Mozaik 12 Eunoia

Hal yang selalu terjadi hampir setiap hari adalah Keilana makan malam sendirian di balkon apartemen. Tidak benar-benar sendirian jika Lifebuoy dan Dettol ia boyong ke sana. Kemudian memberikan sepotong buah untuk mereka makan berdua.

Romantis. Kura-kuranya yang romantis, bukan Keilana.

“Jakarta indah kalau malam.”

Dulu ia tidak percaya itu. Tinggal di permukiman kumuh tidak pernah membuatnya bisa melihat keindahan Jakarta seperti yang ditampilkan oleh video iklan Visit Jakarta atau Visit Indonesia. Boro-boro! Yang ia lihat saban hari hanyalah rumah petak super sederhana, berjubelan, dan kumuh. Namun di sanalah seni hidupnya. Di sana lah ia bisa memaknai keindahan dan kebahagiaan kecil.

Tidak muluk.

Menemukan sebuah boneka di tumpukan sampah saja sudah membuatnya kegirangan. Memandangi bunga mawar yang secara ajaib tumbuh di dekat rumah kumuhnya saja sudah begitu indah baginya.

Sekarang?

Ia percaya. Ia bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana gemerlapnya Jakarta di malam hari. Semua ini karena apartemen lantai tujuh yang diberikan Pak Danu untuknya.

“Hhhh….” Keilana menghela napas sebelum memberikan sepotong wortel untuk Dettol. “Tol, Biru bakal tetep ngerjain gue nggak, ya?”

Hening. Hanya suara klakson dari bawah sana yang menyahuti kalimatnya. Keilana menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya tidak lepas dari konstelasi bintang yang tidak ia ketahui namanya. Telunjuknya mengarah pada tiga bintang yang berjejeran. Paling terang.

“Riga…. Zara…. Biru….” Sebuah perumpamaan kecil dari Keilana untuk menggambarkan betapa berkilaunya ketiga manusia itu di kampus.

Tokkk! Tokk! Tokkk!

Ketukan pintu mengakhiri kesendiriannya di pukul tujuh malam. Keilana melesat ke arah pintu. Sebelum ketukan selanjutnya terdengar, ia membuka pintu dengan wajah penasaran.

“Bonsoir,” senyum Riga yang membuat matanya sipit. Menggemaskan. Tiba-tiba tangannya terangkat, memamerkan satu paper bag bergambar cheesecake. “Gue bawain kue.”

“Kakak kenapa ke sini?”

Suara itu terdengar kurang bersahabat. Seketika ekspresi Riga berubah. Senyumnya hilang. Ia menurunkan tangannya. Ada yang berubah sejak kejadian tadi siang. Senyum Keilana tidak ada untuknya. Wajah gadis itu mendung. Membuat Riga bertanya-tanya dalam hati, apa perihal yang mengganjal hati Keilana?

“Gue nggak boleh masuk?”

Keilana diam.

“Kalau om boleh masuk nggak?” tanya Pak Danu yang tiba-tiba muncul hingga Keilana terkejut. Pria gagah itu tersenyum. Persis Riga. “Kita ngobrol-ngobrol sebentar, ya?”

“Masuk Om,” ucap Keilana singkat. “Duduk.”

Pak Danu mengedarkan pandangannya sambil duduk. “Betah di sini?”

“Betah, Om.”

“Bagus,” kata Pak Danu mengangguk-angguk.

“Mau ngobrol apa?”

“Mulai besok, kamu tinggal di rumah om.”

“HAH???” Seketika Keilana melongo. “Saya nggak salah dengar, kan?”

“Nggak dong, Kei. Kenapa? Lo nggak suka?” tanya Riga menimpali. Sebelum Keilana menjawab, Riga menambahkan. “Kalo lo ada kesulitan di kampus, lo bisa nanya gue.”

Keilana menggeleng. “Biru yang nggak suka.”

Nama Biru membuat Pak Danu menarik napas panjang. Si bungsu itu memang sudah cukup banyak membuat kepalanya pening. Sepertinya Albiru Kavi tidak menyukai siapapun dalam hidupnya. Hampir selalu tidak ada yang benar di mata anaknya itu. Membawa Keilana ke rumah mungkin ide yang sangat buruk bagi Biru. Tapi Pak Danu telah bulat tekadnya. Tidak bisa diganggu gugat.

“Biru memang begitu. Banyak hal yang nggak dia suka tanpa alasan,” ujar Pak Danu pelan.

Alis Keilana bertaut. “Kenapa?”

“Om minta maaf atas nama Biru. Dia pasti udah nyusahin kamu di kampus.”

