Mozaik 4 Bukan Pangeran

Sol sepatu putih yang beradu dengan lantai itu terdengar berderap-derap. Keilana melesat dengan wajah panik menuju kelas. Hari ini ia terlambat. Alasannya bukan karena bangun kesiangan atau kena macet. Ini semua gara-gara setoples selai coklat, roti, dan segelas susu di pagi hari. Rupanya perut jelata Keilana belum terbiasa menerima laktosa di pagi hari.

Mulas.

Lambungnya masih belum move on dari sepiring nasi dingin dan lauk seadanya pada fase kehidupan sebelum ini. Ia yang seharusnya bisa tiba tepat waktu, mendadak harus merelakan puluhan menitnya untuk bersarang di toilet. Dan inilah dia sekarang, berlari sepenuh jiwa dan raga agar tidak mendapatkan hukuman kedua. Please lah! Hukuman pertama saja belum beres!

Akhirnya ia tiba juga di depan kelas. Setelah mengambil jeda sejenak untuk mengatur napas, Keilana membuka pintu.

Brakkk!

“Hooooooo!!!”

Mendadak riuh. Mata seisi kelas membesar. Mata Keilana pun ikut membesar. Di hadapannya, seorang pemuda tampan berbaju putih memandangi dengan tatapan penuh amarah. Matanya berkilat-kilat. Tajam. Menusuk.

“Aduh! Maaf! Ya ampun, gue nggak sengaja!”

Suasana makin berisik setelah Keilana meminta maaf. 

“Lo lagi?” desis pemuda itu dingin.

“Eh, lo yang nolongin gue dulu kan?!” tunjuk Keilana lalu memandangi name tag pemuda itu. Bibirnya membulat. “Oh, jadi nama lo Biru? Lo kakak kelas gue?”

Pemuda itu tidak peduli. Ia memandang baju putihnya yang kotor dan Keilana bergantian. “Harga baju ini lebih mahal dari biaya hidup lo sebulan. Ngerti?”

“I-iya, gue minta maaf…,” ulang Keilana pelan.

“Permintaan maaf lo nggak bisa bikin baju gue bersih lagi.”

“Terus gue kudu gimana dong? Gue cuciin? Apa gue beliin deterjen? Tapi kan gue juga nggak tau lo ada di dalem. Lagian kenapa sih lo minum kopi sambil jalan?“

Tappp!

“Ikut gue!” perintah Biru mencengkeram tangan Keilana kuat-kuat.

“Awww! Sakit!” keluh Keilana berusaha melepas genggaman Biru.

“Bisa diem nggak?!” bentak Biru yang langsung berjalan keluar kelas sambil menarik tangan gadis itu dengan kasar. 

Suara tinggi Biru membuat Keilana menutup mulutnya rapat-rapat. Sakit? Iya. Masih. Namun ia memilih diam saat ini. Semua memang salahnya yang sudah terlalu ceroboh. Wajar jika Biru marah-marah. Tapi ia tahu kalau Biru itu orang baik yang sengaja Tuhan kirimkan untuk jadi malaikat penolongnya waktu itu.

Langkah keduanya terhenti di sebuah ruangan kosong. Sorot mata Keilana beredar. Ruangan itu berantakan. Buku dan kertas berceceran. Belum lagi beberapa kaos yang terlipat dan tergeletak begitu saja di kursi. Di dinding terlihat beberapa poster kegiatan dan susunan kepengurusan organisasi. Asumsinya, ia tengah berada di base camp organisasi saat ini.

Klik!

Biru mengunci pintu sehingga membuat Keilana terkejut dan menatapnya.

“Gue nggak akan minta lo gantiin baju yang udah lo kotorin. Gue tau lo terlalu miskin buat itu. Gue juga nggak akan maksa lo buat nyuciin baju ini. Gue nggak yakin cucian lo bersih. Ntar yang ada gue gatel-gatel,” ucap Biru tajam dan langsung menohok ulu hati Keilana.

Gadis itu menggigit bibir. Sakit hati? Jangan ditanya.

