Mozaik 6 Aku, Kamu, dan Spanduk

Masih ingat dengan tragedi kaos putih Gucci mahal yang ketumpahan kopi?

Hari ini Keilana mengenakan kaos itu dengan wajah ceria. Ia tidak peduli betapa kebesarannya kaos itu di badannya. Ia benar-benar tidak ambil pusing dengan tatapan orang lain. Sepanjang hari, wajahnya berseri, merona-rona karena si kaos itu. Lebih tepatnya karena si pemilik terdahulu kaos itu.

“Halo,” sapa Keilana membuka pintu sebuah ruangan.

Sunyi. Hanya ada alat-alat musik menganggur di sana. Mata Keilana mengerjap. Ia memasuki ruangan dengan hati-hati dan menyalakan lampu. Di dinding, tertulis pengumuman bahwa latihan hari ini diganti ke hari lain.

“Yah…,” gumam Keilana kecewa.

“Ngapain lo di sini?”

Refleks, gadis itu menoleh. Di belakangnya, Biru berdiri dengan wajah dingin.

“Gue mau ikut UKM musik,” jawab Keilana cepat.

Biru memandang sinis. Objek fokusnya berpindah pada kaos putih Keilana.

“Siapa suruh lo pake kaos bekas gue?”

“Eh? Itu… soalnya baju lo bagus. Enak di badan.”

“Siapa suruh lo pake kaos bekas gue?” ulang Biru.

Keilana terlihat bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Lo kan udah kasih buat gue. Jadi harusnya terserah gue kan mau diapain.”

“Lepas. Buang ke tong sampah.”

“Hah?!” Keilana melotot. “Nggak mau! Gue nggak ada baju ganti.”

Pemuda itu berdecak kesal. Ia berlalu dari hadapan Keilana. Tangannya menyambar spanduk acara musik yang terlipat di meja. Ia kembali sambil melempar benda itu ke wajah Keilana. Gadis manis itu mengaduh. Matanya memerah dan berair karena bergesekan dengan spanduk. Dikucek-kucek matanya hingga semakin merah.

“Lepas kaos lo. Sekarang,” perintah Biru dingin, sama sekali tidak peduli pada Keilana yang matanya berair.

“Lo kenapa sih?” tanya Keilana menghentikan kucekannya. Ia berkedip-kedip, berusaha menyamankan matanya yang masih terasa perih. “Lo jahat banget sih nyuruh gue pake kain begini.”

“Nggak usah sok polos lo.”

“Sok polos gimana? Gue nggak ngerti.”

“SATU!”

“Jangan gini dong. Kalo mau kaosnya dibalikin, gue balikin besok. Nggak gini caranya.”

“DUA!”

“Emang lo mau apain gue kalo itungannya kelar?”

Biru berhenti menghitung. Ia menyeringai. “Gue ambil lagi spanduknya dan lo tetep harus buang kaos itu. Ngerti?”

Sontak gigi Keilana bergemerutuk. Tatapan matanya berubah tajam. Sangat terlihat wajahnya mulai memerah. Bukan karena malu, tapi karena mulai menahan kesal.

“Lo tau nggak? Sejak lo nolongin gue, gue kira lo tuh orang baik. Malaikat penolong yang Tuhan kirimin buat gue. Sampe kemaren aja gue masih mikir lo tuh baik. Gue sampe berdoa biar bisa ketemu lagi sama lo. Jujur, gue juga sempet kagum sama lo. Sempet mikir kalo lo itu pangeran. Gue salah ternyata….”

“Siapa suruh lo mikir gitu? Gue kan udah bilang, gue nggak nolongin lo. Lo nya aja yang kegeeran.”

Keilana menatap Biru dengan tatapan nyalang. Makin lama ia bicara dengan pemuda itu, tekanan darahnya terasa semakin meninggi. Napasnya terdengar sedikit lebih cepat dari biasanya. Sepertinya sebentar lagi emosi itu akan meledak mengalahkan dahsyatnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Namun sebelum itu terjadi, Keilana memilih untuk melengos. Pergi menjauh dari hadapan Biru dengan membawa spanduk yang terlipat di tangannya.