“Kok jadi Om yang minta maaf?” bingung Keilana.

“Biru itu mengidap gangguan kepribadian antisosial. Selama yang om tau, dia belum pernah bilang maaf ke orang lain. Jadi om merasa harus bertanggung jawab untuk minta maaf.”

Keilana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak ngerti maksudnya.”

“Intinya, Biru yang kasar, temperamen, impulsif, dan nggak peduli sama bahaya itu adalah bagian dari gangguan itu. Sederhananya begitu, Kei,” jelas Riga.

“Maksud om mengajak kamu tinggal di rumah itu baik. Om mau kamu bisa akrab sama Riga dan Biru. Terutama Biru. Om kan sudah janji di depan makam ayah kamu. Om juga sudah bilang kalau kamu itu tanggung jawab om. Jadi om akan berusaha biar Keilana merasa nyaman dan terlindungi.”

“Tapi Om—“

“Seperti biasa. Ini bukan tawaran, tapi kewajiban,” sela Pak Danu tersenyum penuh kemenangan. “Besok malam, om kirim mobil ke sini buat bantu kamu pindahan ke rumah.”

♪♫♪

Keilana pikir, kejadian kemarin akan membuatnya aman dari kejahatan Biru yang terkutuk. Faktanya, sore itu pantatnya menempel manjalita di kursi kelas. Bukan kursinya yang dibaluri lem, tapi celananya. Entah siapa yang diam-diam mengoleskan lem di celana gombrongnya. Yang jelas siapapun itu, ia pasti suda pro dalam hal oles mengoles atau menuang lem. Keilana benar-benar tidak merasakan ada yang menyentuh bokongnya.

Dian memijat kepalanya.

“Kei, sehariiii aja. Bisa nggak idup lo tenang? Pusing gue liat lo dikerjain.”

“Gue lebih pusing,” keluh Keilana berusaha menarik pantatnya dari lem jahanam itu.

Mahasiswa lain memandangi Keilana sambil tersenyum. Sebagian terkikik-kikik berjalan keluar kelas karena mata kuliah hari ini telah berakhir.

“Pelakunya pasti anak kelas ini,” gumam Dian.

“Tau darimana?”

“Lemnya cepet kering. Kalo dari luar kelas, nggak mungkin bakal senempel itu.”

Keilana menyerah. Ia memandangi Dian dengan wajah memelas. “Lo ada bawa celana cadangan nggak?”

“Kenapa emang? Lo mau lepas celana di sini?”

“Gue capek ngangkat pantat dari tadi.”

“Unfortunately, no.”

“Yah….” Keilana mendesah kecewa.

“Gue keluar dulu,” ucap Dian melesat pergi.

“Yah! Yah! Kok gue ditinggal?!”

“Mau beliin celana buat lo! Tunggu di sini!” teriak Dian yang sudah menghilang dari kelas.

Untuk kedua kalinya, Keilana mendesah kecewa penuh beban. Mempertanyakan pada angin, apa gunanya pertemuan kemarin kalau hasilnya sama saja? Apa gunanya kemarin ia ke rumah Biru? Toh ujung-ujungnya ia dikerjai lagi.

Hei!

Keilana lupa, obrolan kemarin masih menggantung. Tidak ada penyelesaian apa-apa selain terkuaknya dua fakta. Pertama, Pak Danu adalah ayah Biru dan Riga. Kedua, alasan di balik kebaikan Pak Danu padanya adalah karena beliau bersahabat dengan ayah Keilana. Hanya itu.

Derapan langkah yang tegas terdengar memasuki kelas. Keilana menoleh. Biru tengah mengarah padanya. Tentu saja dengan wajah dingin. Pemuda itu seolah tidak punya ekspresi lain selain dingin, datar, marah, dan seringai jahat. Setidaknya itu menurut Keilana.

“Apa? Mau minta maaf?”

Biru duduk di hadapan Keilana. “Nggak.”

“Terus ngapain lo ke sini? Mau ngerjain gue lagi?”

“Nggak.”

“Numpang bernapas di kelas gue? Pergi lo.”

“Ini kampus punya bokap gue.”

“Terus?”

“Lo nggak bisa ngusir gue.”

“Oh.”

Hanya satu gumaman yang meluncur dari bibir Keilana. Setelah itu, ia terdiam tanpa mau melihat Biru. Sebaliknya dengan Biru. Pemuda itu masih duduk, tapi memandang Keilana dengan tatapan yang sulit dimengerti.

“Lo nggak boleh tinggal di rumah gue.”

“Rumah bokap lo,” ralat Keilana.