“Sebagai gantinya, lo harus bersihin ruangan ini sebulan penuh.”

Mata Keilana melebar. “Sebulan?!”

“Kenapa? Nggak mau?”

“Jangan sebulan dong….”

Biru menyilangkan tangannya di dada. “Dua bulan.”

“Hah?! Kok jadi nambah?!”

“Tiga bulan!”

“Loh?! Nggak bisa gitu dong—“

“Empat bulan!”

“Oke! Oke! Satu bulan!” teriak Keilana pasrah.

“Satu bulan, mulai hari ini. Lo inget,” ucap Biru dengan wajah dingin. Tiba-tiba ia membuka kaos putihnya yang membuat jantung Keilana nyaris melompat. Refleks, gadis itu berbalik dengan wajah memerah bak udang rebus.

“Mau apa lo?!” tanya Keilana panik.

“Ganti baju. Lo mau gue masuk angin?” balas Biru balik bertanya.

“Ya jangan di depan gue juga!”

“Ada pintu di depan lo. Siapa suruh lo berdiri aja di sini? Keenakan lo liat abs gue.”

Bibir Keilana mencebik. “Ya udah, gue keluar dulu!”

“Udah kelar. Refleks lo jelek banget. Pantesan dikeroyok preman,” ucap Biru terdengar sinis. Ia melewati Keilana lalu meletakkan kaos putih kotornya ke tangan gadis itu. “Ambil tuh.”

“Kok dikasih ke gue? Kata lo, mahal.”

“Gue nggak pake baju bekas tumpahan kopi,” jawab Biru singkat sambil membuka pintu.

“Tunggu!” tahan Keilana.

Biru berhenti dan menoleh padanya. “Apa?”

“Emmm…. Makasih udah nolongin gue dulu. Makasih juga bajunya.”

Seperti sebelumnya, Biru tidak peduli. Ia lebih suka melanjutkan langkahnya daripada harus terjebak di ruangan yang sama dengan Keilana. Dan seperti yang sudah-sudah pula, Keilana masih berkutat dengan imajinasi seputar pangeran penolongnya yang dingin tapi baik hati. Pertemuan pagi ini membuat imajinasinya semakin liar. Takdir telah membuatnya bertemu kembali dengan sang pangeran penolong yang tampan itu.

Keilana menggenggam kaos basah itu dengan kuat. Hatinya berdebar. Senyum tipisnya terbit. Manis, tapi penuh kehaluan tentang kisah seorang gadis miskin yang berjodoh dengan pangeran. Rupanya level kehaluan itu telah melampaui tingginya Monas.

“KEILANA!!! KEMBALI KE KELAS!!!”

Teriakan keras Biru meruntuhkan imajinasi gilanya.

♪♫♪

“Halo Kak Riga!”

Keilana berlari kecil. Menghampiri Riga yang duduk di kantin bersama seorang gadis cantik. Pemuda itu tersenyum sambil melambaikan tangannya. 

“Hei, darimana aja? Kok ngos-ngosan gitu?”

“Maaf telat, Kak. Aku habis dapet hukuman lagi,” ujar Keilana cengar-cengir. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Riga. Tapi tatapannya teralih pada gadis cantik di samping pemuda itu. Ia tersenyum. “Halo.”

“Zara,” ucap Zara tanpa ditanya. Ia melirik name tag di dada Keilana. “Nama lo Keilana?” 

“Iya, Kak.” Keilana mengangguk sebelum mengambil selembar map hijau dari dalam tasnya. Ia membuka map itu dan menyodorkannya pada Riga. “Ini, Kak Riga.”

“Resmi amat lo pake map segala.”

“Biar nggak dihukum lagi,” sahut Keilana tersenyum kecut.

“Gue bawa ya.”

“Eh? Tapi besok udah harus dikumpulin, Kak.”

“Besok tunggu gue di sini lagi. Kebetulan gue ada janji sama dosen pagi-pagi. Jadi lo harus ketemu gue sebelum masuk kelas. Gimana?”

Keilana mengangguk-angguk. “Iya deh.”