Seringai puas Biru mengikuti kepergian gadis itu. Tangannya terlipat di dada dengan gaya congkak. Ia masih berdiri di sana, menanti kedatangan Keilana dari toilet—beserta kaos putih yang jadi pemicu pertengkaran itu. 

Lama. Lamaaa sekali Biru menunggu.

Ia tersenyum miring sambil melirik jam tangan mahalnya. Sudah hampir 15 menit berlalu, tapi tidak ada tanda kehadiran gadis itu. Perlahan senyum itu lenyap.

Jangan-jangan….

Tanpa pikir panjang, ia melesat ke toilet wanita dan memasuki tempat haram itu dengan wajah tanpa dosa. Sama sekali diabaikannya tatapan aneh dari dua mahasiswi di sana. Yeah, mereka pun tidak akan berani menegur karena tahu siapa Biru. Maka Biru pun dengan leluasa mengetuk pintu toilet, satu demi satu.

Kosong.

Tangan Biru mengepal. Shit! Bisa-bisanya ia dibodohi oleh gadis murahan itu!

Ia keluar dari toilet wanita dengan darah mendidih. Langkahnya terayun cepat menuju ruang himpunan mahasiswa jurusan. Setiba di sana, ia menyambar kertas dan pulpen di meja sebelum membanting pantatnya di kursi samping Jeno.

Jeno memperhatikan tingkah laku Biru yang sejak tadi aneh. Teman sekelasnya itu hanya duduk dengan wajah tertekuk sambil menusuk-nusuk kertas menggunakan pulpen. Kertas itu sudah bolong sana sini, tapi sama sekali tidak ada tanda kalau Biru akan berhenti. Tangan pemuda itu terangkat dan bersiap menusuk lagi. 

Plop!

Ujung pulpen itu menancap di meja kayu. Karier penusukan kertas Biru pun terhenti. Ia menatap Jeno yang telah lancang menarik kertasnya.

“Lo kenapa?”

Bisu.

Biru mencabut pulpen, lalu melemparkannya ke tempat sampah. Belum puas dengan itu, Biru merebut kembali kertas tadi. Sekarang kertas itu bernasib lebih tragis lagi. Sudah ditusuk-tusuk, eh ujung-ujungnya diremas dan dilempar ke tempat sampah. Jeno hanya menghela napas melihat kelakuan temannya itu. Lima tahun mengenal Biru tidak membuatnya terkejut menghadapi ini. Ia tidak heran. Sungguh.

“Kenapa nyokap bokap lo cerai?”

Pertanyaan absurd Biru membuat Jeno sedikit terkejut. Ia tertawa kecil.

“Nyokap khianatin bokap.”

“Nyokap lo punya sugar baby?”

Jeno mengedikkan badannya. “Nggak tau.”

“Lo nggak cari tau?”

“Nggak pengen. Prinsip gue sih mending diem aja daripada mencari tahu. Buat apa kalo ujung-ujungnya nyakitin hati?” ucap Jeno tersenyum getir. Ia menatap Biru dengan penasaran. “Bokap nyokap lo nggak kenapa-kenapa, kan?”

Biru menggeleng.

“Jangan sampe nyokap lo kayak nyokap gue. Mainannya udah level cewek cakep. Pantesan gue jomlo. Cewek cantiknya diembat sama nyokap,” sambung Jeno tertawa kecut.

“Nyokap gue straight,” sahut Biru datar. “Btw, lo yang kasih hukuman buat Keilana?”

Anggukan Jeno menjawab rasa penasaran Biru. Namun rasa penasaran itu tidak berhenti sampai di sana. Ada beberapa hal yang ingin ia pastikan tentang Keilana untuk memperkuat hipotesis Zara semalam.