“Yang kelak bakal jadi punya gue.”

“Omongin yang sekarang aja. Bisa nggak lo nggak usah bawa-bawa kekayaan bokap lo? Gue tau keluarga lo kaya, nggak perlu dijelasin lagi.”

“Nggak usah ngatur.”

“Lo nggak mau diatur, tapi lo mau ngatur gue,” balas Keilana sewot.

“Ini permintaan gue,” ucap Biru cepat. Tubuhnya condong pada gadis itu. “Tetep tinggal di apartemen lo. Ngerti?”

“Kenapa emang? Jelasin ke gue.”

“Gue nggak suka ada orang asing di rumah.”

“Pembantu sama sopir bokap lo kan orang asing. Kok lo nggak apa-apa?”

“Lo mau gue anggep pembantu?” balas Biru menajam. “Gue nggak mau liat lo di rumah. Gue nggak suka.”

“Itu masalah lo.”

“Kenapa sih lo nggak ngerti juga?! Lo pengen banget hidup enak?!”

“Ya maulah!” sahut Keilana tanpa dosa. Ia menyambung, “Lagian ya, gue udah nolak ke bokap lo. Tapi dia sama Kak Riga maksa. Gue harus ikutin.”

“Riga lagi.” Biru menarik napas panjang. Terdengar tidak suka Keilana menyebut nama kakaknya. Ia bangkit dan menunjuk-nunjuk jidat lebar gadis itu. “Lo suka sama Riga?”

“Apaan sih?” Keilana mendengus, menepis telunjuk Biru dengan kesal.

“Ikut gue,” kata Biru tiba-tiba menarik tangan Keilana.

“Ahhh!!!”

Alhasil, gadis itu memekik karena pantatnya masih menempel di kursi. Biru menghentikan aksinya dan memandang heran. “Celana lo nempel?”

“Pakek nanya lagi! Lo kan yang ngerjain gue?!”

“Enggak!”

“Terus siapa?!”

“Nggak tau.”

“Iiihhhh!”

“Kei!” panggil Dian. Kehadiran Dian yang kembali dengan bungkusan plastik membuat pertengkaran itu terhenti. Langkah yang cepat tadi, kini melambat saat melihat Biru memegang tangan Keilana.

“Ini celana sama guntingnya, Kei,” ucap Dian menyerahkan bungkusan itu pada Keilana. Kemudian tatapannya terlempar pada Biru. “Ada perlu apa ke sini?”

“Ngomong sama Keilana,” jawab Biru singkat.

“Keluar. Kei mau ganti celana.”

“Lo ngusir gue juga?”

Dian mengangkat bahu. “Kalo lo mau di sini ya nggak apa-apa sih. Asal lo nggak risih aja liat cewek ganti celana depan lo.”

“DI!” Keilana melotot.

Tanpa banyak cakap, Biru keluar dari kelas itu. “Gue tunggu di luar!”

Tidak butuh waktu lama bagi Keilana untuk mengganti celana. Celana berlemnya telah compang-camping. Terbelah karena ia tidak sabaran ingin lepas dari jeratan celana berlem. Kurang dari sepuluh menit, ia dan Dian pun keluar dari kelas dengan wajah lega.

“Udah?” tembak Biru.

“Udah.”

Tappp!

“Ikut gue.”

♪♫♪  

Suara ketikan laptop mengisi kamar Riga. Berpadu dengan kelembutan aesthetic music tiga jam non stop yang menenangkan. Sesekali ia berhenti mengetik, menghirup keharuman lavender essential oil yang menguar dari difuser berbentuk Totoro. Puas mengisi paru-parunya dengan keharuman, jarinya kembali menari di keyboard laptop. Semua ini demi tesis yang tepat waktu, kalau bisa lebih cepat. Ia tidak suka terjebak lama-lama di fakultas ekonomi.

Ponselnya berbunyi. Ketikannya terhenti.

“Iya, kenapa Ra?” sapa Riga.

“Biru kenapa sih?” cerocos Zara to the point.

“Tanya Biru lah. Kenapa tanya gue?”

“Kali aja lo tau sesuatu. Gue dicuekin sejak semalem.”

“Biru kan biasa cuek. Masalahnya apa?”

“Gue kan ceweknya, Kakak Aurigaaaaa. Masa iya ceweknya juga diperlakuin sama kayak yang lain? Nggak gitu dong,” keluh Zara.

Riga tersenyum aneh. “Ra, kayaknya lo lebih tau daripada gue.”

“Maksudnya?”

“Lo di mana? Bisa dateng ke rumah nggak sekarang?”