“Lo keliatan capek banget. Mending lo pulang. Besok tinggal terima beres,” senyum Riga yang seketika membuat Keilana meleleh.

“Kak… kamu kok baik banget sih? Aku jadi nggak enak loh….”

“Dia emang gitu, Kei. Lo santai aja,” sambar Zara ikut tersenyum tipis.

“Aku hutang budi loh jadinya sama Kak Riga….”

“Cuma tanda tangan doang. Gue nggak masalah kok,” ucap Riga menutup map. Ia melirik jam tangan kerennya. “Udah sore banget nih. Lo nggak balik? Gue mau pergi soalnya.”

Keilana mengangguk cepat.

“Iya, Kak. Aku juga mau balik. Hati-hati di jalan ya, Kak Riga. Dadaaahhh!”

Riga membalas lambaian tangan Keilana. Gadis itu beranjak pergi dengan wajah berseri-seri dan riang. Ekspresi yang membuat Riga terus memandangi sosok Keilana. Lekat hingga sosok itu menghilang dari jangkauan penglihatan Riga. Saking asyiknya mengikuti arah perginya Keilana, ia tidak sadar jika Zara mengawasinya sejak tadi.

“Lo kok mau-maunya bantuin anak baru?”

Senyum Riga terhenti. Ia meraih tas dan bangkit dari kursinya.

“Pulang sendiri apa nebeng?”

“Nebeng lah! Kan mobil gue di rumah lo,” sahut Zara terkekeh-kekeh sambil mengikuti langkah Riga yang cepat.

Riga memutar bola matanya dengan malas. “Lagian lo ngapain sih ninggalin mobil di rumah gue? Ada-ada aja lo.”

“Niat gue mulia kok. Daripada kita bawa mobil sendiri-sendiri yang isinya cuma sebiji, kenapa gue nggak manfaatin space di mobil lo? Kan lumayan buat mengurai kemacetan Jakarta. Gue juga jadi punya andil untuk mengurangi global warming dengan meminimalisir penggunaan bahan bakar.”

“Alesan lo logis, tapi gue nggak percaya.”

“Ihh…. Kenapa sih, Kak?!”

“Soalnya yang ngomong lo.”

“Emangnya gue kenapa?!”

Pipi Zara menggembung. Gelayutan manjalitanya di tangan Riga terhenti. Ia masuk ke dalam mobil masih dengan pipi menggembung seperti ikan buntal. Riga terlihat tidak terlalu peduli. Pemuda itu melempar tas dan map ke belakang. Map itu mengingatkan Zara pada satu pertanyaan yang belum dijawab oleh Riga.

“Kok lo mau bantuin Kei?”

“Kei?”

“Keilana. Kok dia berani nyuruh-nyuruh lo minta tanda tangan? Kok lo mau?”

“Tadi aja di depan Keilana, muka lo santai. Sekarang nyolot…,” sindir Riga sambil melajukan mobilnya.

Zara melempar pandangannya keluar jendela sambil berdehem kecil.

“Gue heran aja sih. Kok bisa sih seorang Auriga Kaivan yang anak pemilik kampus disuruh-suruh sama anak baru? I mean, can you see her face and outfit? She’s uhmm… different.

Helaan napas panjang Riga terdengar.

“Ya terus kenapa? Kita nggak boleh bantuin gitu kalo beda status sosial?”

“Enggak kok! Nggak apa-apa!” sambar Zara cepat. Seolah terdengar berusaha membuat Riga tidak salah paham dengan arah pertanyaannya tadi.

“Ya udah. What’s the matter then? Lagian gue nggak ngerasa disuruh. Dia minta tolong, ya gue bantuin. As simple as that, Zara….”

Zara membisu.

“Justru karena dia beda, gue jadi pengen bantuin dia,” sambung Riga tanpa diminta. Ia menaikkan kecepatan mobilnya. “Lo tau kan gimana reputasi dan biaya kampus kita? Masuk di kampus kita aja pasti udah jadi pressure buat dia. Gue nggak mau nambahin itu. Gue pengen dia ngerasa nyaman kuliah di sini. Biar nggak sia-sia kampus kita kasih beasiswa ke mahasiswa kurang mampu.”