“Dia anak beasiswa, ya?”

“Iya.”

“Beasiswa yang mana? Olahraga? Akademik? Musik?” kejar Biru.

“Yang gue baca sih, beasiswa khusus dari rektor. Kayaknya bokap lo yang masukin,” sahut Jeno sambil meraih botol minuman isotoniknya.

“Shit!” umpat Biru tiba-tiba.

“Kenapa sih lo? Peduli amat sama anak baru? Serius, bukan lo banget.”

“Kenapa lo baru ngasih tau gue?!”

“Lo nggak nanya.”

Iiissshhhh! Jawaban klasik tapi memang benar adanya. Jeno tahu kalau Biru bukan tipe orang yang akan peduli dengan identitas mahasiswa baru, apalagi jalur masuk universitas. Biru lebih suka berbicara tentang Nana (sang kucing kesayangan) yang ketahuan kabur, lalu kawin silang dengan kucing kampung. Peduli pada orang baru tidak pernah ada dalam kamus kehidupan Biru. Lebih baik ia berbicara seharian dengan kucing daripada harus menyapa orang lain dengan wajah manis yang palsu.

Suara pintu yang terbuka membuat perhatian Jeno teralih. Di sana, Zara berdiri dengan senyuman terbaik yang ia miliki. Cantik. Manis. 

“Biru, balik yuk.”

Biru berdecak kesal dan bangkit dengan malas-malasan.

“Rahasiain yang tadi,” bisiknya pada Jeno sebelum beranjak keluar menyusul Zara.

♪♫♪

Hari sudah mulai gelap. Matahari telah tergelincir di barat. Meninggalkan jejak twilight yang menyapu gedung-gedung berjendela kaca di ibukota. Hari ini terasa lengkap karena Keilana telah mengunjungi makam ayahnya. Wajahnya yang tadi kesal, perlahan melunak sepulang dari pemakaman. Namun itu tidak berlangsung lama. Saat melihat spanduk sialan itu, wajah Keilana kembali tertekuk.

Pak Danu memperhatikan Keilana yang sejak tadi diam sambil meremas-remas spanduk. Mata jelinya tentu tidak luput dari brand kaos yang dikenakan gadis itu. Itu brand mahal. Beliau tahu pasti harga kaos itu, di atas sepuluh juta. Tapi bukan itu yang ingin Pak Danu tanyakan.

“Kamu pegang apa, Keilana?” selidiknya penasaran.

“Spanduk,” jawab Keilana singkat.

“Ada acara kampus? Hebat ya kamu sudah aktif. Dipercaya mengurus acara lagi,” puji Pak Danu yang membuat Keilana menyengir. Bukan begitu kenyataanya, Pak….

“Iya, Pak,” sahut Keilana memilih mengiyakan saja.

“Om,” ralat Pak Danu.

“Eh iya, Om. Hehehe,” sambar Keilana cepat sembari terkekeh. Ia melongok ke jalanan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu saat melihat pusat perbelanjaan dari kejauhan. Tatapannya teralih pada Pak Danu dan berkata, “Om, saya turun di mall depan aja, ya. Mau beli buku.”

Pak Danu mengangguk. “Pak Sopyan, Berhenti di mall, ya.”

“Turunin Neng Keilana aja apa kita ikut masuk, Pak?” tanya Pak Sopyan—driver.

“Keilana,” ucap Pak Danu memandang Keilana. “Om nggak bisa ikut. Jadi kamu sendiri dulu, ya? Uang untuk beli buku ada?”

Cepat-cepat Keilana mengangguk. “Iya, Om! Nggak apa-apa kok! Om pasti capek, kan?”

“Uangnya masih?” ulang Pak Danu.

“Masih banyak, Om.”

Lelaki separuh baya itu merogoh ponsel dan mengetik sesuatu. Tak lama kemudian, ia tersenyum seraya menunjukkan sesuatu di layar ponselnya. Seketika, Keilana membelalak.

