“Spanduknya di elo?” potong Biru lagi.

“I-iya sih. Ta—“

“Tujuan lo ngambil spanduk apaan? Lo sengaja mau ngacauin acara kampus? Anak baru aja udah berani bikin masalah lagi.”

“Kok lo jadi nuduh gue gini?! In—“

“Spanduknya ilang. Terus jelas-jelas lo bilang ada di elo,” ucap Biru datar. “Lo nyuri spanduknya? Buat apa? Lo mau ngancurin reputasi kampus?”

“BIARIN GUE NGOMONG!!!” teriak Keilana menggelegar hingga suasana hening.

Biru menatap Keilana dengan benci. “Oh, dari tadi lo bukan ngomong? Kentut, ya? Pantes busuk.”

“BRENGSEK LO YA!!!” amuk Keilana merangsek sambil menyingsingkan lengan baju.

“Eittt!!! Stop! Stop!” 

Dengan gesit, Riga memegang dan menahan tubuh gadis itu.

“LEPASIN GUE!!!”

“Kei, tenangin diri lo…,” dekap Riga susah payah mengunci tubuh gadis itu. “Udah dong! Duh… kuat juga lo.”

“Lo ngapain sih nahan dia? Lepasin. Biarin dia ke sini,” kesal Biru menatap Riga.

Kalimat Biru membuat Keilana kian tertantang. Semakin kuat ia memberontak hingga Riga nyaris tidak bisa menahannya lagi. Nyaris karena tentu saja tenaga Riga lebih besar. Itu makin membuat Keilana jengkel setengah mati. Tanpa pikir panjang, ia menggigit tangan Riga.

“Aaaargh!!!” teriak Riga terkejut hingga dekapan itu terlepas.

Suasana kian ricuh. Tidak ada seorang pun yang berani menahan langkah Keilana yang mendekati Biru. Sementara itu, Biru hanya tersenyum miring sambil membuka cup kopinya.

“MULUT LO TUH—“

Byurrr!!!

“Ouch!” Semua orang menjerit tertahan.

Keilana menganga, memandangi dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya. Belum sempat tangannya menjambak Biru, ia keburu basah kuyup tersiram es kopi. Tubuhnya terpaku beberapa detik.

“I told you,” kata Biru menyeringai.

Seringaian itu masih terukir selama sepersekian detik. Tidak peduli pada tatapan murka Keilana yang menelanjanginya. Tiba-tiba gadis itu merangsek dan….

“AAAARGGHHH!!!”

Lolongan Biru melesat ke udara. Tapi itu tidak mengurangi tenaga Keilana untuk menjambak rambutnya. Makin keras Biru melolong, makin keras pula jambakan gadis itu.

“Rasain lo!!! Enak?! Hah?!” maki Keilana kian bersemangat menjambak.

Tangan Biru terkepal yang membuat mata Jeno melotot. Bahaya!

Sebelum kepalan tangan Biru melayang keras ke tubuh Keilana, Jeno menahan dengan gerakan cepat. Riga yang masih kesakitan, buru-buru melerai pertengkaran itu. Ia kembali mendekap Keilana meskipun tahu konsekuensinya—digigit lagi.

“STOOOPPPPP!!!”

Teriakan melengking seorang gadis secara ajaib mampu menghentikan pertengkaran itu. Semua mata mengarah pada gadis yang baru datang itu. Dia adalah Zara. Riga dan Jeno menghembuskan napas lega. Sementara itu cengkeraman Keilana pada Biru terlepas.

Zara mendekati pusat keributan dengan wajah kesal. Tangannya menyilang di dada.

“Sumpah, kalian kayak anak-anak,” ucapnya menatap Keilana dan Biru bergantian. Ia mengambil beberapa tisu dan mengusap wajah basah Keilana.

“Makasih,” ucap Keilana ketus.

“Sama-sama.”

Jeno menghela napas. “Kei, lo pulang duluan aja hari ini.”

Tanpa menyahut, Keilana berbalik dan menyambar ranselnya. Sepanjang jalan, ia terus menggerutu. Mengumpat sambil menyebut nama Biru. Diabaikannya tatapan heran orang-orang yang heran melihatnya basah kuyup. Ia menghampiri Dian yang baru saja akan menikmati sepiring indomie di kantin.

“Di.”

Dian batal memasukan mie ke dalam mulutnya. Ia mengangkat kepalanya dan… tidak heran mendapati Keilana datang dengan kondisi kacau (lagi).

“Lo diapain lagi sama Kak Biru?”