“Gue di kampus.”

“Uhmmm….” Riga menggumam, sejenak terdiam sebelum melanjutkan, “Kita ngobrol lewat video call deh. Lo cari tempat sepi.”

“Nggak bisa. Gue ada kelas bentar lagi. Ntar aja gue ke situ. Bye.”

Tuuuttt…. Panggilan berakhir.

Diletakannya ponsel pada nakas sebelum menutup laptop. Sudah tiga jam ia menekuni tesis di depan laptop. Kini ia mencuri waktu untuk memetik gitar sebagai pelepas penat.

“Hey Google, turn the music off,” ucap Riga sambil menduduki sofa di dekat jendela kaca besarnya. Musik itu pun terhenti. Perlahan, suara petikan gitar mengisi keheningan kamar. Belum selesai satu lagu, tiba-tiba ia berhenti. Matanya menyipit, memandang ke luar rumah.

Sosok Keilana yang hadir bersama Biru mencuri perhatiannya. Aneh.

Hari ini pasti Biru bolos. Uhm… atau bisa jadi Zara yang berbohong kalau ada kelas. Namun apapun alasannya, keberadaan Keilana yang bermuka masam bukanlah sebuah pertanda baik. Riga penasaran. Ia sangat ingin tahu apa yang terjadi. Tapi kali ini ia menahan diri. Biarkan saja. Toh mulai malam ini, mereka akan tinggal bersama di rumah itu. Lama-lama pasti ia akan tahu juga.

Keilana menoleh ke arah kamar Riga. Pemuda itu tersenyum, tapi Keilana tidak.

Kasihan.

“Lo bikin gue bolos UKM musik,” gerutu Keilana. Ia lupa kalau Biru ada di UKM yang sama. Tapi masa bodoh. Kepentingannya sekarang adalah marah-marah pada Biru yang telah menculiknya!

“Denger,” ucap Biru mulai serius. “Gue mau ngomong lagi ke bokap. Lo harus iyain apa yang gue bilang. Ngerti?”

“Nggak!” sahut Keilana ketus.

“Perintah sederhana aja lo nggak paham. IQ lo berapa sih?”

Keilana tidak peduli. Membuat Biru menatapnya kesal, lalu meraih tangannya. Gadis itu tidak melawan. Diikutinya langkah cepat Biru dengan malas-malasan. Ia hanya tersenyum kecut ketika Bi Marni menyapa. Formalitas. 

“Papa mana?” tanya Biru.

“Di ruang kerja.”

Langkah Biru pun kembali melesat cepat hingga membuat Keilana sedikit berlari untuk mengikuti kaki panjangnya. Dan untuk pertama kalinya, Keilana menginjakkan kaki di lantai kedua rumah keluarga Pak Danuwijaya Hadiyanto itu. Ia melirik sol sepatu ketsnya yang kotor. Ah, sudahlah. Siapa peduli? Toh bukan salah Keilana. Biru yang menyeretnya.

Pintu terbuka dengan sedikit kasar hingga membuat Pak Danu terkejut.

“Ada apa ini?”

“Aku sama Kei habis ngobrol,” ucap Biru datar.

“Oh, bagus,” sahut Pak Danu mengangguk senang. “Terus kenapa kalian kemari?”

“Mau bilang ke Papa, Kei nggak mau tinggal di sini. Dia lebih nyaman tinggal sendiri di apartemen. Lebih ngerasa bebas di sana.”

Sejenak Pak Danu terdiam. Ia menatap Kei penuh tanda tanya.

“Jadi kamu tetap menolak tinggal di sini?”

Keilana menggeleng. “Enggak kok, Om. Saya mau.”

Refleks, Biru memelototi Keilana dengan sorot mata kesal. Sangat kesal. Sementara itu, Keilana hanya tersenyum licik. Tidak peduli pada tatapan gila Biru. 

“Kei, kita udah sepakat,” rutuk Biru.

“Kita? Lo nggak denger gue bilang ‘enggak’?” balas Keilana santai.

Perdebatan kedua anak muda itu membuat Pak Danu melipat tangannya di dada dengan wajah serius. Ia menarik napas panjang sebelum berkata tegas, “Keputusan papa tidak bisa diganggu gugat. Keilana tetap tinggal di sini.”

“Nggak. Aku nggak setuju!” tolak Biru keras.

“Makin kamu nggak setuju, makin kalian berantem, papa akan makin tegas,” ucap Pak Danu. “Kalian itu harusnya deket kayak saudara. Kenapa malah kayak air sama minyak?”

Biru menggeram. Keilana melirik Biru dengan benci.