“Sudah ditransfer lima juta untuk beli buku. Kalo kurang, telpon. Nanti Om transfer lagi.”

“Om Danu, beneran deh…. Nggak usah repot-repot, Om. Saya jadi nggak enak.”

“Om kan sudah bilang sejak awal. Kamu tanggung jawab Om sekarang. Buku kan bagian dari perkuliahan juga. Om harap, kamu bisa kuliah dengan baik dan lulus cumlaude. Karena itu, Om akan berusaha sebaik mungkin untuk pendidikan kamu. Mengerti, Keilana?” ucap Pak Danu lembut, berusaha memberikan pengertian pada Keilana.

Akhirnya Keilana mengangguk pasrah dan tanpa suara. Membisu hingga mobil mewah itu tiba di lobi mall Grand Indonesia. Ia keluar dari mobil, lalu tersenyum dan melambaikan tangan pada Pak Danu.

“Pulangnya jangan malam-malam. Hati-hati,” pesan Pak Danu sebelum kaca tertutup.

Keilana mengangguk. Gadis berambut panjang itu berbalik dan memasuki mall. Tentu saja dengan wajah yang melongo. Jujur saja, ini pertama kalinya ia memasuki mall sebesar itu. Sok sekali ia minta turun di pusat perbelanjaan. Berlagak seperti orang yang sudah biasa datang ke sana. Padahal….

“Aduh, gue di mana sih ini?” gumam Keilana kebingungan.

Ia berjalan tanpa arah. Lebih tepatnya sih, tidak tahu arah. Mall itu terlalu besar dan modern untuk seorang Keilana. Sejak tadi ia hanya berjalan mondar-mandir di lantai tiga, berhenti sebentar, lalu berjalan lagi. Tidak jelas? Memang.

Akhirnya ia menyerah. Duduk bersandar di dinding dengan wajah memelas. Kalau bukan karena kaos putih bermerk itu, orang-orang pasti akan memandang sinis. Menganggapnya orang udik yang nyasar ke peradaban modern. Faktanya begitu bukan? Our cover does matter. Meskipun quote don’t judge the book by its cover sering digaungkan, realitanya masih saja begini.

“Loh? Kei?”

Keilana mengangkat kepalanya. Mata jernihnya membulat. “Kak Riga?”

“Lo ngapain di situ? Bangun!” tawa Riga yang membuat wajah Keilana memerah.

Cepat-cepat, Keilana berdiri sambil cengar-cengir. “Hei, Kak. Kakak ngapain di sini?”

“Ada yang mau gue beli. Lo kenapa sih ngedeprok gitu? Kayak orang susah aja.”

Bibir Keilana mengerucut sambil mendekap spanduk.

“Emang lagi susah, Kak Riga. Aku tuh mau beli buku. Katanya di lantai tiga. Tapi dari tadi aku nyari, nggak ketemu. Pegel kakiku.”

Tawa kecil Riga terdengar lagi. “Ini kan West Mall, Kei. Toko bukunya di East Mall.”

“Hah? Maksudnya?”

Riga menghela napas.

“Bareng aja deh. Gue juga mau ke sana,” ucap Riga yang langsung disambut anggukan Keilana. Tiba-tiba fokusnya teralih pada spanduk di tangan gadis itu. Riga menunjuknya. “Lo bawa apaan?”

“Spanduk dari ruang musik,” jawab Keilana dengan wajah polos.

Spontan mata Riga membesar.

“Lo ngapain bawa spanduk ke sini?!”

“Gara-gara Kak Biru….”

Mendengar nama itu, daun telinga Riga terasa terbuka lebar. Ia jadi penasaran, apa yang telah diperbuat Biru pada Keilana? Namun ia berlagak biasa saja sambil memberi isyarat pada gadis itu.

“Ceritanya sambil jalan, yuk.”