Penjelasan Riga yang panjang itu membuat Zara tersenyum tipis.

“Dia anak beasiswa? Pinter dong. Tapi kok nggak keliatan pinter sih?”

“Well, we don’t know the truth. You can’t easily judge someone just based on their look.”

Bibir Zara mengerucut.

♪♫♪

Air di kolam renang itu beriak-riak dengan beberapa helai daun di atasnya. Seekor Norwegian Forest Cat melesat, memanjat pohon magnolia karena melihat seekor burung terbang di sana. Terlihat liar tapi anggun dengan bulu lebatnya yang halus. Lalu di sudut lain, ada tiga manusia berwajah memesona yang tengah berkumpul menikmati senja. Mereka adalah Riga, Biru, dan Zara. Salah satu di antaranya memegang map hijau dengan wajah tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Biru.

“Lo kenapa sih bantuin dia?”

Riga menatap Biru dan Zara dengan sorot mata bingung.

“Kalian kenapa sih? Tadi Zara, sekarang elo.”

Zara mengangkat bahunya, lalu menyesap orange juice dengan wajah tak peduli.

“Keenakan dia! Harusnya lo nggak usah bantuin anak baru!” ucap Biru lagi.

“Udahlah. Tanda Tangan aja.”

“Males.”

“Gue palsuin tanda tangan lo deh.”

“Gue hukum lagi dia besok!” balas Biru ketus.

Bibir tipis Riga membuka. “Oh, elo yang hukum Keilana hari ini?”

“Iyalah gue hukum! Dia udah numpahin kopi ke baju gue di depan kelas! Bikin gue tengsin aja anjir!” cerocos Biru melempar map itu ke meja.

Kisah singkat itu membuat Riga memijat kepalanya. “Masalah sepele nggak usah digedein. Kayak bocah aja lo. Tanda Tangan sekarang.”

“Nggak!”

“Tandatanganin suratnya nggak bikin tangan lo buntung.”

“Lo aja yang tandatangan,” ucap Biru kukuh dengan pendiriannya.

“Bener, ya? Besok lo nggak boleh protes. Lo nggak boleh hukum Keilana.”

“Serah lo. Lagian bukan gue yang kasih hukuman itu.”

“Duh!” Tiba-tiba Zara menyela obrolan itu. Gadis berambut brunette meletakkan gelasnya, kemudian berdiri. “Gue pulang aja deh. Capek gue denger kalian bahas Keilana terus.”

“Pulang aja. Siapa suruh lo di sini?” sambar Biru dengan wajah menyebalkan.

Zara melirik Biru dengan kesal. Ia melengos sambil menyambar kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat dengan wajah jengkel. Riga hanya menatap kepergian Zara dengan kepala menggeleng-geleng. Beda dengan Biru yang benar-benar tidak peduli. Pemuda bertubuh tinggi tegap itu berlari kecil menyusul kucing kesayangannya yang mengeong-ngeong. Rupanya si buntelan bulu kesayangannya itu tersangkut di dahan pohon magnolia.

“Nana! Nggak kapok-kapok ya kamu nyangkut!” tawa Biru meraih Nana dari dahan. Ia mengelus-elus perut Nana. “Kamu gendutan ya, Na?”

“Lo tau nggak lo dikatain apa sama anak baru?” ucap Riga tiba-tiba.

“Enggak.”

“Kelakuan lo kayak setan.”

“APA?!” Seketika mata Biru melotot. Nyaris saja ia melempar Nana ke kolam renang. Ia menghampiri kakaknya dengan wajah marah. “Siapa yang ngatain gue?! Keilana?!”

“Gue dapet kabar itu dari Keilana. Tapi bukan dia yang ngatain elo ka—“

“Wah! Muka dua bener tuh cewek! Awas aja kalo ketemu!”

1 thought on “Mozaik 4 Bukan Pangeran”

  1. Pingback: Manoj Punjabi - BiruLana

Tinggalkan Balasan Cancel reply