Keilana tidak menjawab. Ia membanting pantat di depan Dian dengan wajah tertekuk dan mata berkaca-kaca. Seketika selera makan Dian hilang. Membuatnya meletakkan kembali garpu sebelum menyambar tas dan berdiri.

“Pulang yuk. Jangan nangis di sini.”

Keilana mengangguk. Gontai mengikuti langkah Dian menuju tempat parkir yang tidak jauh dari sana. Mobil berwarna putih itu terparkir rapi di pojokan. Semua terlihat baik-baik saja, sampai akhirnya Keilana menyadari sesuatu saat akan membuka pintu.

“Di….”

“Hmmm?”

Keilana menatap bagian bawah mobil. “Ban mobilnya ilang….”

♪♫♪  

Di parkiran, Dian asyik duduk selonjoran sambil menikmati sepiring indomie dan es jeruk. Ia mengunyah makanan dengan santai. Beberapa meter di depannya, dua orang laki-laki sedang memasang ban mobil baru. Ia tidak terlihat marah atau kesal perihal pengrusakan mobil. Ia tahu pasti siapa pelakunya dan merasa percuma juga marah-marah. Bukan karena takut, ia hanya malas saja menghabiskan energinya untuk orang tidak berguna seperti Biru. She has money to fix the car, that’s enough.

Tapi ke mana kah gerangan Keilana?

Oh, rupanya gadis itu sedang di toilet dengan membawa pakaian ganti dari mobil Dian. Jujur, ia merasa sangat bersalah pada Dian. Temannya itu tidak melakukan apapun, tapi ikut kecipratan sial. Meminjam baju saja sudah membuatnya tidak enak, apalagi sampai pengrusakan mobil. Biaya memperbaiki mobil pasti tidak murah!

Rahang Keilana mengeras.

Sumpah ya, ia benar-benar tidak paham kenapa Biru sampai sejahat itu. Kenapa sampai meluapkan kekesalannya pada Dian juga?! Apa penderitaan seorang Keilana tidak cukup bagi Biru? Bahkan untuk alasan Biru jahat padanya pun, demi Tuhan, Keilana masih belum paham.

Bermenit-menit ia habiskan waktunya untuk mengganti pakaian. Dengan wajah yang masih tertekuk, ia membuka pintu dan merapikan diri di depan kaca wastafel. Rambutnya basah dan lengket. Tanpa pikir panjang, ia membasuh rambutnya di wastafel hingga basah kuyup. Biarin ajalah, pikirnya sambil membuka pintu keluar dari toilet.

Tidak terbuka.

Wajah Keilana memucat. Ia kembali mencoba sekuat tenaga membuka pintu. Tapi nihil.

“Woy! Bukain dong!!!” Tanpa pikir panjang, ia berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Ia yakin 1000% pasti akan ada yang mendengar dan menolongnya. Keilana tidak tahu jika masalahnya tidak sesederhana itu….

Di luar, tiga orang gadis terkikik-kikik mendengar teriakan itu. Ketika ada orang lain yang mendengar teriakan itu dan berusaha menolong, maka mata ketiga gadis itu berkilat-kilat tajam. Mulut-mulut bergincu itu akan melontarkan ancaman-ancaman yang membuat sang calon penolong mundur dari misi baik hati. Maka, makin lama lah Keilana terjebak dalam ruangan itu….

“Siapa di dalem?”

Kemunculan Riga membuat kikikan ketiganya berhenti.

“Jawab,” ucap Riga tegas.

“Keilana….”

Jawaban itu membuat Riga menarik napas panjang.

“Siapa yang nyuruh? Biru?” tanya Riga lagi. Sayangnya ketiganya tidak berani bersuara. Kebisuan mereka membuat Riga yakin akan hipotesisnya. Ia menjulurkan tangan. “Kuncinya mana?”

Salah satunya merogoh saku dengan cepat dan menyerahkan kunci.

“Bisa banget kalian dapet kuncinya…. Btw, stop ngerjain Keilana walaupun Biru yang nyuruh. Lo pada inget, gue ahli waris pertama. Jadi gue lebih berhak buat mengeksekusi apapun daripada Biru. Ngerti?”

Ketiganya mengangguk. Wajahnya pucat.

“Pergi,” perintah Riga.

Mengabaikan ketiga gadis itu, Riga membuka pintu yang sejak tadi digedor-gedor Keilana. Ketika pintu terbuka, ia disambut oleh wajah Keilana yang memerah menahan tangis. Naluri pelindung seorang Riga terusik hebat. Refleks ia memeluk sambil menepuk punggung gadis itu.

“It’s ok…. Udah aman….”

Tangisan Keilana tumpah.

BiruLana

Tinggalkan Balasan

Turn on JavaScript to leave a comment.