Keilana mengangguk dan mengikuti langkah Riga menuju East Mall. Sepanjang jalan, bibirnya tidak henti berceloteh. Berkicau tentang Biru, mulai dari kisah awal pertemuannya dengan pemuda jutek itu hingga tragedi spanduk hari ini. Tidak ketinggalan soal kekagumannya pada ketampanan Biru yang mampu melelehkan hati.

Kicauan Keilana tentang Biru membuat Riga berpikir keras. Sebagai kakak seorang Biru, ia tahu pasti jika adiknya itu tidak akan diam saja melihat Keilana. 

“Padahal aku udah kagum banget loh sama Kak Biru. Dia kan udah nolongin aku. Mana ganteng, baik lagi—“

“Gue juga ganteng, kan?” sela Riga yang membuat Keilana kelimpungan.

“I-iya! Kak Riga ganteng kok!” sahut Keilana tergagap-gagap.

“Gue sama Biru gantengan siapa?”

Keilana menggaruk tengkuk. Pertanyaan yang terlalu sulit sepertinya.

“Hahaha! Nggak usah dijawab. Becanda doang. Lagian nggak penting siapa yang lebih ganteng. Itu kan relatif,” tawa Riga menunjuk ke depan. “Tuh toko bukunya.”

Kicauan itu terhenti. Mata Keilana berbinar-binar melihat toko buku besar di hadapannya. Dengan semangat 45, ia melesat masuk. Diikuti oleh Riga yang terpaksa melangkah lebih cepat untuk menyusul gadis itu.

“Lo mau cari buku apa?” tanya Riga melihat-lihat judul buku di rak.

“Banyak sih, Kak. Mau cari buku Bahasa Inggris, kamus, sama buku tentang manajemen gitu. Sekalian sama buku motivasi deh.”

“Gue temenin deh daripada lo nyasar,” ucap Riga terkekeh.

“Makasih Kak,” senyum Keilana. “Kak Riga mau cari buku apa?”

“Gue mau beli gitar.” Jawab Riga.

Tangan Keilana sibuk memilih-milih kamus. “Bisa main gitar juga?”

“Juga? Lo bisa?” Riga balik bertanya.

“Bisa dong. Kan aku ngamen dulu,” sahut Keilana bangga.

Nyaris saja tawa Riga meledak ketika gadis itu membanggakan pekerjaan mengamennya. Bukan tertawa merendahkan, tapi karena merasa Keilana itu lucu dan polos. Gadis itu terlihat seperti tipe orang yang biasa bersyukur untuk hal-hal kecil.

“Bisa ajarin gue main gitar?” ucap Riga mengambil satu kamus dan menyerahkannya pada Keilana. “Kamus ini paling recommended.”

“Makasih. Bukannya Kak Riga bisa?”

Riga menggeleng. “Gue baru mau belajar. Kalo main piano, gue sih bisa.”

“Jadi kangen ngamen…,” gumam Keilana.

“Ngamen sama gue deh.”

Spontan Keilana tertawa pelan. Ia mengambil satu buku tentang grammar di rak sebelum berjalan menyusuri rak lain. Riga hanya tersenyum kecil sambil menyambar satu buku bersampul hijau bunga-bunga. Kemudian ia menjejali tangan Keilana dengan buku itu.

The Things You Can See Only When You Slow Down…,” baca Keilana kaku.

“Buat lo. Ntar gue bayarin.”

“Semuanya?”

“Nggak. Buku yang ijo doang,” sahut Riga dengan kekehan khasnya.

Keilana tersenyum. “Makasih. Kak Riga beneran mau ngamen sama aku?”

“Nggak. Becanda doang. Gue belum lancar main gitarnya. Kan gak lucu kalo gue ngangkat-ngangkat grand piano di jalan buat ngamen.”

“Lagian konglomerat kayak Kak Riga kan nggak mungkin mau ngamen. Kurang kerjaan banget deh,” sambar Keilana yang membuat mata Riga membesar.

“Tau darimana lo kalo gue ini konglomerat? Gue biasa aja kok orangnya.”