“Sekarang kalian keluar. Papa lagi banyak urusan,” usir Pak Danu halus.

“Iya, Om. Permisi,” pamit Keilana langsung beranjak pergi.

Jujur, ia memang tidak ingin tinggal di situ. Tapi kelakuan Biru malah menantangnya untuk tetap masuk ke kandang singa. Ia tidak sudi diinjak-injak. Tidak sudi mengikuti perintah Biru. Semakin Biru menekannya, ia kian semangat untuk melawan. Persetan dengan antisosial atau apalah itu! Pokoknya sudah cukup ia dibully!

“Mau ke mana?”

Langkah Keilana terhenti.

“Mau balik apartemen?” tanya Riga lagi.

“Iya. Abis di sini ada anak dakjal!” sahut Keilana keras. Sengaja.

“Berarti bokap gue dajjal dong,” timpal Riga menyipitkan mata yang membuat Keilana buru-buru mengibaskan tangannya.

“Enggak, Kak! Om Danu mah baik banget! Beneran….”

Riga tersenyum manis. “Mau liat kamar lo nggak?”

“Eh? Boleh, Kak. Mau banget,” angguk Keilana penuh semangat.

“CAPER,” umpat Biru.

“’Rese!” balas Keilana mengacungkan kepalan tangannya.

Sebelum perang dunia ke sekian terjadi, cepat-cepat Riga menarik kerah baju Keilana dari belakang hingga gadis itu berteriak jengkel sambil berjalan mundur. Riga tidak melepaskan kerah itu sampai tiba di depan sebuah pintu.

“Nah,” ucap Riga melepas cengkeramannya. Ia membuka pintu. “Ini kamar lo.”

Wajah Keilana yang tadinya cemberut, langsung berubah drastis saat melihat penampakan kamarnya. Sangat sangat cantik dan indah. Berbeda dengan apartemen yang ia tata seadanya. Selera orang kaya memang beda….

“Cantik banget, Kak…,” takjub Keilana tanpa sadar memasuki ruangan itu. Matanya berbinar-binar melihat setiap sudut dan ornamen. “Sumpah…. Gila! Keren!”

“Suka?”

Keilana mengangguk kuat. “Suka banget!”

“Gue loh yang desain. Gue cuma punya waktu satu hari buat selesein kamar ini. Untung ada tukang-tukang yang mau lembur,” tutur Riga tersenyum bangga pada dirinya sendiri.

Hati Keilana menghangat mendengar pengakuan Riga.

“Kak Riga, makasih banget ya….”

“Santai aja. Gue emang suka seni. Jadi gue happy aja ngerjainnya.”

Tatapan Keilana kian mellow. “Bukan buat ini aja. Tapi buat semua kebaikan Kak Riga.”

Riga tertawa kecil. “Gue nggak bikin kebaikan yang gimana gimana deh.”

“Enggak, Kak. Enggak…. Dari pertama ketemu sampai hari ini, Kak Riga selalu baik. Selalu nolongin aku. Padahal aku bukan siapa-siapa.”

“Siapa bilang lo bukan siapa-siapa?”

“Ya nyatanya emang gitu….”

“Gue cuma berusaha sebaik yang gue bisa, nggak mandang apa dan siapa.”

“Kakak kenapa sih baik banget???”

“Nggak butuh alasan status sosial ekonomi untuk memanusiakan manusia. Kalo yang gue lakuin menurut lo baik banget, ya buat gue itu adalah keharusan. Emang kewajiban kita kan untuk berbuat baik?”

“Tapi nggak semuanya bakal ngebales kebaikan kita.”

“Iyap. Makanya jangan ngarep balas budi. Ikhlas bantuin orang. Gue percaya, hal-hal baik bakal tetap dateng dalam bentuk lain walaupun mungkin kebaikan kita nggak dihargai sama orang itu.”

Sejenak, Keilana termenung.

Perlahan ia tersenyum sambil kembali melihat-lihat kamar. Sebuah percakapan sederhana yang sangat membekas di pikirannya. Andai semua orang bisa berpikir seperti Riga, mungkin penjara akan kosong dan polisi menganggur. Tapi di sisi lain, pasti dunia akan terasa sangat monoton dan membosankan jika semuanya sama. Tidak ada variasi. Semuanya senada.

Hei, bukankah pelangi terlihat indah karena warna-warninya?

“Lo jangan pernah mikir kalo lo bukan siapa-siapa lagi, ya.”

Keilana menoleh. Mengerjap bingung yang membuat Riga tersenyum.

“Lo itu spesial.“

Tinggalkan Balasan Cancel reply