“Kak, se-Jakarta juga tau biaya kuliah di kampus kita. Kalo nggak beneran tajir, nggak bakal bisa deh kuliah di situ. Modelan kayak aku nih ya cuma bisa berharap ada keajaiban buat dapet beasiswa. Ada duit buat makan aja udah syukur banget.”

“Yang tajir bokap nyokap gue kali, Kei. Gue mah biasa aja. Masih merintis usaha. Masih bantuin bisnis bokap.”

“Ya udah, iyaaa,” ucap Keilana mengalah. Namun sejurus kemudian ia kembali angkat bicara. Kali ini wajahnya terlihat lebih serius. “Eh, tapi Kak Riga nggak apa-apa emang temenan sama aku?”

“Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?”

Keilana menggeleng.

“Makasih udah mau temenan sama aku,” ucapnya.

Mata bulat itu kembali fokus ke rak demi rak. Sok sibuk mencari buku yang ia butuhkan. Sesekali Riga menyodorkan buku yang ujung-ujungnya Keilana kembalikan ke rak—dengan wajah masam. Tolong ya… ia tidak butuh buku tentang panduan kehamilan atau buku mewarnai untuk toddler!

Entah sudah berapa puluh menit keduanya menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan itu. Pemberhentian terakhir mereka adalah sebuah gitar akustik yang harganya membuat Keilana nyaris pingsan. Beda dengan Riga yang menyodorkan black card dengan satu kurva manis di bibir. Ujung-ujungnya Riga lah yang membayar semua belanjaan malam itu. Dan ketika gitar itu berpindah ke punggung Riga, level ketampanan pemuda itu meningkat 30%. Dari 100% menuju ke angka 130%. Keilana memandang Riga dengan takjub. Perfecto!

“Lo tinggal di mana? Gue anter.”

Fokus Keilana buyar. “Aku naik ojek aja.”

“Udah malem. Gue nggak yakin lo bisa pulang sendirian. Masuk mall aja nyasar.”

“Dibahas lagi….”

Riga tertawa renyah. “Hayok deh bareng. Gue mau tau tempat tinggal lo. Biar gue gampang nemuin lo kalo mau latihan gitar.”

“Kak Riga serius mau aku ajarin?”

“Iya. Lo ada waktu, kan?”

“Buat Kak Riga yang baik hati, aku usahain deh.”

“Nah, gitu dong…,” senyum Riga lalu berpose di depan Keilana. Ia bertanya dengan percaya diri. “Gue keren nggak?”

Jempol Keilana mengacung. “Keren banget.”

“Pulang nyok!”

Hari yang tidak terduga oleh Keilana dan Riga. Mereka tidak tahu, kelak kisah hari ini akan jadi kisah yang panjang. Sangat panjang dan cukup rumit. Yang mereka tahu, malam ini mereka duduk bersama dalam satu mobil. Bercakap dan bercanda ria, melupakan segala kepenatan hari ini. Mentertawakan hal kecil seperti Riga yang pernah terbirit-birit dikejar monyet di Bali atau Keilana yang pernah iseng minum susu kucing langsung dari induknya. Di sisi lain, Riga masih menyimpan baik-baik fakta bahwa dia adalah anak pemilik kampus karena alasan mulia. Ia tidak ingin Keilana merasa insecure. Lagipula Riga ingin ada yang tulus berteman dengannya tanpa memandang harta.

Sementara itu, Keilana pun bungkam. Pura-pura tidak tahu menahu soal Riga. Keilana tidak mau Riga berpikir kalau ia berteman dengan pemuda itu karena harta atau popularitas. Ia hanya ingin mencoba memiliki teman. Sesederhana itu saja.

Sungguh kebohongan yang manis.

BiruLana

1 thought on “Mozaik 6 Aku, Kamu, dan Spanduk”

  1. Pingback: Manoj Punjabi - BiruLana

Tinggalkan BalasanCancel reply